Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau. (FOTO: YESON WENDA/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id — Tiga dekade bukan waktu yang singkat bagi sebuah daerah.

Di usia 30 tahun, Kabupaten Mimika tidak hanya merayakan pertambahan usia, tetapi juga melihat kembali perjalanan pembangunan yang telah dilalui dan pekerjaan rumah yang masih menunggu diselesaikan.

Di balik geliat pembangunan dari kota hingga kampung, masih ada pertanyaan yang perlu dijawab bersama: sejauh mana pembangunan telah dirasakan masyarakat dan apakah setiap anak di Mimika memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh dan mendapatkan pendidikan yang layak?

Pertanyaan itu menjadi bagian dari refleksi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Mimika, Primus Natikapareyau, pada momentum HUT ke-30 Kabupaten Mimika, 8 Oktober 2026.

Bagi Primus, pembangunan Mimika ke depan tidak cukup hanya diukur dari jalan, gedung, maupun besarnya anggaran.

Pembangunan harus bermuara pada manusia, pada anak-anak yang mendapatkan pendidikan, keluarga yang memiliki kesempatan meningkatkan ekonomi, serta masyarakat yang merasa menjadi bagian dari daerah yang mereka tinggali.

“Anak asli dari dua suku besar Amungme dan Kamoro, masyarakat Papua secara keseluruhan, serta semua yang hidup di Kabupaten Mimika harus mendapatkan pendidikan yang cukup sehingga menjadi SDM yang mumpuni dan mampu menjaga kabupaten ini bersama,” ujar Primus.

Pendidikan dan SDM sebagai Investasi

Primus melihat peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai salah satu pekerjaan penting Mimika memasuki usia ke-30.

Pendidikan, menurut dia, bukan sekadar jalan untuk memperoleh ijazah. Lebih dari itu, pendidikan menjadi bekal bagi masyarakat untuk memahami perubahan, mengambil keputusan, membangun kehidupan yang lebih baik, dan ikut menjaga daerah.

Ia menilai masyarakat dengan kualitas SDM yang baik akan lebih mampu memahami persoalan serta membedakan hal-hal yang membawa manfaat dan yang dapat merugikan diri maupun lingkungan.

Karena itu, pembangunan fisik perlu berjalan beriringan dengan pembangunan manusia.

Bagi Mimika, tantangannya tidak sederhana.

Wilayahnya membentang dari pesisir hingga pegunungan dengan karakter masyarakat dan kebutuhan yang berbeda-beda.

Pembangunan yang seragam belum tentu menjawab kebutuhan setiap kampung.
Jangan Sampai Masyarakat Asli Menjadi Penonton

Sebagai anak asli Kamoro, Primus juga membawa perhatian khusus terhadap posisi masyarakat asli dalam pembangunan Mimika.

Ia berharap pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat Amungme dan Kamoro serta masyarakat asli Papua lainnya memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh dan mengambil manfaat dari pembangunan.

“Pemda harus benar-benar merangkul dua suku besar di kabupaten ini, sehingga mereka tidak menjadi penonton di negerinya sendiri,” ujarnya.

Pesan itu juga diarahkan kepada dunia usaha, termasuk PT Freeport Indonesia (PTFI), yang memiliki peran besar dalam kehidupan ekonomi Mimika.

Primus berharap perhatian terhadap masyarakat Kamoro tidak hanya diberikan kepada kampung-kampung yang terdampak langsung operasional perusahaan.

Kampung-kampung lain di sekitar wilayah operasional, kata dia, juga perlu dilihat sebagai bagian dari masyarakat Mimika yang membutuhkan perhatian.

“Harapan saya PTFI bisa melihat masyarakat Kamoro secara utuh. Bukan hanya beberapa kampung, tetapi juga kampung-kampung yang berada di sekitar daerah operasional perusahaan,” katanya.

Baginya, pembangunan akan memiliki makna lebih besar ketika masyarakat lokal tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga memiliki kesempatan untuk terlibat, bekerja, berkembang, dan menentukan masa depan mereka sendiri.

