PASAR LAMA — Pedagang lokal menjajakan sayuran dan hasil kebun di Pasar Lama Mimika di tengah kendala panen akibat cuaca panas. (FOTO: YUDIT/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id — Aktivitas jual beli di Pasar Lama Mimika tetap berlangsung ramai.

Di antara deretan lapak sederhana, mama-mama Papua menawarkan sayuran segar dan umbi-umbian yang sebagian besar dibawa langsung dari kebun.

Sawi, bayam, serta berbagai jenis umbi tersusun di atas lapak.

Pembeli datang silih berganti, memilih sayuran, menanyakan harga, hingga menawar barang dagangan.

Meski fasilitas pasar masih sederhana, Pasar Lama tetap menjadi salah satu pilihan warga untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Selain mudah dijangkau, hasil bumi yang dijual pedagang lokal umumnya masih segar dan harganya relatif terjangkau.

Salah satu pedagang, Mama Mina, mengatakan dirinya sudah cukup lama berjualan sayur dan umbi-umbian yang berasal dari hasil kebun sendiri.

“Saya jual di sini sudah lama. Sayurannya segar, baru dibawa dari kebun. Warga di sini biasa beli langsung di lapak kami karena lebih murah dan bisa lihat langsung kondisinya,” katanya.

Namun, aktivitas berkebun dan berjualan tidak selalu berjalan mudah.

Kondisi cuaca panas membuat Mama Mina beberapa kali kesulitan mendapatkan hasil panen.

“Saya memang sering panen sayur segar juga umbi-umbian untuk jualan di sini, tapi beberapa kali sempat susah panen karena cuaca yang panas. Susah juga cari air untuk menyiram tanaman di kebun,” ujarnya.

Meski menghadapi kendala tersebut, Mama Mina tetap berusaha mempertahankan aktivitas berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Bagi pembeli, keberadaan pedagang lokal di Pasar Lama juga memberikan pilihan untuk mendapatkan bahan pangan segar sekaligus membantu ekonomi warga.

Damianus, salah seorang pembeli yang rutin berbelanja di Pasar Lama, mengaku nyaman berbelanja di pasar tersebut karena pilihan sayuran cukup beragam dan pedagangnya ramah.

“Saya lebih suka ke Pasar Lama. Pilihannya banyak dan pedagangnya juga ramah. Mudah bertanya harga maupun meminta sedikit tambahan sayur,” katanya.

Ia mengaku lebih sering membeli sayuran dan umbi-umbian dari mama-mama Papua karena hasilnya berasal langsung dari kebun.

“Saya juga lebih sering berbelanja di mama-mama Papua. Selain lebih banyak isinya dan hasil langsung dari kebun, kita juga bisa membantu mama-mama untuk tambahan penghasilan,” ungkapnya.

Di tengah perubahan kawasan dan perkembangan pusat perdagangan baru, Pasar Lama tetap memiliki ruang tersendiri bagi masyarakat Mimika.

Keramaian pasar bukan sekadar aktivitas jual beli. Di tempat ini, hasil kebun bertemu dengan kebutuhan rumah tangga, sementara pedagang dan pembeli membangun hubungan yang sudah berlangsung dari hari ke hari.

Bagi pedagang seperti Mama Mina, bertahan di pasar berarti terus menjaga penghasilan keluarga.

DBagi pembeli, berbelanja di lapak mama-mama Papua sekaligus menjadi cara sederhana untuk ikut menggerakkan ekonomi warga lokal. (yud)