KUNJUNGAN KERJA – Ketua DPRK Mimika Primus Natikapereyau bersama rombongan Komisi I DPRK Mimika saat mengunjungi kampung-kampung pesisir di Distrik Mimika Timur Jauh, Kamis (22/10/2026). (FOTO: SELVY/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id – Kabut asap kiriman akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti perairan Muara Pomako, Kamis (22/10/2026) pagi.
Di balik selimut kabut yang membatasi parndangan, perairan tampak tenang.
Speedboat yang membawa rombongan Komisi I DPRK Mimika mulai bergerak menuju kampung-kampung pesisir di Distrik Mimika Timur Jauh.
Pagi itu, sekitar pukul 06.45 WIT, pelayaran dimulai.
Empat kampung menjadi tujuan: Omawita, Fanamo, Ohotya, dan Amamapare.
Rombongan menempuh perjalanan menyusuri perairan Mimika untuk bertemu masyarakat, mendengar persoalan yang mereka hadapi, sekaligus melihat langsung kondisi kehidupan di wilayah pesisir yang jauh dari pusat kota.
Kabut asap perlahan menjadi bagian dari pemandangan perjalanan.
Namun, di balik suasana perairan yang teduh, tersimpan persoalan yang jauh lebih mendesak bagi masyarakat, yaitu kebutuhan dasar yang belum sepenuhnya terpenuhi dan harapan akan pelayanan pemerintah yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Di kampung-kampung yang dikunjungi, rombongan disambut hangat oleh masyarakat.
Kehadiran para wakil rakyat bukan sekadar agenda kunjungan kerja.
Bagi sebagian warga, pertemuan itu menjadi kesempatan untuk menyampaikan keluh kesah kepada orang-orang yang mereka harapkan dapat membawa persoalan kampung ke tingkat pemerintahan.
Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, menjadi salah satu sosok yang mendapat sambutan akrab.
Di sepanjang jalan, sejumlah warga menyapanya dengan ungkapan, “Ini kita punya anak,” dan “Kita punya anak yang lihat kita.”
Sapaan itu terdengar sederhana.
Namun, di dalamnya tersimpan kedekatan sekaligus harapan.

Warga seolah ingin mengatakan bahwa mereka memiliki seseorang yang dapat melihat kondisi mereka, mendengar kebutuhan mereka, dan memperjuangkan persoalan yang selama ini dirasakan.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan DPRK Mimika juga menyerahkan bantuan bahan pokok kepada masyarakat.
Bantuan berupa beras, minyak goreng, dan sejumlah kebutuhan lainnya itu menjadi bagian dari kunjungan ke kampung-kampung pesisir.
Namun, di balik bantuan tersebut, ada persoalan yang membutuhkan perhatian lebih panjang daripada satu kali kunjungan.
Warga membutuhkan akses terhadap air bersih, rumah yang layak, jalan, pelayanan kesehatan, serta pendidikan yang dapat menjangkau anak-anak di kampung mereka.
Perjalanan di Kampung Ohotya menyimpan cerita tersendiri.
Ketika rombongan tiba, masyarakat sedang bersiap melaksanakan sasi, sebuah praktik adat yang aturan dan maknanya dapat berbeda sesuai kesepakatan masing-masing komunitas.
Dalam sejumlah komunitas, sasi merupakan mekanisme adat untuk mengatur pemanfaatan sumber daya alam, termasuk melalui larangan sementara mengambil sumber daya tertentu.
Di Ohotya, pelaksanaan adat yang sedang dipersiapkan warga berkaitan dengan peristiwa yang terjadi beberapa bulan sebelumnya, ketika sejumlah warga meninggal akibat serangan buaya.
Situasi tersebut membuat rombongan tidak langsung dapat berbicara dengan masyarakat.

Warga tengah mempersiapkan prosesi adat yang harus dihormati.
Setelah para tetua kampung berdiskusi, rombongan akhirnya diizinkan masuk dan diterima dengan hangat.
Masyarakat kemudian mengantar rombongan bersama-sama menuju balai kampung.
Di tempat itulah percakapan berlangsung.
Warga mulai menyampaikan persoalan yang mereka hadapi, mulai dari kebutuhan air bersih, rumah layak huni, akses jalan, hingga pelayanan kesehatan dan pendidikan.
Di tengah berbagai aspirasi itu, seorang warga melontarkan kalimat yang singkat, tetapi menyimpan makna mendalam.
“Kalian itu penting untuk kita punya suara kecil, kalian itu harapan,” ujarnya.
Kalimat itu menjadi salah satu inti dari kunjungan tersebut.
Warga tidak hanya membutuhkan kehadiran pejabat atau wakil rakyat di kampung mereka.
Mereka juga berharap suara yang selama ini terdengar terbatas di lingkungan sendiri dapat dibawa ke ruang pengambilan keputusan.
Bagi masyarakat pesisir yang tinggal jauh dari pusat kota, kesempatan berbicara secara langsung menjadi penting.
Sebab, persoalan yang mereka hadapi bukan semata-mata tentang jarak geografis, melainkan juga tentang bagaimana kebutuhan mereka dapat diketahui, diperhatikan, dan ditindaklanjuti.
Rosalina dan Cita-cita Menjadi Guru
Di antara berbagai aspirasi yang disampaikan masyarakat Ohotya, terselip harapan seorang anak bernama Rosalina.
Cita-citanya sederhana: menjadi guru.
Keinginan itu bukan hanya tentang masa depannya sendiri.