Mimika Rumah Kita

Usia 30 tahun juga menjadi momentum bagi Primus untuk mengingatkan kembali semangat “Mimika Rumah Kita”.

Rumah, dalam pandangan sederhana, bukan hanya tempat tinggal. Rumah adalah tempat orang merasa aman, dihargai, dan memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.

Karena itu, ia mengajak masyarakat menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), sekaligus tidak menyerahkan seluruh persoalan daerah kepada pemerintah.

“Kita sudah hidup besar di sini. Ini tempat kita bersama, baik masyarakat dari dua suku besar maupun suku-suku lainnya. Karena itu, Mimika harus kita jaga bersama,” katanya.

Ia juga meminta masyarakat berani menyampaikan persoalan, kritik, maupun masukan mengenai pembangunan.

“DPRK mungkin tidak dapat menjangkau semua persoalan di masyarakat. Tetapi saya yakin, kalau masyarakat dan kami bekerja sama, kita bisa,” tegasnya.

Di sinilah, menurut Primus, pembangunan tidak lagi hanya menjadi pekerjaan pemerintah. Masyarakat juga memiliki ruang untuk ikut menentukan arah daerahnya.

Dari Kampung hingga Kota

Persoalan pemerataan pembangunan menjadi perhatian lain yang disampaikan Primus.

Ia menyoroti visi pembangunan dari kampung ke kota yang menjadi program Bupati dan Wakil Bupati Mimika.

Menurutnya, program tersebut perlu diterjemahkan dalam pembangunan yang dapat dilihat dan dirasakan langsung masyarakat.

Ia bahkan menyarankan pemerintah memilih beberapa kampung atau distrik untuk menjadi lokasi pembangunan yang dilakukan secara fokus.

“Kalau memang tidak bisa semua kampung difokuskan, bisa satu atau dua kampung atau distrik. Dengan begitu, pembangunan benar-benar terlihat dan dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Kebutuhan setiap wilayah pun berbeda.

Di satu kampung, persoalan utama mungkin air bersih. Di wilayah lain, masyarakat membutuhkan penguatan ekonomi, pengembangan kampung nelayan atau perkebunan.

Sementara di wilayah pegunungan, akses dasar dan pelayanan publik bisa menjadi kebutuhan utama.

Dengan pembangunan yang lebih fokus, Primus berharap masyarakat dapat melihat perubahan secara nyata, dari pesisir hingga pegunungan.

Tiga Puluh Tahun dan Harapan yang Belum Selesai

Memasuki usia 30 tahun, Mimika tentu telah berubah. Kota berkembang, pembangunan bergerak, dan aktivitas ekonomi terus tumbuh. Namun, perjalanan itu belum selesai.

Masih ada anak-anak yang harus dipastikan mendapatkan pendidikan. Masih ada kampung yang membutuhkan infrastruktur dasar.

Masih ada masyarakat asli yang ingin memastikan mereka tidak kehilangan ruang dalam pembangunan di tanah sendiri.

Karena itu, bagi Primus, ulang tahun Mimika bukan hanya perayaan, melainkan kesempatan untuk kembali menyatukan langkah.

“Saya yakin dan percaya Kabupaten Mimika pasti maju dengan kerja sama pemerintah, DPRK dan masyarakat. Dari pesisir hingga pegunungan, kita bersatu untuk Mimika dan membawa Mimika tercinta menjadi lebih baik dan lebih maju,” pungkasnya.

Tiga puluh tahun menjadi penanda perjalanan.

Tetapi masa depan Mimika pada akhirnya akan ditentukan oleh bagaimana pemerintah, DPRK, masyarakat adat, dunia usaha, dan seluruh warga menjadikan pembangunan sebagai kerja bersama, agar kemajuan tidak hanya terlihat dari wajah kota, tetapi juga terasa hingga kampung-kampung paling jauh. (*)

Penulis: Yeson P. Wenda
Editor: Maurits SDP