“Bagi Theresa Agnes Boki, menjadi guru pendidikan anak usia dini bukan sekadar mengajarkan huruf dan angka. Lebih dari itu, ia ingin membantu anak mengenali diri, mengelola emosi, membangun kepercayaan diri, dan menemukan cara mereka sendiri untuk memahami dunia”.

MIMIKA, timikaexpress.id – Senyumnya ramah, sorot matanya teduh, dan tutur katanya lembut. Itulah kesan pertama saat bertemu dengan Theresa Agnes Boki, guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Yayasan Pendidikan Jayawijaya (YPJ) Kuala Kencana.

Perjalanan hidupnya tidak selalu berjalan sesuai rencana. Dari seorang perempuan pemalu yang semula bercita-cita menjadi astronot, Agnes justru menemukan jalan hidupnya di dunia pendidikan.

Ia pernah menjadi karyawati toko, mengajar di beberapa tempat sekaligus, hingga membawa gagasan tentang permainan anak-anak Papua ke forum pendidikan internasional.

Bagi Agnes, perjalanan itu bukan sekadar tentang pekerjaan dan pencapaian.

Ada proses panjang untuk mengenali diri, belajar menghadapi tantangan, dan menemukan makna menjadi seorang pendidik.

Kisah singkat ini mulai mengalir ketika saya bertemu langsung dengan Theresa Agnes Boki, yang akrab disapa Miss Agnes, di ruang PAUD YPJ Kuala Kencana.

Jumat (16/10/2026) siang itu, saya berangkat menggunakan mobil Luxio. Setelah kurang lebih 45 menit menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer, akhirnya saya tiba di area parkir TK-PAUD YPJ Kuala Kencana.

Suasana tampak lengang. Hanya beberapa mobil terlihat terparkir di halaman sekolah.

Rupanya, kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Merauke, Papua Selatan, telah berdampak hingga ke Timika. Kondisi tersebut membuat sekolah-sekolah, termasuk TK-PAUD dan SD di wilayah setempat, menerapkan pembelajaran dari rumah.

Akibatnya, kesunyian menyelimuti kawasan pendidikan yang berada di tengah kota modern Kuala Kencana itu. Pelataran sekolah yang biasanya diwarnai keriuhan suara anak-anak, siang itu tampak sepi.

Di hadapan gedung sekolah yang megah, berdiri di antara pepohonan tinggi, saya bergegas mengeluarkan telepon genggam dan menghubungi Miss Agnes.

“Selamat siang, Miss. Maaf, saya sudah tiba di depan sekolah.”

“Oh, baik, Pak. Saya keluar,” jawab Agnes melalui telepon.

Tak lama kemudian, saat saya beranjak masuk ke gedung sekolah, Miss Agnes menyambut kedatangan saya.

“Selamat siang, Pak. Inilah sekolah kami. Anak-anak tidak masuk sekolah akibat kabut asap,” ungkap Agnes membuka percakapan.

Kami kemudian memasuki ruang kelas berpendingin udara.

Dindingnya dihiasi berbagai atribut dan gambar berwarna-warni, menghadirkan suasana khas dunia anak-anak.

Agnes mempersilakan saya duduk di salah satu kursi kecil yang biasa digunakan anak-anak PAUD.

Saya sempat memperhatikan kursi mungil itu. Dengan bobot tubuh lebih dari 80 kilogram, muncul kekhawatiran dalam hati.

“Ah, sebaiknya saya duduk di lantai saja. Takut kursi kecil ini patah kalau saya duduki,” pikir saya.

Akhirnya, saya memilih duduk bersila di lantai kelas.

Di ruangan yang biasanya dipenuhi aktivitas belajar dan bermain anak-anak itulah, percakapan kami dimulai.

Miss Agnes pun mulai berkisah.

Lahir di Jayapura pada 26 Agustus 1991, Agnes tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang budaya yang beragam. Ayahnya, Benny Boki, berasal dari Manado, sedangkan ibunya, Selly Mandosir, memiliki darah Biak dan Serui, Papua.

Masa kecilnya di Hamadi, Kota Jayapura, dipenuhi berbagai kegiatan yang menyenangkan.

Theresa Agnes Boki bersama suaminya Edoardo Stevie Wayangkau, dan kedua anak mereka,
Florence Adolte Sarah Wayangkau dan ⁠Selly Helen Kimberly Wayangkau. (FOTO:DOK.KELUARGA)

Ia senang berenang di pantai, bermain sepak bola bersama anak-anak laki-laki di depan rumah maupun di Lapangan Hamadi.

Ia juga kerap mengikuti ibunya bermain bola basket, olahraga yang pernah ditekuni sang ibu sebagai pemain basket dari Papua.

Pendidikan formalnya dimulai dari taman kanak-kanak, kemudian berlanjut ke SD dan SMP Kristen Kalam Kudus. Setelah itu, ia menempuh pendidikan di SMA Stella Duce 2, sekolah yang pada masa itu dikenal sebagai sekolah khusus perempuan.

Seperti banyak anak lainnya, Agnes kecil memiliki cita-cita yang jauh dari profesinya sekarang.

Ia ingin menjadi astronot agar bisa melihat dunia lebih luas.

Namun, perjalanan hidup kemudian membawanya ke arah yang berbeda. Ia memilih melanjutkan pendidikan di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, pada program studi Pendidikan Bahasa Inggris.

“Saya ini pemalu dan minder,” kenangnya.

Perempuan yang kini dikenal sebagai Miss Agnes itu mengaku tidak pernah membayangkan dirinya berdiri di depan kelas dan mengajar anak-anak. Berbicara di hadapan banyak orang bukan hal yang mudah baginya. Namun, justru dari lingkungan kampus itulah ia mulai belajar menghadapi ketakutannya.

Menemukan Makna Menjadi Pendidik

Selama kuliah di Universitas Sanata Dharma, Agnes menemukan pengalaman yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap dunia pendidikan.

Salah satu hal yang membekas adalah moto kampus, “Memanusiakan manusia,” yang dikaitkannya dengan pemikiran Romo Drijarkara.

Bagi Agnes, kalimat tersebut bukan sekadar semboyan, melainkan pengingat bahwa setiap manusia perlu diperlakukan dengan hormat dan dihargai martabatnya.

Nilai itu mulai menemukan maknanya ketika ia mengikuti mata kuliah Pendidikan Bahasa Inggris dan menjalani praktik mengajar di bawah supervisi dosen.

“Saya mulai belajar mengajar di depan mahasiswa dan menjalani praktik mengajar di bawah supervisi dosen. Meski awalnya gugup, tuntutan praktik dalam mata kuliah Pendidikan Bahasa Inggris meyakinkan saya bahwa saya harus berani mencoba dan membiasakan diri berdiri di depan kelas,” tuturnya.

Pengalaman itu menjadi langkah awal bagi Agnes untuk mengenal dunia pendidikan lebih dekat.

Ia mulai memahami bahwa mengajar bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi juga tentang membangun hubungan, memahami orang lain, dan membantu seseorang berkembang.

MENGAJAR – Miss Agnes saat mengajar anak-anak PAUD TKA. (FOTO:DOK.PRIBADI)

Di luar kegiatan perkuliahan, ia mengambil pekerjaan paruh waktu di Pusat Pengembangan Anak. Di sana, ia mendapatkan pengalaman berinteraksi dan mendampingi anak-anak.

Kesibukannya tidak berhenti pada satu tempat. Ia terus mencari pengalaman di bidang pendidikan sekaligus mengembangkan kemampuan bahasa Inggrisnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 Pendidikan Bahasa Inggris pada 2014, Agnes melanjutkan pekerjaannya di Pusat Pengembangan Anak di Yogyakarta.

Ia juga menjadi guru les dan tutor bahasa Inggris di PT Cemerlang Tunggal Intikarsa (CTI), perusahaan rekrutmen dan penempatan kru Indonesia untuk kapal pesiar internasional serta kapal komersial.

Di CTI, ia mengajar bahasa Inggris kepada calon pekerja yang dipersiapkan untuk mengikuti proses perekrutan perusahaan kapal pesiar dari luar negeri. Mereka perlu memiliki kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu persyaratan untuk bekerja.

Agnes mengajar calon pekerja yang dipersiapkan untuk kapal pesiar yang beroperasi di Amerika, Meksiko, dan Belanda. Pengalaman tersebut berlangsung sekitar tiga bulan, mulai Juli 2015.

Baginya, masa itu merupakan kesempatan untuk terus belajar, menambah pengalaman, dan mengembangkan kemampuan.

Dari praktik mengajar di kampus, mendampingi anak-anak, hingga mengajar calon pekerja kapal pesiar, langkah Agnes menuju profesi pendidik terbentuk secara perlahan.

Pilihan yang awalnya tidak pernah direncanakan itu mulai menjadi jalan yang ia tekuni.

Dalam menjalani berbagai aktivitas tersebut, ia berusaha memegang prinsip sederhana, yaitu memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan. Prinsip itu membantunya belajar bersikap sabar, toleran, dan terbuka terhadap perbedaan.

“Saya melihat ini sebagai jawaban Tuhan sekaligus peluang berharga untuk melengkapi diri sebagai guru. Setelah melewati serangkaian tes, akhirnya saya dinyatakan lolos,” ujarnya.

