AKSI – Mama-mama Orang Asli Papua (OAP) menggelar aksi protes di Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, SP 3, Senin (2/11/2026). (FOTO: IST/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id – Puluhan mama-mama Orang Asli Papua (OAP) menggelar aksi damai di Kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Mimika, SP 3, Senin (2/11/2026). Mereka memprotes pembongkaran belasan lapak jualan di Jalan Cenderawasih, tepat di depan Perumahan Pemda Mimika, SP 2, yang dinilai dilakukan secara tidak adil.

Aksi tersebut merupakan buntut pembongkaran lapak milik mama-mama OAP oleh personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Mimika pada Jumat (30/10/2026).

Massa menilai penertiban itu terkesan pilih kasih karena lapak pedagang non-OAP di kawasan yang sama disebut masih dibiarkan berdiri dan beroperasi.

“Kenapa yang dibongkar hanya lapak mama-mama OAP saja, sedangkan yang pendatang dibiarkan dan tetap jualan sampai hari ini?” tanya perwakilan mama-mama OAP, Tresia Magai, saat berorasi.

Tresia mengatakan, pembongkaran lapak tersebut tidak didahului pemberitahuan maupun sosialisasi kepada para pedagang. Padahal, menurutnya, mama-mama OAP memahami dan mendukung upaya pemerintah daerah dalam menata kawasan kota.

Namun, ia meminta agar penataan dilakukan secara adil dan humanis, dengan mempertimbangkan keberlangsungan ekonomi para pedagang kecil.

Pemerintah daerah juga diminta menyediakan lokasi khusus untuk berjualan, memberikan solusi atas lapak yang dibongkar, serta menyiapkan bantuan usaha.

“Mama-mama OAP yang jualan di sana kebanyakan berstatus sebagai janda. Mereka berusaha membiayai kebutuhan rumah tangga, menyekolahkan anak, dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Kami setuju dengan upaya penataan kota, tapi kenapa tanpa adanya pemberitahuan? Seharusnya Pemkab siapkan lahan khusus dan beri bantuan usaha,” tegasnya.

Ia menambahkan, sebagian besar mama-mama OAP hanya menjual hasil kebun seperti jagung dan pinang.

Sementara itu, menurutnya, sejumlah pedagang pendatang juga menjual hasil kebun khas Papua sehingga mama-mama OAP merasa perlu mendapat perhatian dan perlindungan terhadap sumber mata pencaharian mereka.

Tuntutan serupa disampaikan sejumlah tokoh yang mendampingi aksi, di antaranya intelektual Yosias Kum, tokoh pemuda Yoki Sondegau, dan perwakilan masyarakat OAP, Rummy Tebul. Mereka meminta Pemkab Mimika menerapkan penertiban secara adil serta memperhatikan keberlangsungan ekonomi masyarakat asli Papua.

Berdasarkan pantauan di lapangan, massa awalnya mendatangi Kantor Dinas Satpol-PP sekitar pukul 09.00 WIT. Namun, mereka belum dapat bertemu langsung dengan Kepala Dinas Satpol-PP Mimika, Yulius Koga.

Massa kemudian bergerak menuju teras Gedung A Kantor Pusat Pemerintahan Mimika untuk melanjutkan penyampaian aspirasi. Mereka meminta penjelasan mengenai dasar dan alasan pembongkaran lapak yang dinilai hanya menyasar pedagang mama-mama OAP.

Hingga berita ini ditulis, perwakilan massa akhirnya diterima Sekretaris Satpol-PP Mimika, Selvina Desy R. Suru, didampingi sejumlah personel Satpol-PP.

Aksi berlangsung kondusif dengan pengawalan personel Polsek Kuala Kencana yang dipimpin Kapolsek AKP Djemy Reinhard. (via)