FOTO: IST/TIMEX.,
Benediktus Omoroko
Sebuah surat terbuka datang dari pinggiran Sungai Ajkwa, Mimika. Penulisnya Benediktus Omoroko, siswa SMK Tunas Bangsa Pariwisata Timika.
Rabu (16/9/2026), Benediktus melayangkan surat terbuka kepada para pemegang kebijakan di Timika, Pemerintah Provinsi Papua Tengah hingga pemerintah pusat.
Surat itu bukan sekadar keluhan. Benediktus menuliskan kisah tentang dirinya yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah untuk mendulang emas tradisional di pinggiran Sungai Ajkwa.
Alasannya sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang lebih besar.
Ia tidak memiliki uang untuk membeli baju olahraga dan baju batik yang menjadi kebutuhan sekolah.
Dalam suratnya, Benediktus menuliskan kisah seorang anak SMA di Timika yang membiarkan bangkunya kosong.
Bukan karena tidak ingin sekolah, tetapi karena harus meminta izin untuk pergi mendulang.
Ia mendulang bukan untuk membeli sepeda motor atau telepon seluler mahal.
Ia hanya ingin mendapatkan uang untuk membeli baju olahraga dan baju batik agar bisa kembali bersekolah seperti anak-anak lainnya.
“Ini Timika. Tanah yang katanya surga, tanah yang penuh susu dan madu. Dari tanah ini, berton-ton emas dikirim ke seluruh dunia. Dunia tahu betapa kayanya tanah ini,” tulis Benediktus.
Di tengah kekayaan alam tersebut, ia mempertanyakan mengapa seorang anak harus turun ke lumpur untuk mendapatkan biaya membeli seragam sekolah.
Benediktus kemudian menitipkan sejumlah pertanyaan kepada pemerintah.
Apakah negara sudah hadir untuk anak-anak seperti dirinya? Apakah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dana Otonomi Khusus (Otsus), serta program pendidikan gratis sudah benar-benar dirasakan hingga kebutuhan dasar siswa?
“Pak, Bu, tolong lihat dia. Jangan hanya lihat angka laporan di atas meja,” tulisnya.
Bagi pemerintah, satu baju olahraga dan satu baju batik mungkin bukan angka besar dalam anggaran.
Namun bagi Benediktus, pakaian tersebut menentukan apakah ia dapat kembali ke sekolah atau justru semakin jauh dari bangku pendidikan.
Melalui surat terbuka itu, Benediktus menitipkan tiga pesan kepada pemerintah.
Pertama, datang dan lihat langsung anak-anak seperti dirinya.
Kedua, memastikan tidak ada lagi anak di Timika yang harus mendulang hanya untuk membeli seragam sekolah.
Ketiga, membuat bantuan pendidikan benar-benar nyata dan dirasakan hingga kebutuhan dasar siswa, termasuk pakaian yang mereka kenakan ke sekolah.
“Jangan biarkan emas di perut bumi lebih berharga daripada emas di dalam kelas, yaitu anak-anak kita,” ungkapnya.
Surat terbuka tersebut akhirnya menjadi cermin dari persoalan yang dialami Benediktus sendiri.
Siswa asli Kamoro itu menulis tentang seorang anak yang harus meninggalkan sekolah demi mendulang emas.
Namun, anak yang dimaksud dalam surat itu ternyata adalah dirinya sendiri. S(via)








Tinggalkan Balasan