Bagi Agnes, motivasi menjadi guru bukan semata-mata untuk mentransfer pengetahuan.

Ia ingin setiap anak merasakan kasih yang dapat memberikan pengaruh baik dalam hidup mereka.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembawa nilai dan teladan. Saya ingin anak-anak yang saya didik kelak tumbuh berintegritas dan berkarakter,” tutur istri Edoardo Stevie Wayangkau, sekaligus ibu dua anak ini.

Dari Karyawati Toko hingga Mengajar Tiga Pekerjaan

Perjalanan Agnes menjadi guru profesional tidak selalu mudah.

Setelah menyelesaikan pendidikan Strata Satu (S-1), ia belum langsung memperoleh pekerjaan sebagai guru tetap.

Pada 2014–2015, ia mencoba mengikuti sejumlah seleksi, termasuk Fresh Graduate Program (FGP) PT Freeport Indonesia. Namun, saat itu ia belum berhasil lolos.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti berusaha.

Ia kemudian memutuskan berangkat ke Timika untuk mencari pengalaman dan peluang kerja.

Sebelum akhir 2015, Agnes mendapat kesempatan mengajar bahasa Inggris di SMPK Ebenhaezer.

Di sekolah tersebut, ia mengajar siswa tingkat SMP hingga SMA.

Memasuki 2016, ia kembali mencari peluang pekerjaan tambahan.

Karena membutuhkan penghasilan, ia mencoba melamar sebagai karyawati di Toko Top’s.

Ia diterima bekerja dengan jam masuk pukul 07.00.

Seiring waktu, pemilik toko memberikan kepercayaan lebih kepadanya.

Agnes mendapat tanggung jawab menangani sumber daya manusia atau human resources (HR), termasuk membantu proses perekrutan calon karyawan.

Latar belakang pendidikannya di bidang bahasa Inggris juga membuka kesempatan lain.

Pemilik toko kemudian mengajaknya mengajar di lembaga kursus Smart Education Center Papua (SECP).

Di tempat itu, ia kembali mengajar bahasa Inggris sekaligus membantu mempersiapkan anak-anak memasuki taman kanak-kanak.

“Jumlah siswa yang saya ajar waktu itu lebih dari 20 orang,” paparnya.

Hari-harinya pun menjadi sangat padat.

Agnes menjalani tiga pekerjaan sekaligus: bekerja di toko yang kemudian mempercayainya menangani HR, mengajar di Smart Education Center Papua, dan mengajar di SMPK Ebenhaezer.

Aktivitasnya dimulai sejak pukul 07.00 pagi. Ia baru kembali ke tempat kos sekitar pukul 23.30. Untuk bepergian dari satu tempat ke tempat lain, ia menggunakan sepeda motor.

Masa itu bukan perjalanan yang mudah.

Waktu istirahatnya terbatas, sementara tanggung jawab pekerjaan terus menanti.

Namun, Agnes berusaha menjalani setiap kesempatan yang datang.

Baginya, setiap pekerjaan merupakan pengalaman sekaligus berkat yang patut disyukuri.

“Puji Tuhan, ada berkat, ada kesempatan, saya ambil dan coba,” katanya, menggambarkan prinsip yang ia pegang saat menjalani berbagai pekerjaan tersebut.

Kesempatan berikutnya datang ketika ia mendaftarkan diri dan mengirimkan curriculum vitae ke YPJ.

Suatu hari, telepon yang dinantikannya berdering.

Ia mendapat panggilan untuk mengajar di lingkungan YPJ.

Pada Januari 2017, Agnes mulai bekerja sebagai guru PAUD di Tembagapura.

Ia menjalani tugas tersebut selama lebih dari tiga tahun.

Pada 2020, ia berpindah tugas ke wilayah dataran rendah, tepatnya Kuala Kencana.

Hingga kini, ia terus menjalani profesinya sebagai guru PAUD.

Perjalanan panjang dari Yogyakarta ke Timika, dari pekerjaan paruh waktu hingga menjadi pendidik anak usia dini, menjadi bagian penting dalam prosesnya menemukan dan menekuni profesi tersebut.

Agnes menyadari bahwa setiap kesempatan yang datang telah membentuk dirinya. Pengalaman bekerja di berbagai tempat mengajarkannya tentang kedisiplinan, tanggung jawab, dan keberanian mencoba sesuatu yang sebelumnya terasa sulit.

Kini, selain menjalankan tugas sebagai guru, ia juga berusaha mengembangkan diri melalui kegiatan akademik.

Ia menyiapkan proposal dan hasil pembelajaran untuk diajukan dalam konferensi pendidikan internasional melalui lingkungan kerjanya di YPJ.

Baginya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan.

Profesi ini merupakan perjalanan untuk terus belajar, mencoba, dan mengembangkan diri.

Membawa Permainan Anak Kampung ke Forum Internasional

Salah satu pengalaman penting dalam perjalanan Agnes sebagai pendidik adalah kesempatan mengikuti konferensi internasional yang berkaitan dengan pendidikan di Toronto, Kanada.

Kesempatan itu bermula dari undangan yang diterimanya melalui surat elektronik atau email.

Namun, Agnes tidak langsung meresponsnya.

Ia sempat ragu karena perjalanan ke luar negeri membutuhkan izin dan dukungan dari pihak terkait.

Setelah sekitar enam bulan, ia akhirnya memberanikan diri mengajukan proposal kepada YPJ dan PT Freeport Indonesia agar dapat mengikuti konferensi tersebut.

Puji Tuhan, pengajuannya mendapat persetujuan. Abstrak atau ringkasan karya ilmiahnya juga dinyatakan lolos seleksi.

Konferensi tersebut diselenggarakan oleh World Congress Education.

Theresa Agnes Boki saat mengikuti kongres internasional di Toronto,Kanada. (FOTO:DOK.PRIBADI)

Agnes mengaku memperoleh informasi mengenai kegiatan itu melalui kanal informasi yang kemudian membawanya berkenalan dengan Profesor Charles Shoniregun melalui LinkedIn.

Ia bahkan pernah menerima undangan untuk membahas topik lain, meskipun kesempatan tersebut belum ditindaklanjutinya.

Topik yang dibawanya berfokus pada play-based learning, yakni pendekatan pembelajaran melalui permainan.

Gagasan itu terinspirasi dari anak-anak di Asrama Tomawin dan permainan maupun aktivitas yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Asrama Tomawin merupakan fasilitas tempat tinggal dan pendidikan yang dibangun PT Freeport Indonesia untuk mendukung pendidikan anak-anak asli Papua, khususnya anak-anak Suku Amungme dari wilayah dataran tinggi, tepatnya di Kampung Waa-Banti, Arwanop, dan Tsinga.

Para peserta dari 40 negara saat menghadiri kongres internasional . (FOTO:DOK.PRIBADI)

Bagi Agnes, permainan tradisional dan aktivitas bermain anak bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang.

Di dalamnya terdapat potensi pembelajaran yang dapat dikembangkan dan diterapkan di lingkungan sekolah.

Ia ingin menunjukkan bahwa permainan yang dekat dengan kehidupan anak-anak di kampung dapat menjadi sumber inspirasi dalam proses belajar Aman, Senang, Yakin dan. Percaya Diri, Inovatif, dan Kreatif.

Melalui pendekatan tersebut, anak-anak tidak hanya menerima pelajaran dari guru.

Mereka juga belajar melalui pengalaman, gerakan, interaksi, dan kegembiraan.

“Sebelum belajar, saya selalu awali dengan permainan, biar anak-anak merasa lebih nyaman,” ungkap Agnes.

Pasalnya, permainan memberi kesempatan kepada anak untuk mengenali lingkungan, mencoba hal baru, bekerja sama, serta menemukan cara menyelesaikan persoalan sederhana.

Hal-hal yang mereka alami saat bermain dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran yang bermakna.

Kesempatan mengikuti forum internasional menjadi ruang bagi Agnes untuk membagikan gagasan sekaligus belajar dari pendidik dan peserta yang datang dari berbagai latar belakang.

Baginya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ide pembelajaran dapat berangkat dari hal-hal sederhana yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari anak-anak Papua.

Permainan yang mungkin dianggap biasa di lingkungan kampung, menurutnya, dapat menjadi sumber pengetahuan yang layak dipelajari dan dikembangkan.

Memanusiakan Manusia, Membangun Fondasi Anak

Di balik perjalanan dan pengalaman yang terus bertambah, ada keyakinan yang membuat Agnes bertahan di dunia pendidikan, sebab pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

Nilai tersebut berawal dari motto Universitas Sanata Dharma yang ia kenal ketika menempuh pendidikan di Yogyakarta.

Seiring waktu, nilai itu menjadi salah satu landasan dalam memandang profesi guru.

Bagi Agnes, menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran kepada anak-anak.

“Pendidikan anak usia dini tidak bisa hanya berfokus pada materi yang ingin diajarkan guru. Guru juga harus memahami bagaimana anak berkembang, bagaimana mereka belajar, dan apa yang mereka butuhkan sesuai tahap perkembangannya,” ungkapnya.

Seorang guru, menurutnya, perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan, perasaan, potensi, dan cara belajar yang berbeda.

