Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia, Carl Tauran. (FOTO: GREN/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di gunung sebelah timur Ridge Camp, Mile Post (MP) 72, Tembagapura, pada Rabu (14/10/2026) sekitar pukul 17.50 WIT, menjadi perhatian PT Freeport Indonesia (PTFI).
Manajemen perusahaan memastikan kejadian tersebut tidak mengganggu aktivitas maupun operasional pertambangan.
Kepala Teknik Tambang PT Freeport Indonesia, Carl Tauran, menjelaskan bahwa vegetasi yang terbakar merupakan tanaman perdu di kawasan gunung tersebut.
Meski lokasi kebakaran sulit dijangkau, langkah kesiapsiagaan tetap dilakukan untuk memastikan api tidak meluas dan mengancam fasilitas perusahaan.
“Yang terbakar adalah tanaman perdu yang ada di gunung itu,” kata Carl dalam konferensi pers di Kuala Kencana, Rabu (21/10/2026).
Menurut Carl, tim Fire and Rescue PTFI disiagakan di sekitar lokasi untuk memantau perkembangan kebakaran sekaligus mengantisipasi kemungkinan api merambat ke area yang dapat mengganggu aktivitas perusahaan.
Kondisi medan yang sulit dijangkau membuat tim tidak dapat melakukan penanganan langsung pada titik api saat kejadian berlangsung.
Karena itu, perhatian utama diarahkan pada pemantauan dan upaya memastikan kebakaran tidak meluas hingga mengancam fasilitas operasional.
“Pada saat itu, tidak ada yang bisa kami lakukan karena lokasi kebakaran tidak bisa dijangkau. Yang kita pastikan api itu tidak menyebar, mengganggu, atau membakar fasilitas PTFI. Itulah yang kita siagakan dari malam hingga pagi, dan api benar-benar padam,” jelas Carl.
Di balik kejadian tersebut, data kebakaran di wilayah kerja PTFI menunjukkan perlunya kewaspadaan berkelanjutan.
Carl mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Oktober 2026, tercatat sekitar 82 kejadian kebakaran hutan dan semak-semak di wilayah kerja perusahaan.
Jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, ketika kebakaran serupa tercatat sekitar 11 kali.
Menurut Carl, peningkatan kejadian tersebut menjadi perhatian bagi perusahaan untuk terus menjaga kesiapsiagaan personel, memastikan peralatan pemadam dan penyelamatan dalam kondisi siap digunakan, serta memperkuat koordinasi dalam menghadapi potensi kebakaran.
PTFI juga membuka ruang koordinasi dan evaluasi bersama pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya menghadapi risiko kebakaran, terutama di tengah kondisi panas yang berkepanjangan.
“Kita pastikan tim Fire and Rescue, termasuk peralatan, secara berkala. Kita juga siap berkoordinasi dan mengevaluasi bersama pemerintah daerah,” pungkasnya.
Kesiapsiagaan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan dan memastikan potensi keadaan darurat dapat ditangani sesuai kondisi di lapangan.
Di wilayah dengan medan yang menantang seperti Tembagapura, pemantauan, kesiapan personel, dan koordinasi menjadi unsur penting untuk mengantisipasi risiko kebakaran serta melindungi fasilitas operasional. (via)









Tinggalkan Balasan