MASKOT – Ketua Panitia IFRC 2026, Periyadi menunjukkan Maskot Cenderawasih saat mendampingi awak media mengunjungi lokasi Fireground Kuala Kencana (area utama) IFRC 2026. (FOTO:MAURITS/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id — Sosok burung Cenderawasih yang mengenakan seragam penyelamat berdiri tegak di kawasan fireground Kuala Kencana.
Dengan tinggi lebih dari satu meter, maskot bertajuk “Cenderawasih Penyelamat” ini menjadi salah satu daya tarik dalam penyelenggaraan Indonesian Fire & Rescue Competition (IFRC) ke-8 tahun 2026 di Mimika, Papua Tengah.
Lebih dari sekadar simbol penyelenggaraan kompetisi, maskot ini merepresentasikan perpaduan kebanggaan terhadap identitas Papua dengan semangat profesionalisme para personel tanggap darurat yang senantiasa siap menghadapi berbagai situasi kritis.
Burung Cenderawasih dipilih sebagai representasi kekayaan alam dan identitas Papua yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Sementara itu, seragam dan atribut penyelamat mencerminkan kesiapsiagaan, ketangguhan, serta dedikasi para petugas dalam menjalankan misi kemanusiaan.
Ketua Panitia IFRC 2026, Periyadi, mengatakan maskot tersebut menggambarkan keterkaitan antara kearifan lokal dan profesionalisme dalam penanganan keadaan darurat.
“Maskot ini menunjukkan kombinasi kearifan lokal dengan profesionalisme dan kesiapan tanggap darurat,” ungkap Periyadi kepada awak media di Timika, Rabu (21/10/2026).
Menurut Periyadi, maskot IFRC juga menjadi simbol penghargaan terhadap dedikasi, profesionalisme, kontribusi, dan pencapaian para personel yang mendukung misi kemanusiaan.
Melalui desain yang elegan dan penggunaan bahan berkualitas, maskot ini merepresentasikan penghargaan atas komitmen, kepedulian, serta upaya para personel dalam membantu masyarakat dan memberikan dampak positif bagi sesama.
Mengasah Kompetensi, Memperkuat Kesiapsiagaan
Di balik simbol Cenderawasih Penyelamat, IFRC 2026 membawa misi yang lebih besar, yakni memperkuat kemampuan, koordinasi, dan kesiapsiagaan tim tanggap darurat di sektor pertambangan dan energi.
PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadi tuan rumah penyelenggaraan IFRC 2026 pada 21–31 Oktober 2026.
Kompetisi ini melibatkan 17 tim tanggap darurat perusahaan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Bagi PTFI, menjadi tuan rumah IFRC bukan kali pertama.
Perusahaan ini telah dipercaya menyelenggarakan kompetisi tersebut pada 1996 dan 2005, sehingga pelaksanaan tahun ini menjadi yang ketiga kalinya.
Kompetisi berlangsung di empat lokasi, yakni fireground Kuala Kencana sebagai area utama, Mimika Sport Complex (MSC), Multi Purpose Building Kuala Kencana, serta danau di Mile Post (MP) 28.
IFRC 2026 diselenggarakan oleh Perhimpunan Tanggap Darurat di Bidang Pertambangan dan Energi Indonesia (PERTAPINDO) bersama PTFI sebagai tuan rumah dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia.
Ajang ini memiliki sejarah panjang. Perjalanan IFRC bermula pada 1994, ketika tim penyelamat tambang Indonesia berpartisipasi dalam 11th New South Wales (NSW) Open Cut Mine Rescue Competition di Ravensworth Mine, Australia.
Setahun kemudian, kompetisi nasional IFRC pertama diselenggarakan sebagai wadah untuk mengembangkan sekaligus menguji kemampuan tim tanggap darurat industri di Indonesia.
Sejak itu, IFRC berkembang menjadi salah satu ajang untuk meningkatkan kompetensi dan memperkuat kesiapan personel menghadapi berbagai risiko di lingkungan kerja.
Dalam perkembangannya, IFRC telah menyelenggarakan sekitar 28 kegiatan, termasuk 21 kegiatan bertajuk Challenge and Competition.
Delapan Kategori Uji Kemampuan
Pada pelaksanaan tahun ini, IFRC mempertandingkan delapan kategori yang dirancang untuk menguji keterampilan teknis, ketahanan fisik, pengambilan keputusan, serta koordinasi tim dalam menghadapi kondisi darurat.
Kategori tersebut meliputi Firefighter Competency Test (FCT) dan Individual Skill (IDS), yang menguji kompetensi individu melalui ujian tertulis, pemeriksaan alat bantu pernapasan SCBA, CPR, AED dan BVM, teknik penopang struktur, serta pengoperasian kantung angkat beban.
Selanjutnya, Road Accident Rescue (RAR) menguji kemampuan penyelamatan korban kecelakaan kendaraan, mulai dari stabilisasi kendaraan hingga evakuasi korban secara aman.