Pemahaman tersebut semakin menguatkan pilihannya untuk mendampingi anak-anak usia dini.

Ia menyadari bahwa pendidikan pada tahap awal kehidupan berperan penting dalam membangun fondasi perkembangan anak.

Agnes memandang guru PAUD bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai brain builders atau pembangun fondasi perkembangan otak anak.

Pada masa awal kehidupan, anak membutuhkan lingkungan yang mendukung perkembangan kemampuan berpikir, mengingat, bergerak, berinteraksi, dan mengelola emosi.

Karena itu, Agnes ingin memastikan anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna sejak dini.

Baginya, fondasi yang kuat akan membantu mereka mempersiapkan diri menghadapi tahap pendidikan dan kehidupan berikutnya.

Ia juga meyakini bahwa pendidikan anak usia dini tidak seharusnya hanya berpusat pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.

Anak perlu belajar mengenali diri, berkomunikasi, membangun hubungan dengan orang lain, serta mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.

“Guru TK tidak hanya mengajarkan literasi dan numerasi, tetapi juga membantu anak membangun fondasi penting, yaitu mengenali dirinya dan mengelola emosi, membangun keterampilan bahasa dan komunikasi, serta mengembangkan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah,” jelasnya.

Bahagia Melihat Anak Bergerak dan Belajar

 Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Agnes selama mendampingi anak-anak adalah melihat mereka tertawa, merasa senang, dan aktif mengikuti kegiatan belajar.

Ia menyukai suasana kelas yang hidup, ketika anak-anak tidak hanya duduk dan mendengarkan, tetapi juga bergerak, bereksplorasi, serta terlibat langsung dalam kegiatan.

Kecintaan itu turut memengaruhi cara Agnes menata ruang belajar.

Ia berusaha menyediakan ruang yang cukup luas agar anak-anak dapat bergerak dengan leluasa.

Baginya, gerakan merupakan bagian penting dari pengalaman belajar anak usia dini.

Melalui aktivitas fisik, termasuk kegiatan yang mendukung perkembangan motorik kasar, anak dapat mengenali kemampuan tubuhnya, melatih koordinasi, dan belajar berinteraksi dengan lingkungan.

Ia justru merasa senang ketika anak-anak aktif bergerak selama kegiatan berlangsung, selama mereka tetap berada dalam lingkungan yang aman dan terarah.

Bagi Agnes, tawa dan gerak anak-anak bukanlah gangguan dalam pembelajaran.

Sebaliknya, keduanya merupakan bagian dari pengalaman belajar yang ingin ia dukung.

Ia tidak memandang bermain sebagai kegiatan pengisi waktu di antara pelajaran. Bermain justru menjadi salah satu cara utama anak mengenali dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.

Melalui bermain, anak belajar bekerja sama, berbagi, menunggu giliran, berkomunikasi, memecahkan masalah, serta memahami dirinya dan orang lain.

Bernyanyi dapat membantu mengembangkan bahasa, memperkaya kosakata, melatih daya ingat dan konsentrasi, sekaligus memberi ruang bagi anak mengekspresikan perasaan melalui gerakan dan irama.

Sementara itu, bercerita membantu anak belajar mendengarkan, memahami bahasa, memperluas imajinasi, dan mengenal nilai-nilai positif.

Bagi Agnes, pengalaman-pengalaman sederhana tersebut merupakan bagian dari proses membangun fondasi perkembangan anak.

Hal yang terlihat seperti bermain, bernyanyi, atau bercerita dapat memberikan ruang bagi anak untuk belajar dengan cara yang sesuai dengan tahap perkembangannya.

Menyaksikan Anak Bertumbuh, dari Takut Menjadi Berani

Bagi Agnes, salah satu kebahagiaan terbesar menjadi guru PAUD adalah menyaksikan perubahan anak-anak yang pernah didampinginya.

Perubahan itu tidak selalu terlihat dalam waktu singkat. Namun, semuanya menjadi berarti ketika ia melihat anak-anak mulai tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani dan percaya diri.

Ia masih mengingat anak-anak yang didampinginya sejak 2020, 2021, hingga 2022, ketika mereka masih berada di kelompok bermain atau playgroup.

Dalam perjalanan pendidikan mereka, Agnes juga berkesempatan mendampingi sebagian anak ketika melanjutkan ke Taman Kanak-kanak A (TKA) dan Taman Kanak-kanak B (TKB).

Dari proses tersebut, ia melihat perkembangan yang menggembirakan. Anak-anak yang dahulu masih belajar membangun keberanian perlahan mulai berani tampil di depan orang lain dan mengeksplorasi kemampuan mereka.

Kini, ketika sebagian dari mereka telah memasuki sekolah dasar, Agnes melihat keberanian itu muncul dalam berbagai kegiatan, mulai dari menari hingga mengikuti olimpiade.

Miss Agnes bersama anak-anak TKA berada di pelataran PAUD YPJ Kuala Kencana. (FOTO:DOK.PRIBADI)

Baginya, perubahan tersebut menguatkan keyakinan bahwa pendidikan anak usia dini bukan semata-mata tentang kemampuan akademik.

Ada fondasi lain yang tidak kalah penting, yakni keberanian, kepercayaan diri, dan kemampuan anak mengenali potensinya.

Ia bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan pertumbuhan mereka. Harapannya, keberanian yang mulai dibangun sejak kecil dapat membantu anak-anak menjalani tahap kehidupan berikutnya dengan lebih baik.

Salah satu momen yang membekas adalah ketika anak-anak angkatan 2022/2023 menunjukkan keberanian mereka untuk tampil setiap hari Kamis.

Ia juga mengenang anak-anak yang membuat karya menggunakan batu dan kayu di area playground, berdasarkan imajinasi dan ide masing-masing.

Bagi Agnes, pengalaman seperti itu memperlihatkan bagaimana anak-anak belajar mengekspresikan gagasan sekaligus membangun kepercayaan terhadap kemampuan mereka sendiri.

“Saya merasa bangga ketika anak yang sebelumnya sangat aktif bergerak mulai mampu mengatur diri, duduk dengan tenang, menjawab pertanyaan, dan terlibat dalam percakapan,” jelasnya.

Pengalaman lainnya datang dari cerita seorang orang tua tentang dua anak yang hendak bermain di rumah.

Salah seorang anak mengingatkan temannya agar memperhatikan keadaan sekitar terlebih dahulu dan memastikan tempat bermain aman, sebagaimana yang dipelajari di sekolah.

“Ayo kita main, tapi tunggu kata Miss Agnes kita harus lihat dulu di sekitar kita, apakah tempatnya aman? Apakah kamu rasa aman?” demikian cerita orang tua tersebut kepada Agnes.

Mendengar cerita itu, Agnes merasa bangga. Kebiasaan yang dibangun di sekolah ternyata terbawa ke lingkungan rumah dan menjadi bagian dari cara anak berinteraksi dengan orang lain.

Baginya, inilah salah satu bentuk keberhasilan pendidikan adalah ketika anak tidak sekadar mengingat apa yang disampaikan guru, tetapi mulai menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal sederhana seperti menyapa guru setiap pagi juga memiliki arti tersendiri. Ia merasa bahagia ketika anak-anak datang ke sekolah dengan nyaman dan memanggilnya “Miss”.

Ketika Anak Belum Siap Belajar

Di balik suasana kelas yang menyenangkan, menjadi guru PAUD juga menghadirkan tantangan tersendiri. Bagi Agnes, salah satu tantangan yang perlu dihadapi adalah perubahan suasana hati anak.

Ada kalanya anak datang ke kelas dalam keadaan sedih, menangis, atau belum siap mengikuti kegiatan pembelajaran.

Dalam situasi seperti itu, guru tidak bisa sekadar meminta anak segera belajar. Ada perasaan dan kebutuhan yang perlu dipahami terlebih dahulu.

Agnes memilih mendekati anak dengan memberikan perhatian dan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang dirasakannya.

Ia berusaha mengajak anak berbicara melalui pertanyaan-pertanyaan sederhana. Setelah itu, ia dapat menawarkan pelukan atau menggenggam tangan jika anak merasa nyaman menerimanya.

Baginya, anak perlu mengetahui bahwa perasaan sedih, marah, atau kecewa boleh dirasakan dan diungkapkan. Namun, mereka juga perlu belajar bahwa mengekspresikan emosi tidak boleh dilakukan dengan menyakiti diri sendiri maupun orang lain.

Untuk mendukung proses tersebut, Agnes menyediakan ruang bagi anak untuk menenangkan diri. Setelah emosinya mulai mereda, anak diberi pilihan tentang cara kembali mengikuti kegiatan.

Pendekatan itu berkaitan dengan pembelajaran diferensiasi, yakni memberikan pilihan dan menyesuaikan pendekatan pembelajaran dengan kebutuhan anak.

Mereka dapat memilih tempat atau cara yang membuatnya lebih nyaman sebelum kembali terlibat dalam kegiatan belajar.

Di kelas, Agnes juga menyediakan calm corner, sebuah sudut yang dapat digunakan anak untuk menenangkan diri.

Baginya, menghadapi anak yang sedang menangis bukan hanya soal membuat tangisannya berhenti.

Lebih dari itu, ia ingin membantu anak mengenali perasaan, belajar menenangkan diri, dan perlahan membangun kemampuan mengatur emosi.

