ANUGERAH – Franciscus Xaverius Seda atau Frans Seda, tokoh nasional asal Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang akan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2026. Frans Seda dikenal atas pengabdiannya di bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan diplomasi. (FOTO: ISTIMEWA)

JAKARTA, timikaexpress.id – Kabar membanggakan datang dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu putra terbaik Flobamora, Franciscus Xaverius Seda atau yang akrab disapa Frans Seda, segera menyandang gelar Pahlawan Nasional yang akan dianugerahkan Presiden Prabowo Subianto pada Selasa, 10 November 2026.

Agenda resmi ini sebagaimana tertuang dalam surat bersifat Rahasia dari Kementerian Sosial Republik Indonesia, Nomor: 1932/5.5/PB.06.00/11/2026 tertanggal 6 November 2026, perihal Pemberitahuan Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Surat tersebut ditujukan kepada Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT di Kupang, yaitu meminta data seorang pendamping ahli waris untuk hadir di Istana Negara pada Selasa pekan depan untuk mengikuti anugerah Gelar Pahlawan Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) kepada Fran Seda.

Penganugerahan gelar tersebut menjadi bentuk pengakuan negara atas pengabdian Frans Seda dalam perjalanan bangsa Indonesia, khususnya di bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, dan diplomasi.

Bagi masyarakat NTT, penghargaan ini memiliki makna tersendiri. Frans Seda merupakan tokoh asal Maumere, Kabupaten Sikka, yang kiprahnya tidak hanya dikenal di daerah asalnya, tetapi juga memberikan kontribusi penting dalam perjalanan pemerintahan dan pembangunan nasional.

Lahir di Maumere pada 4 Oktober 1926, Frans Seda tumbuh menjadi sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan, kebangsaan, dan pembangunan ekonomi.

Ia menempuh pendidikan di Kolese Xaverius Muntilan dan HBS Surabaya, sebelum melanjutkan studi ekonomi di Katholieke Economische Hogeschool, Tilburg, Belanda.

Kariernya di pemerintahan dimulai pada era Presiden Soekarno. Ia dipercaya menjabat Menteri Perkebunan periode 1963-1966 dan Menteri Pertanian pada 1966.

Salah satu peran penting Frans Seda terlihat ketika dipercaya menjadi Menteri Keuangan pada 1966-1968. Saat itu, Indonesia tengah menghadapi persoalan ekonomi berat, termasuk hiperinflasi yang mengancam stabilitas perekonomian nasional.

Dalam situasi tersebut, Frans Seda turut berperan dalam upaya pemulihan ekonomi melalui penataan keuangan negara, pengendalian inflasi, serta pemulihan hubungan Indonesia dengan lembaga keuangan internasional, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF).

Pengabdiannya berlanjut pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada 1968-1973, ia menjabat Menteri Perhubungan yang saat itu juga membawahi urusan komunikasi.

Setelah menyelesaikan tugas di pemerintahan, Frans Seda dipercaya menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia, Luksemburg, dan Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE) pada 1973-1976.

Tidak hanya di bidang pemerintahan dan diplomasi, Frans Seda juga memberikan perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Ia merupakan salah satu pendiri Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dan dipercaya menjadi rektor pertama.

Kontribusi tersebut memperlihatkan bahwa pengabdiannya tidak terbatas pada jabatan pemerintahan, tetapi juga mencakup pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan.

Sepanjang perjalanan hidupnya, Frans Seda menerima sejumlah penghargaan dan tanda kehormatan, di antaranya Bintang Mahaputra Adipradana pada 1973 dan Grand Cross of St. Sylvester pada 1964.

Frans Seda meninggal dunia di Jakarta pada 31 Desember 2009 dalam usia 83 tahun. Meski telah berpulang, jejak pengabdian dan pemikirannya tetap menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2026 diharapkan menjadi momentum untuk mengenang kembali jasa dan keteladanan Frans Seda.

Bagi masyarakat NTT, pengakuan ini bukan hanya penghormatan kepada seorang tokoh, tetapi juga kebanggaan sekaligus inspirasi bagi generasi muda Flobamora untuk terus berkarya dan mengabdi bagi bangsa dan negara. (*)