Pada kategori Confined Space Rescue (CSR), peserta ditantang melakukan penyelamatan di ruang terbatas dengan memperhatikan penilaian risiko, kualitas udara, penggunaan peralatan khusus, dan prosedur evakuasi.
Sementara itu, High Angle Rescue Technique (HART) menguji keterampilan penyelamatan di ketinggian melalui penggunaan sistem tali, teknik penarikan beban, dan penanganan tandu korban.
Kemampuan pencarian dan penyelamatan korban di reruntuhan bangunan diuji melalui Collapsed Structure Search & Rescue (CSSR).
Kategori ini menuntut ketelitian dalam pencarian korban, pembukaan akses, serta stabilisasi area operasi.
Dalam Structural Fire Fighting (SFF), peserta menghadapi simulasi pemadaman kebakaran struktur bangunan dengan menitikberatkan pada strategi pemadaman, komunikasi tim, pengendalian situasi, dan keselamatan personel.
Adapun Underwater Rescue & Recovery (UWRR) menguji keterampilan penyelamatan dan pemulihan di bawah permukaan air, termasuk kemampuan menyelam, navigasi bawah air, komunikasi, serta evakuasi korban.
Kategori kedelapan, Firefighter Combat Challenge (FCC), menguji ketahanan fisik dan kecepatan individu melalui rangkaian tantangan yang mereplikasi aktivitas fisik petugas pemadam kebakaran, seperti berlari melewati rintangan, menaiki tangga, mengangkat selang, memindahkan beban, dan menarik manekin korban.
Berbagai kategori tersebut memberikan kesempatan bagi para peserta untuk mengukur kemampuan, berbagi pengalaman, dan mempelajari praktik penanganan keadaan darurat dari tim perusahaan lain.
Lebih dari sekadar persaingan untuk meraih prestasi, IFRC menjadi ruang pembelajaran bersama guna memperkuat koordinasi dan menyelaraskan standar keselamatan serta kesiapsiagaan darurat di industri pertambangan dan energi.
Melibatkan Generasi Muda dalam Budaya Keselamatan
Semangat keselamatan yang diusung IFRC 2026 tidak hanya menyasar para profesional di lingkungan industri. Melalui program Safety Goes to School, penyelenggara juga membawa pesan pentingnya budaya keselamatan kepada generasi muda.
Program ini menjangkau 10 sekolah di Mimika dan sekitarnya melalui kegiatan edukasi dan kampanye mengenai pentingnya memahami serta menerapkan prinsip-prinsip keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah yang dikunjungi meliputi SMA YPPK Tiga Raja, SMP YPJ Kuala Kencana, SMP Negeri 2 Timika, SMK Negeri 1 Timika Kuala Kencana, SMP Negeri 4 Mimika, SMA Negeri 1 Mimika, SMPIT Permata Papua, SMA Kristen Shining Stars, SMK Negeri 3 Kesehatan dan Sosial, serta Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP).
Melalui kegiatan ini, pesan keselamatan diharapkan dapat menjangkau lingkungan pendidikan dan keluarga, sehingga kesadaran untuk mengenali risiko, mencegah kecelakaan, dan melindungi sesama dapat tumbuh sejak dini.
Sebanyak 17 tim tanggap darurat perusahaan yang mengikuti IFRC 2026 berasal dari berbagai perusahaan pertambangan dan energi di Indonesia. Mereka terdiri atas:
1. PT Freeport Indonesia – Amungme Team
2. PT Freeport Indonesia – Kamoro Team
3. PT ANTAM Tbk
4. PT Borneo Indobara
5. PT Adaro Indonesia
6. PT Bumi Suksesindo
7. PT Merdeka Battery Materials (MBM)
8. PT Batutua Kharisma Permai
9. PT Nusa Halmahera Minerals
10. PT Hengjaya Mineralindo
11. PT Kideco Jaya Agung
12. PT Indomuro Kencana (Kencana ERG – PTK, IMK, NM)
13. PT Pamapersada Nusantara
14. PT Ganda Alam Makmur
15. PT Vale Indonesia
16. PT Kalimantan Prima Persada
17. PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM)
Kehadiran para peserta dari berbagai perusahaan memperkuat semangat kolaborasi lintas industri.
Sebab, dalam situasi darurat, kecepatan bertindak harus berjalan beriringan dengan keterampilan, ketepatan pengambilan keputusan, komunikasi, dan kepedulian terhadap keselamatan setiap orang.
Melalui IFRC 2026, Mimika tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kompetisi, tetapi juga ruang bertemunya para personel penyelamat untuk mengasah kemampuan dan memperkuat komitmen terhadap keselamatan.
Seperti pesan yang tersirat dalam sosok Cenderawasih Penyelamat, kebanggaan terhadap identitas Papua berpadu dengan semangat untuk melindungi kehidupan.
Sebuah pengingat bahwa di balik setiap keterampilan yang diuji dan setiap tantangan yang dihadapi, terdapat misi yang lebih besar, kesiapsiagaan, kepedulian, dan keselamatan manusia. (vis)









Tinggalkan Balasan