Agnes berusaha tidak langsung memaksa anak mengikuti kegiatan ketika mereka belum siap.

Ia ingin anak memiliki kesempatan untuk mengenali perasaan dan kebutuhannya dengan cara yang aman.

Perilaku anak, menurutnya, bukan semata-mata sesuatu yang harus dihentikan. Perilaku itu juga merupakan bagian dari proses perkembangan yang perlu dipahami dan dibimbing.

Dari Kelas yang Menantang, Tumbuh Pemahaman Baru

Salah satu pengalaman yang membekas bagi Agnes terjadi ketika ia mengajar kelompok bermain.

Pada awal tahun ajaran, hampir semua anak di kelasnya memiliki karakter yang sangat aktif.

Mereka kerap berlari keluar kelas, berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, berebut mainan, dan kesulitan mengikuti rutinitas bersama.

Situasi itu cukup menantang. Anak-anak masih berada pada tahap perkembangan ketika mereka cenderung berfokus pada kebutuhan dan keinginan sendiri, sementara rentang perhatian mereka juga masih pendek.

Agnes kemudian menyadari bahwa yang dibutuhkan anak-anak bukanlah semakin banyak aturan, melainkan lingkungan yang aman, hubungan yang hangat, dan rutinitas yang konsisten.

Ia mulai memusatkan perhatian pada upaya membangun hubungan dengan anak-anak.

Kegiatan dibuat lebih menarik dan disesuaikan dengan kebutuhan mereka untuk bergerak. Batasan tetap diberikan, tetapi dengan cara yang positif dan konsisten.

Ia juga terus berkomunikasi dengan orang tua agar dukungan di rumah dan di sekolah dapat berjalan searah.

Miss Agnes saat mengikuti kongres internasional melalui zoom. (FOTO:DOK.PRIBADI)

Perubahan tidak terjadi dalam sekejap. Namun, seiring berjalannya waktu, anak-anak mulai merasa lebih nyaman berada di kelas.

Mereka perlahan mampu mengikuti rutinitas sederhana, menunggu giliran, dan terlibat lebih lama dalam kegiatan bermain serta belajar.

Anak-anak itu tetap aktif, tetapi energi mereka mulai lebih terarah.

Pengalaman tersebut mengajarkan Agnes bahwa kesabaran, konsistensi, dan hubungan yang penuh kasih merupakan bagian penting dalam membantu anak berkembang.

Ia juga semakin memahami bahwa setiap anak berbeda, baik dari segi cara berkembang, kebutuhan, perasaan, maupun kondisi fisiknya.

Karena itu, ia berusaha mengenal anak dan keluarganya terlebih dahulu agar dapat memberikan dukungan yang sesuai.

Agnes juga menyoroti tantangan penggunaan teknologi dan gawai pada anak usia dini.

Menurutnya, teknologi memang menawarkan berbagai peluang, tetapi penggunaan layar secara berlebihan dapat mengurangi kesempatan anak memperoleh pengalaman belajar yang melibatkan sentuhan, gerakan, penciuman, keseimbangan, dan koordinasi tubuh.

Karena itu, ia mendorong orang tua untuk mendampingi penggunaan gawai, memberikan waktu berkualitas bersama anak, bermain bersama, mendengarkan cerita mereka, serta memberikan kesempatan untuk belajar bertanggung jawab.

Orang tua juga perlu menjadi teladan dalam berdoa, menjaga diri, menghormati orang lain, dan menunjukkan kepedulian.

Di tengah perubahan zaman dan perkembangan teknologi, Agnes berharap anak-anak tetap tumbuh dengan nilai kejujuran, empati, tanggung jawab, keterbukaan pikiran, dan rasa hormat.

Ia juga ingin mereka memiliki self-esteem, atau penghargaan terhadap diri sendiri, yang positif.

Baginya, bermain tetap menjadi bagian penting dari pendidikan. Melalui bermain, anak belajar memahami dunia secara alami dan menyenangkan, beradaptasi, memecahkan masalah, membangun hubungan, serta mengenali diri dan lingkungannya.

Menanamkan Kebaikan Sejak Dini

Di antara berbagai kemampuan yang ingin dikembangkan, Agnes memiliki satu nilai kehidupan yang terus ia tanamkan kepada anak-anak adalah berbuat baik.

Ia ingin anak-anak memahami bahwa kebaikan perlu diwujudkan dalam tindakan sehari-hari, baik melalui perkataan maupun perilaku kepada orang lain.

Dalam kesehariannya, ia juga mengingatkan anak-anak bahwa mereka adalah anak-anak Tuhan yang diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang baik.

Bagi Agnes, pendidikan tidak hanya mempersiapkan anak untuk naik ke jenjang sekolah berikutnya.

Pendidikan juga merupakan proses membantu anak mengenal dirinya, memahami orang lain, dan belajar hidup bersama dengan penuh kepedulian.

Harapan terbesarnya adalah melihat anak-anak bertumbuh melalui proses masing-masing. Ia ingin mereka semakin nyaman dengan dirinya sendiri, memiliki kesiapan mental, mampu menghadapi orang lain, dan mempunyai kemampuan mengelola emosi dengan baik.

Kemampuan mengatur diri atau self-regulation menjadi salah satu hal yang sangat ia harapkan tumbuh dalam diri anak-anak yang didampinginya.

Miss Agnes membawa anak-anak mengenal lingkungan sekolah. (FOTO:DOK.PRIBADI)

Sebab, menurutnya, anak yang mampu mengenali perasaannya dan belajar mengelola respons akan memiliki bekal penting untuk menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.

Dari pengalaman mendampingi anak-anak, Agnes belajar bahwa keberhasilan seorang pendidik tidak selalu ditandai oleh pencapaian besar yang langsung terlihat. Terkadang, keberhasilan justru hadir melalui perubahan kecil, yakni anak yang mulai berani berbicara, mampu menunggu giliran, atau mengingatkan temannya untuk bermain di tempat yang aman.

Perubahan-perubahan sederhana itulah yang membuatnya terus bersemangat menjalani profesi sebagai guru PAUD.

Florence, Sosok yang Menguatkan Langkahnya

Di balik kecintaan Agnes terhadap dunia pendidikan anak usia dini, ada sosok yang turut menginspirasinya untuk terus belajar dan bertumbuh, yaitu ibu mertuanya, Florence Adolte Boray.

Agnes melihat semangat mendidik dalam keseharian Florence, terutama ketika keluarga berkumpul pada masa liburan.

Florence kerap menyiapkan bahan atau kegiatan untuk mengajar cucu-cucunya.

Cara Florence berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak-anak meninggalkan kesan mendalam bagi Agnes.

Ia melihat bagaimana sang ibu membangun kedekatan dengan cucu-cucunya sekaligus menghadirkan pengalaman belajar melalui kegiatan sederhana.

Dari sana, Agnes semakin termotivasi untuk menekuni profesinya sebagai guru PAUD.

Ia tidak hanya mengamati, tetapi juga belajar langsung dari Florence.

Ketika menghadapi situasi tertentu dalam mendampingi anak, Agnes tidak segan bertanya kepada ibu mertuanya tentang cara menghadapi perilaku anak. Ia juga terus belajar dari rekan kerja dan lingkungan sekolah.

Baginya, menjadi pendidik berarti bersedia terus belajar, termasuk dari pengalaman orang-orang di sekitarnya. Tidak semua jawaban ditemukan dalam buku atau teori pendidikan. Ada pula pelajaran yang datang melalui pengamatan, percakapan, dan pengalaman sehari-hari bersama anak-anak.

Sosok Florence menjadi salah satu sumber semangat yang menguatkan Agnes untuk terus mendampingi anak-anak dan mengembangkan kemampuannya sebagai pendidik.

Bagi Florence Boray, mengenal Theresa Agnes Boki bukan sekadar bertemu dengan seorang rekan saat menempuh pendidikan magister PAUD.

Pertemuan mereka di Universitas Panca Sakti Bekasi menjadi awal dari hubungan yang kemudian berkembang menjadi ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan menumbuhkan harapan bagi pendidikan anak usia dini di Papua.

Florence, seorang guru senior PAUD yang telah berkecimpung selama 26 tahun di dunia pendidikan, melihat Agnes sebagai sosok yang terus bertumbuh.

“Saya menyaksikan bagaimana pengalaman belajar, kemauan untuk mendengarkan, dan pendalaman ilmu PAUD ikut membentuk Agnes menjadi pendidik yang semakin matang,” kata Florence saat dihubungi via ponselnya, Senin (19/10/2026).

Hubungan itu semakin dekat ketika Agnes mengundang Florence untuk menjadi expert atau narasumber ahli dalam kegiatan mendongeng di Satuan PAUD YPJ Kuala Kencana, Timika, Kabupaten Mimika.

Undangan tersebut bukan hanya menjadi kesempatan bagi Florence untuk berbagi ilmu.

Baginya, pertemuan itu juga membuka ruang untuk melihat secara langsung bagaimana Agnes menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam mendampingi anak-anak.

“Agnes memiliki latar belakang sebagai guru. Namun, setelah menempuh S2 PAUD, ilmu yang didalaminya membawa perubahan dalam cara ia mendidik dan mendampingi anak-anak. Ia semakin terampil menjadi guru PAUD di berbagai jenjang,” demikian Florence menggambarkan perkembangan Agnes.

