SITE TOUR – Peserta Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-8 tahun 2026 mengunjungi Pusat Penelitian Reklamasi, Biodiversitas, dan Edukasi PT Freeport Indonesia di Mile Post (MP) 21, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Sabtu (24/10/2026). (FOTO: MAURITS/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id – Sebanyak 170 peserta Indonesian Fire and Rescue Competition (IFRC) ke-8 tahun 2026 dari 16 perusahaan energi dan pertambangan mengunjungi Pusat Penelitian Reklamasi, Biodiversitas, dan Edukasi PT Freeport Indonesia (PTFI) di Mile Post (MP) 21, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Sabtu (24/10/2026).

Dalam kunjungan tersebut, para peserta mengapresiasi inovasi perusahaan dalam pengelolaan lingkungan dan pelestarian keanekaragaman hayati.

Kunjungan lapangan atau site tour ini menjadi bagian dari rangkaian IFRC 2026 untuk memperluas wawasan peserta, tidak hanya dalam bidang pemadaman kebakaran dan penyelamatan, tetapi juga mengenai reklamasi lahan, pengelolaan lingkungan, dan konservasi satwa.

Rombongan berangkat dari kawasan Kuala Kencana Fire Ground (KKFG) menggunakan lima bus milik PTFI.

Sepanjang perjalanan melewati kawasan Lowland Industrial Park (LIP), peserta mendapat penjelasan dari tim Corporate Communications PTFI mengenai sejumlah area yang dilalui.

Setibanya di MP 21, rombongan disambut karyawan PTFI. Sebelum memulai kunjungan, seluruh peserta mengikuti pengarahan keselamatan (safety induction) yang disampaikan Agrian Mokodompit, Safety Officer Environmental Department.

Pengarahan tersebut bertujuan memastikan peserta memahami potensi bahaya, prosedur keselamatan, serta tata tertib selama berada di kawasan penelitian reklamasi dan biodiversitas PTFI.

Selama kunjungan, peserta didampingi karyawan bagian lingkungan. Tim rescue Freeport Kamoro, Adaro, dan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), misalnya, dipandu Kukuh Indra Kusuma.

Rute kunjungan meliputi area pembibitan (nursery), bangsal benih (seed room), budidaya ikan air tawar, konservasi kasuari, penangkaran kupu-kupu, penangkaran burung kakatua, hingga Graha Diorama Ekosistem.

Di Graha Diorama Ekosistem, peserta diperkenalkan dengan gambaran bentang alam Papua, mulai dari kawasan pesisir hingga hutan dan pegunungan tinggi di Grasberg.

General Superintendent Reclamation Biodiversity and Education PTFI, Roberth Sarwom, menjelaskan berbagai upaya perusahaan dalam mengelola lingkungan, mereklamasi lahan, memanfaatkan pasir sisa tambang (tailing), serta melestarikan satwa endemik Papua.

“Kawasan MP 21 merupakan salah satu fasilitas yang digunakan untuk melakukan penelitian dan pengembangan metode reklamasi, khususnya pada lahan yang didominasi pasir sisa hasil pengolahan bijih tambang,” ujarnya.

Roberth menerangkan, terdapat dua material utama yang dikelola dalam kegiatan pertambangan PTFI, yakni batuan penutup (overburden) dan pasir sisa tambang (tailing).

Batuan penutup merupakan material yang berada di atas deposit bijih dan harus dipindahkan untuk mengakses mineral bernilai ekonomis.

Sementara itu, tailing merupakan material sisa setelah mineral berharga dipisahkan melalui proses pengolahan bijih.

Material tailing dialirkan dari kawasan tambang di dataran tinggi menuju kawasan pengendapan di dataran rendah.

Karena kandungan unsur haranya relatif rendah, material tersebut memerlukan pengelolaan khusus agar dapat mendukung pertumbuhan tanaman.

Kawasan pengendapan tailing yang dikelola PTFI memiliki luas sekitar 23.000 hektare. Melalui penelitian di MP 21, perusahaan mengembangkan metode reklamasi sekaligus mengidentifikasi jenis tanaman yang mampu tumbuh pada media tersebut.

Peserta juga diperkenalkan dengan beragam tanaman kehutanan dan pertanian yang dibudidayakan sebagai bagian dari penelitian.

Pemantauan terhadap tanaman pangan dilakukan untuk memastikan kandungan logam beratnya tetap berada di bawah ambang batas yang berlaku.

Selain penelitian tanaman, kawasan MP 21 juga dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya ikan dan peternakan sapi.

Peserta berkesempatan melihat berbagai produk olahan dari tanaman yang dibudidayakan di kawasan tersebut, di antaranya cokelat berbahan kakao serta keripik pisang dan singkong.

Upaya pengelolaan lingkungan PTFI tidak hanya berfokus pada reklamasi lahan. Perusahaan juga menjalankan program penanaman mangrove bersama pemerintah serta kegiatan penghijauan di sejumlah wilayah Papua.

Dalam bidang konservasi satwa, PTFI bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk menangani satwa endemik Papua yang diselamatkan dari perdagangan atau penyelundupan ilegal.

Satwa tersebut menjalani pemeriksaan dan pemulihan sebelum dikembalikan ke habitat alaminya sesuai prosedur konservasi.

 Apresiasi Inovasi Freeport

Manager Tim Rescue PT INALUM, Muhammad Indar, mengaku terkesan dengan inovasi pengelolaan lingkungan yang dilakukan PTFI. Menurut dia, kunjungan tersebut memberikan pengalaman dan pengetahuan baru bagi peserta.

“Tadi sudah mengunjungi lokasi reklamasi, semuanya berkesan dan memberi pengalaman serta pengetahuan, sebab Freeport tidak hanya menambang, tapi memelihara flora dan menjaga kelestariannya. Saya kaget waktu diinfokan bahwa Freeport bersama BKSDA sudah selamatkan dan lepasliarkan 63 ribu kura-kura moncong babi,” ungkapnya.

Muhammad juga mengajak masyarakat untuk menjaga lingkungan sekaligus membangun budaya keselamatan dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita jaga dan selamatkan lingkungan, maka kita selamat,” tandasnya.

Apresiasi serupa disampaikan Arifin, perwakilan tim rescue PT Pamapersada Nusantara (PAMA).

XIa menilai kunjungan ke MP 21 memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat secara langsung upaya PTFI menjaga dan merawat keanekaragaman flora dan fauna.

Menurut Arifin, inovasi pelestarian lingkungan tersebut sangat baik dan diharapkan terus dikembangkan agar kelestarian flora dan fauna tetap terjaga pada masa mendatang.

Ia menambahkan, setiap lokasi yang dikunjungi memberikan kesan tersendiri sekaligus menambah pengetahuannya mengenai pengelolaan lingkungan di sektor pertambangan.

“Mile 21 keren, Freeport juga keren,” pungkasnya.

Kunjungan ke MP 21 menjadi bagian dari rangkaian IFRC 2026 yang memperluas wawasan peserta mengenai pentingnya keselamatan, tanggung jawab lingkungan, dan keberlanjutan dalam operasional industri pertambangan. (*)