Rosalina ingin agar anak-anak di kampungnya kelak bisa memperoleh pendidikan tanpa harus terus menunggu kedatangan guru dari kota.
“Sa mo jadi ibu guru, biar di kampung tra tunggu-tunggu ibu guru dari kota lagi,” tuturnya.
Kalimat itu menjadi gambaran kecil tentang tantangan pendidikan yang dirasakan masyarakat di wilayah pesisir.
Bagi Rosalina, menjadi guru berarti menghadirkan kesempatan belajar yang lebih dekat bagi anak-anak di kampungnya.
Di tengah pembicaraan mengenai rumah layak huni, air bersih, jalan, dan pelayanan kesehatan, cita-cita Rosalina mengingatkan bahwa pembangunan juga menyangkut masa depan generasi muda.
Anak-anak di kampung pesisir memiliki hak yang sama untuk belajar dan meraih cita-cita.
Namun, harapan itu membutuhkan dukungan nyata, mulai dari ketersediaan tenaga pengajar hingga pelayanan pendidikan yang dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Rosalina mungkin belum dapat memastikan kapan cita-citanya terwujud.
Akan tetapi, melalui kalimat singkatnya, ia telah menyampaikan sesuatu yang lebih besar: keinginan agar anak-anak di kampungnya memiliki kesempatan yang lebih baik daripada yang mereka rasakan hari ini.
Aspirasi yang Menunggu Tindak Lanjut
Harapan masyarakat tidak berhenti di Ohotya. Dalam kunjungan ke kampung-kampung lainnya, warga juga menyampaikan kebutuhan sesuai dengan kondisi masing-masing.
Di Kampung Amamapare, misalnya, masyarakat menyampaikan kebutuhan akan kantor kampung dan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK).

Kebutuhan tersebut berkaitan dengan pelayanan pemerintahan di tingkat kampung serta fasilitas dasar yang menunjang kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, kunjungan ke Omawita dan Fanamo juga menjadi bagian dari upaya rombongan DPRK Mimika untuk bertemu langsung dengan masyarakat di wilayah pesisir.
Setiap kampung memiliki persoalan dan kebutuhan yang tidak selalu sama.
Karena itu, aspirasi yang disampaikan warga memerlukan perhatian sesuai kondisi di lapangan, termasuk tindak lanjut melalui jalur pemerintahan.
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat kota, pembangunan tidak cukup hanya hadir dalam bentuk kunjungan atau bantuan sesaat.
Mereka juga membutuhkan pelayanan dasar yang dapat diakses secara berkelanjutan.
Air bersih, rumah layak huni, akses jalan, layanan kesehatan, pendidikan, serta fasilitas pemerintahan kampung merupakan kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat.
Kunjungan kerja tersebut memberikan ruang bagi warga untuk menyampaikan persoalan secara langsung. Namun, bagi masyarakat, harapan berikutnya adalah agar suara yang telah disampaikan tidak berhenti sebagai catatan perjalanan.
Cerita dari Amamapare
Menjelang sore, setelah mengunjungi empat kampung dalam satu hari, rombongan bersiap kembali ke Timika.
Perjalanan pulang juga menyisakan cerita kecil dari kehidupan masyarakat pesisir.
Di Amamapare, rombongan membeli hasil tangkapan warga berupa ikan kakap segar berukuran besar, kira-kira sepanjang lengan orang dewasa. Ikan itu dijual seharga Rp 100.000.
Transaksi sederhana tersebut memperlihatkan sisi lain kehidupan masyarakat pesisir, yang sebagian aktivitasnya berkaitan dengan hasil laut.
Perairan bukan hanya jalur yang menghubungkan satu kampung dengan kampung lainnya, tetapi juga bagian penting dari ruang hidup dan sumber penghidupan warga.
Sekitar pukul 18.00 WIT, rombongan tiba di Timika dengan selamat.
Cuaca yang relatif tenang mengiringi perjalanan hingga selesai.
Hari itu, ada banyak hal yang dibawa pulang dari pesisir Mimika Timur Jauh.
Bukan hanya cerita tentang kabut asap yang menyelimuti muara Pomako, sambutan hangat masyarakat, atau ikan kakap segar dari Amamapare.
Ada pula cerita tentang adat yang dijaga, persoalan dasar yang menunggu penyelesaian, dan suara seorang anak yang ingin menjadi guru.
Di Ohotya, Rosalina menyampaikan cita-citanya dengan bahasa yang sederhana.
Ia ingin menjadi guru agar anak-anak di kampungnya tidak perlu menunggu terlalu lama untuk belajar.
Sementara itu, seorang warga menyebut para wakil rakyat sebagai harapan bagi suara kecil masyarakat.
Dua pernyataan itu bertemu pada satu kebutuhan: kehadiran yang nyata.
Jarak dari pusat kota seharusnya tidak membuat masyarakat semakin jauh dari pelayanan yang layak.
Bagi warga pesisir Mimika Timur Jauh, harapan akan pembangunan bukan sekadar keinginan untuk memiliki fasilitas yang lebih baik.
Harapan itu juga berarti kesempatan bagi anak-anak untuk belajar, keluarga untuk hidup lebih layak, dan masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang menjadi hak mereka.
Kabut asap mungkin akan menghilang dari perairan.
Namun, harapan yang disampaikan masyarakat pesisir masih membutuhkan perjalanan panjang, perjalanan yang tidak berakhir ketika speedboat kembali merapat di Timika, tetapi berlanjut melalui perhatian, keputusan, dan tindak lanjut yang nyata. (*)







Tinggalkan Balasan