Menjadi Guru yang Memahami Dunia Anak

Bagi Florence, menjadi guru PAUD bukan semata-mata tentang menyampaikan materi atau memberikan tugas kepada anak.

Ada dunia perasaan yang perlu dipahami, ada kebutuhan yang harus dikenali, dan ada proses tumbuh kembang yang membutuhkan kesabaran.

Pengalaman Florence beberapa kali berkunjung ke Satuan PAUD YPJ Kuala Kencana, termasuk ketika mengantarkan dokumen ijazah, memberinya kesempatan untuk melihat Agnes saat menjalankan tugasnya.

Dalam pengamatannya, Agnes mampu membangun kedekatan dengan anak-anak.

Anak-anak tampak nyaman berada bersamanya.

Di kelompok usia lima hingga enam tahun, mereka dapat menikmati kegiatan belajar dan menyelesaikan berbagai aktivitas kreativitas yang diberikan guru.

Florence juga melihat keramahan Agnes dalam memperlakukan anak-anak.

Ketika seorang anak membutuhkan perhatian, Agnes tidak segan menggendongnya. Ketika muncul persoalan, ia berusaha mendampingi anak dan mencari jalan keluar sesuai kebutuhan mereka.

Bagi Florence, sikap semacam itu lahir dari perpaduan keterampilan, pengalaman, dan kepekaan terhadap dunia anak.

“Theressa memiliki sifat keibuan. Hal ini sangat penting bagi seorang guru anak usia dini,” ungkapnya.

Sebab, anak-anak tidak hanya membutuhkan guru yang mampu mengajar.

Mereka juga membutuhkan orang dewasa yang membuat mereka merasa aman, diterima, dan berani menjalani proses belajar.

Penilaian Florence terhadap Agnes tidak hanya terbentuk ketika melihatnya mengajar di sekolah.

Ia juga mengenal sisi pribadi Agnes melalui beberapa kesempatan berkunjung ke rumah kediamannya.

Dari pertemuan-pertemuan itu, Florence melihat Agnes sebagai pribadi yang berusaha menghadapi tantangan kehidupan dengan tenang.

Ia dinilai mampu memikirkan persoalan, mencari jalan keluar, dan menemukan solusi ketika menghadapi kesulitan.

Bagi Florence, kemampuan tersebut menjadi bekal penting bagi seorang pendidik.

Kehidupan di ruang kelas tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Setiap anak memiliki karakter, kebutuhan, dan persoalan yang berbeda. Karena itu, guru perlu memiliki kesabaran sekaligus kemampuan untuk mencari pendekatan yang tepat.

Florence juga melihat Agnes sebagai pendengar yang baik.

Dalam hubungan mereka, pengalaman Florence sebagai guru senior dan asesor badan akreditasi menjadi kesempatan untuk berbagi pandangan tentang bagaimana menjadi guru yang terus berkembang.

Ia berusaha menyampaikan berbagai pengalaman dan inspirasi agar Agnes dapat semakin mantap menjalani perannya sebagai pendidik di YPJ.

Bagi Florence, seorang guru yang baik bukanlah orang yang merasa sudah mengetahui segalanya.

Sebaliknya, guru yang hebat adalah mereka yang tetap membuka diri terhadap pengalaman, masukan, dan pengetahuan baru.

Dari Mendongeng Menuju Buku Cerita Anak Papua

Salah satu hal yang membekas bagi Florence sejak pertemuan mereka sebagai narasumber ahli adalah keinginan untuk bekerja sama menulis dan menyusun buku cerita anak.

Mereka memiliki harapan yang sama: menghadirkan cerita dongeng, legenda, dan fabel yang bersumber dari kekayaan budaya lokal Papua untuk anak-anak PAUD.

Bagi keduanya, cerita bukan sekadar hiburan sebelum anak tidur atau pengisi waktu di kelas.

Cerita dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan bahasa, nilai kehidupan, budaya, dan lingkungan kepada anak sejak dini.

Melalui cerita lokal, anak-anak Papua diharapkan dapat mengenal kembali kekayaan tradisi yang hidup di tengah masyarakat mereka.

Pada saat yang sama, kegiatan mendongeng dan membaca cerita dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan literasi dan numerasi anak usia dini.

Florence melihat gagasan tersebut sebagai sesuatu yang penting untuk terus dikembangkan.

Di tengah perubahan zaman, cerita-cerita lokal perlu dirawat agar tetap dekat dengan generasi muda.

Keinginan untuk menulis bersama itu juga mencerminkan hubungan mereka yang tidak berhenti pada proses berbagi ilmu di ruang kelas atau kegiatan pelatihan.

Ada cita-cita yang ingin diwujudkan bersama, yakni menghadirkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan anak-anak Papua.

Semangat untuk Terus Belajar

Di mata Florence, Agnes memiliki ketertarikan besar terhadap pengetahuan.

Ia gemar membaca berbagai sumber digital untuk memperkaya wawasan.

Kebiasaan itu berjalan beriringan dengan kegemarannya menulis, yang telah melahirkan sejumlah buku.

Florence juga menilai Agnes memiliki keterampilan teknologi informasi (IT) yang baik.

Kemampuan tersebut menjadi modal untuk menghadirkan pembelajaran dalam bentuk digital yang sesuai dengan perkembangan zaman.

Bagi dunia PAUD, teknologi bukan tujuan akhir.

Miss Agnes saat mengajarkan kepada anak-anak tentang emosi dan perasaan

Teknologi perlu digunakan sebagai sarana untuk memperkaya pengalaman belajar anak, dengan tetap memperhatikan kebutuhan, usia, dan tahap perkembangannya.

Florence berharap keterampilan yang dimiliki Agnes dapat terus dikembangkan agar pembelajaran di lingkungan sekolah semakin kreatif dan relevan, tanpa meninggalkan kebutuhan dasar anak untuk bermain, berinteraksi, dan belajar melalui pengalaman langsung.

Sebagai guru senior yang telah menjalani puluhan tahun pengabdian, Florence memahami bahwa dunia pendidikan selalu berubah.

Karena itu, guru harus bersedia belajar, menyesuaikan diri, dan memperbarui pengetahuannya.

Ia melihat semangat tersebut dalam diri Agnes, yakni kemauan untuk membaca, menulis, mencoba pendekatan baru, serta menyerap pengalaman dari orang-orang yang ditemuinya.

Noken Papua, Simbol Guru yang Terus Belajar

Pada akhirnya, harapan Florence bukan hanya tertuju kepada Agnes seorang.

Ia berharap Agnes dan rekan-rekan pendidik lainnya dapat terus membawa semangat belajar dan berbagi bagi kemajuan pendidikan di Mimika, Papua Tengah, dan Indonesia.

Bagi Florence, pengalaman seorang guru senior dapat menjadi sumber pembelajaran bagi guru yang lebih muda.

Namun, proses itu tidak berhenti pada satu arah. Guru muda juga memiliki kesempatan untuk menghadirkan gagasan, keterampilan, dan pendekatan baru yang dapat memperkaya dunia pendidikan.

Ia mengibaratkan semangat tersebut seperti Noken Papua, Guru Kehidupan, yaitu wadah yang menampung pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai, dan kebijaksanaan yang diwariskan dari satu orang kepada orang lain.

Pesannya sederhana, tetapi mendalam. Dengarkan pengalaman orang lain. Belajarlah dari guru senior, dari rekan kerja, dan dari siapa pun yang layak menjadi panutan.

“Jangan pernah merasa selesai belajar hanya karena telah memperoleh gelar atau pengalaman mengajar.

Guru adalah pembelajar sepanjang masa. Long life education, belajar sepanjang hayat,” demikian pesan Florence.

Ia berharap para guru, termasuk Agnes dan rekan-rekannya di Mimika, terus bertumbuh dengan memadukan pengalaman, kepekaan terhadap anak, dan kemampuan memanfaatkan teknologi informasi.

Dengan guru-guru yang mau belajar, berani mencoba, serta mampu memahami kebutuhan anak, Florence percaya pendidikan di Mimika akan semakin maju, Papua Tengah akan semakin hebat, dan Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih baik.

Dari Pengalaman Belajar Menjadi Buku Anak

Semangat Agnes untuk terus belajar juga mendorongnya mencoba hal baru di luar kegiatan mengajar. Salah satunya adalah menulis buku.

Ketika menempuh pendidikan S-2 di bidang PAUD, ia bersama rekan-rekannya mendapat tugas menyusun buku yang berkaitan dengan materi dan pengalaman belajar selama perkuliahan.

Ia menyebut kelompoknya menghasilkan sekitar lima buku, meskipun yang diterbitkan hanya sekitar tiga buku. Tema-temanya antara lain kehidupan anak, pendidikan inklusi, dan literasi.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan mengubah pengetahuan yang diperoleh selama studi menjadi karya tertulis. Dari sana, muncul keinginan untuk mencoba menulis buku anak.

Keinginan itu semakin dekat dengan kehidupan keluarganya ketika ia dan Florence mencoba menyusun cerita yang dapat dinikmati anak-anak.

