KERJA SAMA – Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi’i, bersana Ketua Umum Pertapindo, Sri Rahardjo, M.Eng.Sc., serta Plh. Kepala BPBD Mimika Fransiskus Bokeyau dan Kepala Kantor SAR Timika, I Wayan Suyatna menunjukkan nota kesepahaman usai penandatangan di Kantor SAR Timika, Minggu (1/11/2026). (FOTO: SELVY/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperkuat sinergi penanganan kondisi darurat melalui kerja sama dengan Perhimpunan Tanggap Darurat di Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (Pertapindo) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mimika.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Basarnas dan Pertapindo, serta Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika dengan BPBD Mimika di Kantor SAR Timika, Minggu (1/11/2026).

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafi’i, mengatakan kerja sama dengan Pertapindo sebenarnya telah terjalin cukup lama. Melalui penandatanganan MoU tersebut, kolaborasi kedua pihak diperkuat secara kelembagaan agar kegiatan di bidang pencarian dan pertolongan dapat dikembangkan lebih terarah.

“Hubungan kerja sama ini sebenarnya sudah terjalin cukup lama sejak adanya Pertapindo. Kita juga selalu bersinergi dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan potensi rescue,” ujarnya.

Salah satu fokus kerja sama adalah peningkatan kompetensi personel penyelamat dari perusahaan pertambangan dan energi.

Basarnas bersama Pertapindo akan mendorong perusahaan yang masih memiliki kesenjangan kompetensi agar dapat meningkatkan kemampuan personelnya sesuai standar.

“Pertapindo akan berkoordinasi dengan Basarnas untuk mendorong bersama-sama perusahaan-perusahaan yang memiliki gap kompetensi cukup jauh agar kita akselerasi untuk memiliki kemampuan yang standar,” jelas Syafii.

Ia juga menyoroti tantangan geografis Papua yang memiliki kawasan pegunungan ekstrem dan jurang curam. Kondisi tersebut membuat sejumlah operasi SAR membutuhkan dukungan transportasi udara.

Menurutnya, penguatan SAR ke depan tidak hanya berfokus pada penambahan sarana dan prasarana, tetapi juga pengembangan kantor serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pemanfaatan fasilitas yang dimiliki perusahaan juga berpotensi mendukung pelaksanaan operasi kemanusiaan.

Ketua Umum Pertapindo, Sri Rahardjo, M.Eng.Sc., mengatakan Pertapindo merupakan asosiasi profesi yang menghimpun tenaga penyelamat dari berbagai perusahaan, khususnya sektor pertambangan dan energi.

Ke depan, cakupan organisasi juga direncanakan diperluas ke sektor industri lainnya.

Ia menyebut kerja sama dengan Basarnas menjadi langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi tenaga tanggap darurat yang dimiliki perusahaan.

“Kami bersinergi dalam rangka menggali potensi tenaga ketanggapdaruratan dan mengoptimalkannya melalui kerja sama dengan Basarnas,” katanya.

Sri menjelaskan, kontribusi Pertapindo tidak hanya dalam operasi pencarian dan pertolongan, tetapi juga melalui pelatihan bersama di perusahaan-perusahaan pertambangan dengan koordinasi Basarnas. Salah satunya melalui penyelenggaraan Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) 2026 di PT Freeport Indonesia sebagai wadah pengembangan kemampuan dan pertukaran pengalaman antarpersonel penyelamat.

Selain itu, Pertapindo memiliki program edukasi keselamatan melalui SAR Goes to School, SAR Goes to Campus, dan SAR Goes to Community.

Dalam MoU tersebut, ruang lingkup kerja sama meliputi operasi dan latihan SAR, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan sumber daya, edukasi keselamatan, pertukaran data dan informasi, serta kegiatan lain yang disepakati kedua pihak. Kesepakatan ini berlaku selama lima tahun.

Sementara itu, PKS antara Kantor Pencarian dan Pertolongan Timika dan BPBD Mimika difokuskan pada operasi SAR dalam penanganan keadaan darurat bencana hidrometeorologi serta kondisi yang membahayakan manusia di Kabupaten Mimika.

Kerja sama yang berlaku selama tiga tahun tersebut mencakup pertukaran data dan informasi, pemanfaatan sumber daya, pelatihan dan simulasi bersama, edukasi mitigasi, hingga dukungan logistik.

Melalui kedua kerja sama tersebut, koordinasi antarlembaga dan pemanfaatan sumber daya diharapkan semakin kuat sehingga penanganan keadaan darurat dan operasi pencarian serta pertolongan di Mimika dapat berjalan lebih cepat, terpadu, dan efektif. (*)

Penulis: Selvy Warwuru
Editor: Maurits SDP