IDAKEBO, timikaexpress.id — Uskup Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, mengajak umat Katolik mewujudkan Kerajaan Allah melalui kehidupan nyata.

Iman, menurutnya, tidak cukup diwujudkan dalam doa dan perayaan liturgi, tetapi harus hadir dalam keluarga dan kehidupan masyarakat.

Pesan itu disampaikan Uskup Bernardus saat memimpin perayaan ekaristi peresmian Gereja di Paroki Idakebo, Rabu (7/10/2026).

Dalam khotbahnya, Uskup merefleksikan bacaan Kitab Suci Nehemia 8:1-4a, 5-6, 8-10, 2Korintus 3:9b-11, 16-17, dan Matius 16:13-19. Ia menyoroti peran Imam Ezra, Rasul Paulus, dan Santo Petrus dalam membangun umat Allah sesuai panggilan masing-masing.

Ezra membangun kembali kehidupan bangsa Israel sebagai umat pilihan Allah. Paulus dipanggil untuk mewartakan Kristus, sementara Petrus tampil sebagai pemimpin para rasul dan mewartakan Kristus hingga ke Roma.

Dari ketiga tokoh tersebut, Uskup Bernardus menegaskan bahwa setiap orang beriman juga dipanggil mengambil bagian dalam membangun Kerajaan Allah. Panggilan itu, kata dia, perlu diwujudkan melalui empat hal.

Pertama, membangun kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan.

Uskup mengajak umat mengembangkan ekonomi keluarga dan masyarakat melalui kebiasaan berkebun dan beternak.
“Kita harus bangun Kerajaan Allah itu menjadi nyata, mengembangkan ekonomi keluarga umat dan masyarakat,” kata Uskup.

Ia mendorong umat menanam tanaman pangan serta memelihara ternak seperti ayam dan babi. Menurutnya, kebiasaan tersebut dapat menjadi investasi keluarga sekaligus sumber pangan ketika menghadapi krisis.

Kedua, membangun budaya hidup sehat.
Uskup Bernardus mengingatkan umat untuk menjaga kesehatan melalui pola makan, istirahat, pekerjaan, serta relasi yang baik dengan sesama.

Ia juga menyoroti persoalan HIV/AIDS dan konsumsi alkohol yang berdampak serius terhadap kehidupan masyarakat Papua.

“Alkohol juga membunuh banyak orang Papua. Orang Papua banyak yang mati di parit-parit. Alkohol membunuh generasi,” tegasnya.

Karena itu, menjaga kehidupan dan meninggalkan kebiasaan yang merusak diri, keluarga, serta masa depan generasi Papua merupakan bagian dari upaya membangun Kerajaan Allah.

Ketiga, memperkuat pendidikan.
Uskup meminta umat, terutama para orang tua, memastikan anak-anak memperoleh pendidikan yang baik.

Ia mengatakan perhatian terhadap pendidikan perlu diperkuat dalam lima tahun ke depan, termasuk melalui pembenahan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK), mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

Dalam pengembangan pendidikan calon imam, Uskup juga menyampaikan rencana pembukaan seminari di Nabire.

Menurutnya, tanggung jawab orang tua bukan hanya menyekolahkan anak, tetapi juga mendampingi, mengontrol, dan mendorong mereka untuk sungguh-sungguh belajar.

Pendidikan, kata dia, tidak boleh hanya mengejar ijazah atau gelar, tetapi harus melahirkan manusia yang mampu menciptakan peluang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Keempat, membangun pertobatan melalui Sakramen Rekonsiliasi.

Pesan terakhir secara khusus ditujukan kepada para imam sebagai rekan kerja dalam menjalankan tugas pelayanan Gereja.

Uskup meminta para imam menyediakan jadwal khusus pelayanan Sakramen Pengakuan Dosa dan mengumumkannya kepada umat.

Dengan demikian, umat memiliki kesempatan yang jelas untuk datang secara pribadi dan menerima Sakramen Rekonsiliasi.

Pertobatan, menurutnya, merupakan bagian penting dalam membangun Kerajaan Allah.

Setiap orang perlu berani melihat kembali kehidupannya, meninggalkan hal-hal yang menjauhkan diri dari Tuhan, serta membangun kembali relasi dengan Allah dan sesama.

Pada akhirnya, Uskup Bernardus menegaskan bahwa iman harus menghasilkan kehidupan yang nyata.

Kerajaan Allah tidak hanya dibangun di dalam gereja, tetapi juga di kebun keluarga, meja makan, sekolah, tempat kerja, kehidupan sosial, dan dalam hati setiap orang yang mau bertobat.

Ezra membangun kembali umat, Paulus mewartakan Kristus, dan Petrus menggembalakan Gereja.

Kini, umat beriman dipanggil melanjutkan tugas tersebut melalui kehidupan yang mandiri, sehat, terdidik, dan terus diperbarui dalam pertobatan. (*)