Salah satu buku yang dihasilkan berjudul Asal Mula Burung Cenderawasih: Kisah Logohu Si Gagak Hitam.

Buku berukuran 20 x 20 sentimeter itu disebut terbit pada Oktober 2026.

Buku tersebut digagas dan ditulis oleh Florence Adole Boray dengan Agnes sebagai ilustrator.

Dalam prosesnya, keduanya berupaya menghadirkan dongeng fabel dari Papua yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai moral yang penting bagi kehidupan sehari-hari.

“Dongeng fabel dari Papua ini disusun sebagai bentuk upaya untuk menghadirkan cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral yang penting bagi kehidupan sehari-hari,” ujar Agnes.

Bagi Agnes, pengalaman membuat buku menjadi bagian lain dari perjalanan pendidikannya. Jika di ruang kelas ia mendampingi anak belajar secara langsung, melalui buku ia dapat menghadirkan cerita yang bisa dinikmati anak-anak melalui bacaan dan ilustrasi.

Cenderawasih dan Perjalanan Menerima Diri

Dalam cerita Asal Mula Burung Cenderawasih: Kisah Logohu Si Gagak Hitam, kisah berpusat pada seekor burung gagak berwarna hitam yang merasa dirinya buruk dibandingkan burung-burung lain.

Ia ingin menjadi burung yang paling cantik. Perasaan itu membuatnya sedih, terlebih ketika ia merasa dirundung oleh burung-burung yang dianggap lebih cantik, termasuk cenderawasih.

Theresa Agnes Boki (kiri) bersama Florence Adolte Boray, M. Si., M.Pd menerbitkan buku legenda dari Papua “Asal Mula Burung Cenderawasih” (Kisah Logohu si Gagak Hitam )

Dalam perjalanan mencari keindahan yang diinginkannya, si gagak akhirnya bertemu dengan Raja Rimba. Sang raja memberinya tantangan sebagai bagian dari perjalanan untuk menjadi burung yang cantik.

Namun, Raja Rimba juga mengingatkan bahwa menjadi burung dengan bulu yang indah memiliki konsekuensi. Bulu dan ekor yang menarik perhatian dapat membuat burung menjadi sasaran para pemburu.

Melalui kisah ini, cerita tentang cenderawasih tidak hanya berbicara mengenai keinginan untuk menjadi cantik.

Ada pula pesan tentang cara seseorang memandang dirinya sendiri, keinginan untuk diterima, dan risiko yang terkadang tidak terlihat ketika seseorang hanya berfokus pada penampilan.

Bagi pembaca anak, cerita tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk membicarakan rasa percaya diri, perundungan, dan pentingnya menghargai diri sendiri.

Keindahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan orang lain. Sebaliknya, keinginan untuk menjadi seperti orang lain juga perlu disertai pemahaman bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Dengan menghadirkan burung sebagai tokoh cerita, buku tersebut mengangkat tema yang dekat dengan alam Papua sekaligus membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar tentang penerimaan diri dan cara memperlakukan sesama.

Bagi Agnes, cerita anak dapat menjadi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka.

Pesan tentang kebaikan, keberanian, dan penghargaan terhadap diri sendiri tidak harus selalu disampaikan melalui nasihat panjang. Cerita dan tokoh yang menarik dapat membantu anak memahami nilai-nilai itu secara perlahan.

Bob dan Ben, Boneka Kecil yang Membuka Pintu Kedekatan

Membangun kedekatan dengan anak-anak tidak selalu harus dimulai melalui percakapan panjang.

Dengan menggunakan sebuah boneka kecil justru menjadi jembatan untuk membuat anak merasa nyaman dan berani membuka diri.

Salah satu cara yang sering digunakan Miss Agnes adalah memainkan boneka tangan atau puppet.

Ia selalu menghadirkan sosok bernama Bob dan Ben, karakter yang diperankannya ketika pertama kali bertemu anak-anak baru di TK-A PAUD YPJ Kuala Kencana.

“Halo, namamu siapa? Aku Ben. Salam kenal, ya! Boleh tos?”

Sapaan itu terdengar sederhana. Namun, bagi anak-anak yang baru bertemu dengan guru dan lingkungan sekolah, sapaan dari sebuah boneka kecil bisa menjadi awal dari keberanian untuk mengenal orang baru.

Pagi itu, suasana kelas TKA 2 PAUD YPJ Kuala Kencana terasa berbeda.

Di hadapan anak-anak, Miss Agnes menghadirkan dua tokoh yang segera mencuri perhatian mereka.

Bob dan Ben, boneka tangan yang menjadi teman berkenalan sekaligus jembatan untuk membangun kedekatan.

Bagi sebagian anak, bertemu dengan orang baru bukan perkara mudah.

yang masih malu-malu, memilih diam, atau membutuhkan waktu sebelum berani menyapa. Miss Agnes memahami bahwa setiap anak memiliki cara dan waktunya sendiri untuk merasa nyaman.

Karena itu, ia tidak langsung meminta anak-anak memperkenalkan diri satu per satu. Ia justru membiarkan Bob mengambil peran pertama.

Dengan menggerakkan boneka tangan dan mengubah suaranya, Miss Agnes menghidupkan karakter Bob seolah-olah ia adalah seorang anak yang baru pertama kali datang ke sekolah.

“Pagi, teman-teman semua. Bob belum pernah bersekolah di sini, jadi Bob ingin tahu apa yang kalian sukai di sekolah ini,” ujar Miss Agnes melalui suara boneka Bob.

Percakapan kemudian berlanjut. Miss Agnes menceritakan bahwa dirinya senang membacakan buku cerita untuk anak-anak di sekolah. Ia lalu mengajak mereka berbagi tentang hal-hal yang mereka sukai.

“Apa yang anak-anak sukai dari sekolah di PAUD YPJ Kuala Kencana?” tanyanya.

Pertanyaan itu disambut dengan jawaban penuh semangat.

“Aku suka sekali pergi ke sekolah! Aku suka mendengarkan cerita dari buku cerita Miss Agnes!”

Suasana kelas perlahan mencair. Anak-anak mulai terlibat dalam percakapan, menjawab pertanyaan, dan mengikuti permainan dengan antusias. Di ruang kelas berukuran sekitar 4 x 5 meter itu, tawa dan suara riang mereka mengisi pagi.

Bob pun mendapat sambutan hangat.

“Selamat datang, Bob, di sekolah PAUD YPJ Kuala Kencana! Kami senang sekali kalau Bob menjadi anak kelas TKA 2,” ujar anak-anak.

Melalui bonekanya, Miss Agnes membalas sapaan tersebut dengan ucapan terima kasih. Percakapan sederhana itu menjadi permainan yang menyenangkan sekaligus kesempatan bagi anak-anak untuk belajar menyambut teman baru.

Jika Bob membuka percakapan di depan kelas, Ben hadir untuk membangun kedekatan secara lebih personal.

Satu per satu, Ben menyapa anak-anak dengan pertanyaan sederhana.

“Halo! Nama kamu siapa?”

Seorang anak perempuan menjawab, “Namaku Kirana.”

“Halo, Kirana. Aku Ben. Salam kenal, ya! Tos?” ajak Ben.

Kirana pun menyambutnya dengan tos.

Ben kemudian melanjutkan perkenalan kepada anak-anak lainnya. Ada yang menyebutkan nama dengan percaya diri, ada yang menjawab sambil tersenyum, dan ada pula yang membutuhkan sedikit dorongan sebelum berani membalas sapaan.

“Halo! Namamu siapa?” tanya Ben kepada seorang anak.

“Namaku Tiana,” jawabnya.

“Salam kenal, ya. Mau salaman sama aku? Mau, enggak?”

Tiana menyambut ajakan itu. Ben pun berseru riang, “Yeah!”

Interaksi serupa berlangsung berulang kali.

Dengan sapaan, tos, dan jabat tangan, Ben mengajak setiap anak membangun hubungan melalui cara yang dekat dengan dunia mereka: bermain.

Tidak ada percakapan panjang atau pertanyaan yang rumit. Hanya sapaan singkat, respons spontan, dan kesempatan untuk saling mengenal.

Namun, dari momen-momen kecil itulah keberanian anak-anak mulai terlihat.

Bagi mereka, Ben bukan sekadar boneka tangan yang digerakkan oleh Miss Agnes. Ia menjadi tokoh yang mengundang rasa ingin tahu, menghibur, sekaligus membuat proses perkenalan terasa lebih ringan.

Ketika Anak Membutuhkan Rasa Aman

Meski sebagian besar anak menyambut Bob dan Ben dengan antusias, respons setiap anak tentu berbeda.

Di tengah suasana bermain, ada seorang anak yang menunjukkan rasa takut ketika berhadapan dengan boneka tangan tersebut. Momen spontan itu mengingatkan bahwa sesuatu yang menyenangkan bagi satu anak belum tentu langsung terasa nyaman bagi anak lainnya.

Miss Agnes tidak memaksakan interaksi. Ia mendekati anak tersebut, memberikan pelukan dan ketenangan, lalu membantunya merasa lebih aman.

Setelah mendapat pendampingan, anak itu kembali bermain bersama teman-temannya.

Bagi Miss Agnes, momen seperti ini merupakan bagian penting dari proses membangun kedekatan.

Anak-anak tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk berbicara dan bermain, tetapi juga ruang untuk merasa aman, diterima, dan dihargai ketika mereka belum siap.

Pendekatan melalui boneka tangan pun bukan semata-mata tentang membuat anak tertawa. Di balik permainan itu, ada upaya untuk memahami perasaan anak, menghormati respons mereka, dan membangun kepercayaan secara perlahan.

“Lewat cerita dan permainan peran, Bob dan Ben menjadi sosok yang mengundang rasa ingin tahu anak-anak. Mereka mulai tertarik, bersemangat, dan perlahan ingin terlibat dalam percakapan,” ungkap Miss Agnes.

Bagi Miss Agnes, Bob dan Ben bukan sekadar alat bantu mengajar. Keduanya menjadi bagian dari pendekatan untuk menciptakan pengalaman awal bersekolah yang menyenangkan bagi anak-anak.

Melalui karakter yang akrab dan permainan sederhana, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mengenal guru tanpa merasa sedang diuji. Mereka dapat menjawab sesuai kenyamanan, menyapa ketika siap, atau mengamati terlebih dahulu sebelum ikut bergabung.

Perlahan, suasana yang semula terasa asing berubah menjadi ruang yang lebih akrab. Anak-anak mulai berani menyebutkan nama, merespons sapaan, mengulurkan tangan untuk tos, bahkan menyambut kehadiran tokoh boneka di kelas mereka.

Pengalaman itu menunjukkan bahwa membangun kedekatan dengan anak tidak selalu membutuhkan metode yang rumit. Terkadang, yang diperlukan adalah kreativitas, kesabaran, dan kesediaan untuk melihat dunia dari sudut pandang anak-anak.

Sebuah boneka kecil mungkin hanya bergerak melalui tangan seorang guru. Namun, ketika dihidupkan dengan cerita, sapaan, dan perhatian yang tulus, boneka itu dapat membuka ruang bagi anak untuk mengenal orang lain dan menemukan keberanian dalam dirinya.

Di kelas TKA 2 PAUD YPJ Kuala Kencana, Bob dan Ben menghadirkan lebih dari sekadar permainan. Keduanya menjadi awal dari sebuah perkenalan, tempat rasa ingin tahu tumbuh, rasa takut perlahan mereda, dan kedekatan mulai terbangun.

Sebab, sebelum anak-anak merasa siap belajar bersama, mereka terlebih dahulu perlu merasa diterima.

Dan terkadang, pintu menuju rasa nyaman itu terbuka melalui sapaan sederhana dari seorang teman kecil bernama Bob atau Ben.

Menyambut Anak dengan Perasaan yang Berbeda

Bagi Agnes, proses belajar bahkan dimulai sebelum kegiatan pembelajaran resmi berlangsung. Cara guru menyambut anak ketika tiba di sekolah merupakan bagian penting dari upaya membangun rasa aman dan nyaman.

Setiap pagi, ia menyapa anak-anak yang datang. Ia juga berusaha mengetahui perasaan mereka dan memberikan pilihan cara menyapa, misalnya melalui tos atau gerakan menari.

Anak-anak juga memindahkan foto mereka sebagai bagian dari presensi, dari posisi di rumah ke posisi di sekolah.

“Dengan kegiatan sederhana ini membantu anak-anak menandai peralihan dari rumah menuju lingkungan sekolah,” paparnya.

Melalui rutinitas tersebut, Agnes ingin anak-anak merasa bahwa kedatangan mereka disambut dan keberadaan mereka diperhatikan.

Selain rutinitas penyambutan, ada kebiasaan lain yang secara konsisten ia terapkan setiap pagi: bermain bebas tanpa intervensi guru.

Kebiasaan ini berkaitan dengan pendekatan kurikulum International Baccalaureate (IB) yang digunakan di lingkungan sekolahnya. Dalam praktik yang diceritakannya, anak-anak diberi kesempatan bermain tanpa terus-menerus diarahkan atau diganggu oleh guru.

Agnes berusaha mempertahankan kebiasaan itu dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Ia percaya bahwa bermain bebas memberi kesempatan kepada anak untuk merasa nyaman, mengeksplorasi lingkungan, memilih aktivitas, dan berinteraksi sesuai minatnya.

Bagi Agnes, bermain bukan kegiatan yang harus selalu diisi dengan instruksi orang dewasa. Ada kalanya anak justru membutuhkan ruang untuk menentukan sendiri apa yang ingin dilakukan dan belajar melalui pengalamannya.

Dari rutinitas pagi yang sederhana hingga pendampingan saat anak menghadapi emosi, Agnes berusaha membangun lingkungan belajar yang memberi ruang bagi anak untuk tumbuh sesuai prosesnya.

Baginya, pendidikan anak usia dini adalah perjalanan panjang yang dimulai dari hal-hal kecil: menyapa anak dengan hangat, mendengarkan perasaannya, memberi kesempatan untuk bermain, dan menanamkan kebaikan dalam keseharian.

Belajar dan Berbagi dengan Sesama Guru

Di lingkungan sekolah, Agnes juga merasakan pentingnya hubungan baik dengan rekan-rekan kerja. Ia menggambarkan interaksi di antara para guru sebagai hubungan yang hangat dan saling mendukung.

Kebersamaan itu terbangun melalui kegiatan sehari-hari, mulai dari makan bersama, berkumpul di dapur, hingga mengikuti rapat. Di luar agenda formal, mereka juga memiliki kesempatan untuk bertukar cerita dan berbagi pengalaman.

Bagi Agnes, kebersamaan tersebut menjadi ruang untuk saling belajar.

“Bersama para guru kami intens mendiskusikan metode pembelajaran, berbagi ide, dan mencari cara yang sesuai untuk mendukung kebutuhan peserta didik,” jelasnya.

Ia sendiri memiliki ketertarikan besar terhadap perkembangan metode pembelajaran. Ketertarikan itu membuatnya terus mengeksplorasi pendekatan baru, baik melalui pembelajaran daring maupun pertemuan langsung.

Salah satu bidang yang menarik perhatiannya adalah hybrid learning dan microlearning. Ia ingin memahami bagaimana pendekatan pembelajaran dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi peserta didik saat ini.

Pengalamannya menjalani pembelajaran pada masa pandemi COVID-19 turut mendorong rasa ingin tahunya terhadap penggunaan teknologi dalam pendidikan. Ia melihat bahwa proses belajar dapat berlangsung melalui berbagai cara, termasuk dengan memanfaatkan media dan aplikasi digital.

Namun, ketertarikannya pada hybrid learning dan microlearning lebih diarahkan pada pembelajaran mahasiswa dan guru, bukan secara langsung pada kegiatan pembelajaran PAUD di kelasnya.

Baginya, pendidik perlu terus membuka diri terhadap perkembangan zaman. Setiap generasi memiliki karakteristik dan kebutuhan belajar yang berbeda, sehingga guru juga perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.

Dari Skripsi hingga Forum Pendidikan Internasional

Ketertarikan Agnes terhadap strategi pembelajaran telah tumbuh sejak masa kuliah. Ia mengingat kembali penelitian skripsinya yang membahas strategi memotivasi anak untuk mempelajari dan menguasai kosakata bahasa Inggris.

Saat itu, ia tertarik memahami bagaimana seseorang dapat terdorong untuk belajar bahasa Inggris dan bagaimana strategi pembelajaran dapat membantu proses penguasaan kosakata sejak dini.

Bertahun-tahun kemudian, pengalaman akademik tersebut menjadi salah satu bekal yang mendorongnya untuk terus mengeksplorasi metode pembelajaran.

Ia memanfaatkan kesempatan selama menempuh pendidikan S-2 untuk membaca, menulis, mengembangkan gagasan, dan mencoba menyampaikan pemikirannya kepada khalayak yang lebih luas.

Kesungguhan untuk terus belajar itu membawanya mengikuti sejumlah konferensi internasional.

Sekitar 2022, Agnes berpartisipasi dalam beberapa forum pendidikan, termasuk kegiatan yang diselenggarakan secara daring. Salah satu forum yang disebutnya adalah konferensi Education Influence pada Oktober 2022.

Dalam kegiatan tersebut, ia berkesempatan mempresentasikan gagasan pembelajaran dan mewakili Indonesia di antara peserta dari berbagai negara.

Ia juga menyebut pernah mengikuti forum yang berkaitan dengan International Baccalaureate (IB) serta kegiatan Association of National Plus Schools (ANPS), yang diingatnya berlangsung sekitar Maret dan April 2022.

Mengikuti konferensi internasional bukan berarti ia tidak pernah merasa gugup.

Agnes mengakui bahwa mempersiapkan presentasi dalam forum seperti itu dapat menimbulkan tekanan tersendiri.

Ia harus membaca, mempelajari materi, menyusun gagasan, dan mempersiapkan diri agar dapat menyampaikan hasil pemikirannya dengan baik.

Di tengah kesibukan tersebut, ia berusaha mengandalkan doa dan kerja keras. Ia menyebut prinsip ora et labora, yang berarti berdoa dan bekerja, sebagai pegangan dalam menjalani prosesnya.

Pendidikan S-2 juga memberikan bekal penting. Tuntutan untuk terus membaca dan menulis selama perkuliahan membantunya melatih kemampuan menyusun gagasan secara lebih terstruktur.

Ia pun berusaha memanfaatkan kesempatan mengikuti konferensi sebagai ruang belajar sekaligus mengembangkan pengalaman akademiknya.

Meski mengakui kemampuan bahasa Inggrisnya masih perlu terus ditingkatkan, Agnes tetap mencoba mengambil kesempatan ketika ada peluang untuk mempresentasikan gagasannya.

Baginya, keberanian untuk mencoba menjadi bagian penting dari proses bertumbuh. Ia percaya bahwa gagasan pembelajaran yang dikembangkan dengan sungguh-sungguh layak dibagikan, sekaligus diperkaya melalui diskusi dengan pendidik dan peneliti dari berbagai latar belakang.

Terus Belajar, Terus Mencoba

Perjalanan Agnes menunjukkan bahwa profesi guru tidak hanya berkaitan dengan kegiatan mengajar di ruang kelas. Di balik rutinitas menyambut anak, mendampingi emosi, dan merancang kegiatan bermain, ada proses belajar yang terus berlangsung.

Ia berusaha memperkaya pengetahuan melalui studi lanjut, menulis, berdiskusi dengan rekan kerja, mengeksplorasi metode pembelajaran, dan mengikuti forum akademik.

Semua itu menjadi bagian dari upayanya untuk memahami pendidikan dengan lebih luas.

“Saya ingin tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan perhatian pada kebutuhan dasar anak,  merasa aman, diterima, dihargai, dan memperoleh kesempatan untuk berkembang,” ujarnya.

Bagi Agnes, terus belajar bukan semata-mata tentang mengejar pencapaian pribadi. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat kembali memberi manfaat bagi dunia pendidikan, termasuk bagi anak-anak yang setiap hari ia dampingi.

Perjalanannya juga memperlihatkan bahwa profesi yang dijalani seseorang tidak selalu berawal dari cita-cita masa kecil.

Ada kalanya jalan hidup terbentuk dari kesempatan-kesempatan kecil, keberanian mencoba, dan kemauan untuk terus belajar.

Dari seorang perempuan pemalu yang pernah bekerja sebagai karyawati toko, Agnes kini mendampingi anak-anak membangun fondasi kehidupan.

Ia juga berusaha membawa gagasan tentang pembelajaran yang dekat dengan keseharian anak-anak Papua ke ruang yang lebih luas.

Dari boneka tangan bernama Bob hingga forum pendidikan internasional, Agnes terus mencari cara agar proses belajar menjadi lebih bermakna.

Langkahnya mungkin tidak selalu mudah, tetapi ia memilih untuk terus berusaha, belajar, dan berbagi.

Sebab, bagi Agnes, mendidik bukan hanya tentang menyiapkan anak untuk masa depan, melainkan juga tentang menemani mereka bertumbuh menjadi manusia yang mengenal dirinya, menghargai sesama, dan berani menghadapi dunia.

Christina Kbarek Mengenang Agnes

Christina Makmeser Irinai Kbarek memberi pengakuan bahwa Miss Agnes bukan sekadar seorang guru pendidikan anak usia dini (PAUD).

Ia adalah sosok pendidik yang terus bertumbuh, terbuka terhadap perubahan, dan memahami bahwa mendampingi anak-anak kecil membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengajarkan huruf dan angka.

Christina mengaku mengenal Agnes pada 2018, ketika dirinya berpindah dari jenjang sekolah dasar (SD) ke PAUD Tembagapura.

Christina Makmeser Irinai Kbarek. (FOTO:DOK.PRIBADI)

Saat itu, Agnes masih mengajar di PAUD Tembagapura sebelum akhirnya pindah ke PAUD Kuala Kencana pada 2020.

Dari interaksi selama bekerja bersama, Christina melihat bagaimana Agnes menjalani proses sebagai seorang pendidik. Ia tidak berhenti pada pengalaman mengajar di kelas, tetapi terus belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan paradigma pendidikan anak usia dini.

“Bu Agnes adalah pribadi yang berpikiran terbuka dan fast learner,” kata Christina, menggambarkan salah satu kekuatan utama Agnes dalam menjalani profesinya.

Bagi Christina, keterbukaan dan kemauan belajar tersebut menjadi modal penting bagi seorang guru PAUD.

Anak-anak memiliki karakter, kebutuhan, dan tahapan perkembangan yang berbeda. Karena itu, seorang pendidik perlu terus memperbarui pengetahuan sekaligus memahami setiap anak sebagai individu yang unik.

Perjalanan profesional Agnes pun terus berkembang. Ia menyelesaikan pendidikan magister di bidang PAUD dan Pendidikan Profesi Guru (PPG).

Dalam perkembangannya, Agnes juga beberapa kali mendapat kesempatan menjadi pembicara pada forum berskala nasional dan internasional.

Namun, kemampuan seorang guru PAUD tidak hanya terlihat dari pendidikan formal atau forum yang diikutinya.

Bagi Christina, hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut diterapkan dalam keseharian bersama anak-anak.

Christina melihat Agnes mengembangkan sejumlah teori pembelajaran PAUD dan menerapkannya dalam kegiatan di kelas.

Pendekatan tersebut sejalan dengan pemahaman bahwa pendidikan anak usia dini bukan semata-mata tentang mengenalkan angka, huruf, atau kemampuan akademik dasar.

Pada tahap ini, anak juga perlu belajar mengenali perasaan, membangun hubungan dengan orang lain, mengembangkan kemandirian, dan memperoleh rasa aman untuk mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.

Pengalaman Christina bersama Agnes pada 2018 menjadi salah satu gambaran tentang bagaimana pendekatan itu diterapkan.

Ketika mengajar anak-anak playgroup, Agnes pernah menghadapi seorang anak yang menangis dan menunjukkan perilaku tantrum karena mengalami separation anxiety, yakni kecemasan ketika harus berpisah dari orang yang dekat dengannya.

Dalam situasi tersebut, Agnes tidak sekadar meminta anak berhenti menangis.

Ia berupaya menenangkan anak melalui pendekatan sosial-emosional yang merujuk pada program Second Step, yang antara lain membantu anak mengenali perasaan dan belajar mengatur emosinya.

Bagi anak usia dini, berpisah dari orangtua atau pengasuh dapat menjadi pengalaman yang sulit. Tangisan dan ledakan emosi terkadang menjadi cara anak mengungkapkan ketakutan atau ketidaknyamanan yang belum mampu mereka jelaskan dengan kata-kata.

Di sinilah kesabaran dan pemahaman guru menjadi penting. Anak membutuhkan pendampingan agar merasa aman, bukan hanya instruksi untuk segera tenang.

“Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya pendekatan yang memperhatikan perkembangan sosial dan emosional anak, selain kemampuan akademik mereka,” ujarnya.

Tidak saja itu, selama Agnes mengajar di PAUD Tembagapura, Christina juga melihat penggunaan beragam kegiatan bermain yang mendorong anak mengeksplorasi lingkungan dan belajar melalui rasa ingin tahu.

Pendekatan play-based learning atau pembelajaran berbasis bermain memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar melalui pengalaman langsung. Sementara itu, pendekatan inquiry mendorong mereka mengamati, bertanya, mencoba, dan menemukan pemahaman melalui proses eksplorasi.

Bermain, dalam pendekatan ini, bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu.

Melalui permainan yang dirancang sesuai tahap perkembangan, anak dapat melatih kemampuan berpikir, berkomunikasi, bekerja sama, serta menyampaikan gagasan dan perasaannya.

Menurut Christina, kemampuan membangun interaksi yang baik menjadi bagian penting dari kekuatan Agnes sebagai pendidik.

“Agnes mampu menjalin hubungan yang membuat anak-anak merasa nyaman dan percaya kepadanya,” aku Christina.

Kepercayaan itu menjadi fondasi bagi proses belajar. Ketika anak merasa aman, mereka memiliki ruang untuk mencoba hal baru, mengungkapkan perasaan, dan perlahan membangun rasa percaya diri serta kemandirian.

Kesan Christina terhadap Agnes memperlihatkan perjalanan seorang guru yang terus mengembangkan diri, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman sehari-hari di ruang kelas.

Dari Tembagapura hingga Kuala Kencana, pengalaman Agnes menjadi pengingat bahwa pendidikan anak usia dini menuntut perpaduan antara pengetahuan, kreativitas, kesabaran, dan kepekaan terhadap kebutuhan setiap anak.

Sebab, di balik kegiatan bermain, bernyanyi, bercerita, atau mengenal huruf dan angka, ada proses yang jauh lebih mendasar, yakni membantu anak mengenal dirinya, memahami perasaannya, membangun hubungan dengan orang lain, dan tumbuh dengan rasa aman.

Lanjut Christina, salah satu kesan penting terhadap Agnes terletak pada keterbukaan untuk terus belajar dan kemampuannya membangun hubungan yang baik dengan anak-anak.

Sebuah pengingat bahwa dalam pendidikan anak usia dini, keberhasilan tidak selalu terlihat dari seberapa cepat seorang anak mampu membaca atau berhitung. Terkadang, keberhasilan bermula dari hal sederhana, dimana seorang anak yang semula menangis, perlahan merasa tenang karena menemukan sosok guru yang membuatnya merasa aman. (Maurits Sadipun)