Dr Yosua Noak Douw, S.Sos, M.Si, MA, Tokoh Muda Gereja-gereja Injili di Tanah Papua. (Foto: Istimewa)

MIMIKA, timikaexpress.id – SETIAP kali berjumpa dengan orang tua di kampung, dari lembah-lembah Pegunungan Tengah hingga kampung nelayan di pesisir, ada satu pertanyaan yang terus berulang: “Anak, siapa yang nanti jaga kami?”

Pertanyaan itu bukan basa-basi. Ia lahir dari pengalaman panjang hidup di atas tanah yang kaya, tetapi sering kali tidak merasa aman di atas tanahnya sendiri.

Orang asli Papua masih membutuhkan pemimpin. Bukan sekadar pejabat yang wajahnya terpampang di baliho, melainkan gembala yang sungguh-sungguh menjaga kehidupan, menegakkan keadilan, memulihkan martabat, dan menyiapkan masa depan generasi.

Namun, kebutuhan akan pemimpin selalu datang bersama sebuah peringatan. Tidak setiap orang yang dianggap pemimpin otomatis layak memimpin.

Jabatan dapat diperoleh melalui pemilihan, penunjukan atau pengakuan adat, tetapi kelayakan di hadapan Tuhan ditentukan oleh isi hati dan cara seseorang memakai kuasanya.

Karena itu, ada ajak kepada para pemimpin Papua raya, baik di pemerintahan, gereja, dewan adat, maupun organisasi pemuda, untuk duduk sejenak bersama sebuah kisah tua yang tak pernah usang: kisah Musa di Meribah.

Empat Puluh Tahun yang Berakhir di Nebo

Musa adalah pemimpin besar. Ia berhadapan dengan Firaun, menuntun bangsa budak keluar dari Mesir, dan selama empat puluh tahun berjalan bersama umat yang lapar, haus, takut, dan kerap memberontak. Ia menyaksikan laut terbelah, manna turun dari langit, serta air memancar di gurun.

Alkitab bahkan bersaksi bahwa “Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi” (Bilangan 12:3). Ia juga tidak memandang dirinya hebat; ketika dipanggil, ia mengaku tidak pandai bicara dan berat lidah (Keluaran 4:10).

Akan tetapi, di padang gurun Zin, ketika umat kembali kehausan dan bersungut-sungut, sesuatu retak dalam diri pemimpin yang lembut itu.

Tuhan memberi perintah yang jelas: ambil tongkat, kumpulkan umat bersama Harun, lalu berbicaralah kepada bukit batu itu di depan mata mereka supaya ia memberi airnya (Bilangan 20:8).

Musa memang mengambil tongkat dan mengumpulkan umat, tetapi kemudian berseru, “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Lalu ia mengangkat tangannya dan memukul batu itu dua kali (Bilangan 20:10–11).

Air keluar dengan limpahnya. Umat minum, ternak pun minum. Secara kasat mata, krisis selesai dan sang pemimpin berhasil. Tetapi Tuhan berfirman bahwa karena Musa dan Harun tidak percaya kepada-Nya dan tidak menghormati kekudusan-Nya di depan umat, mereka tidak akan membawa jemaah itu masuk ke negeri yang dijanjikan (Bilangan 20:12).

Empat puluh tahun pengabdian berujung di puncak Nebo, tempat Tuhan memperlihatkan seluruh negeri itu kepadanya sambil menegaskan bahwa ia tidak akan menyeberang ke sana (Ulangan 34:4).

Tujuan Baik Tidak Membenarkan Cara yang Salah

Inilah inti peringatan Meribah. Musa ingin rakyatnya minum; niatnya baik dan kebutuhannya mendesak. Namun ia menempuh jalan yang lahir dari amarah, bukan dari ketaatan. Kata “kami” dalam seruannya memperlihatkan pergeseran yang halus tetapi berbahaya: seolah-olah air itu keluar karena kuasa sang pemimpin, bukan karena kemurahan Allah.

Naskah renungan Musa: 40 Tahun Memimpin merangkumnya dengan tajam, “Pengabdian yang panjang tidak menggantikan ketaatan. Keberhasilan yang besar tidak membenarkan pelanggaran terhadap perintah Tuhan.” Dalam naskah Belajar dari Kepemimpinan Musa ditegaskan pula bahwa “hasil yang terlihat baik tidak otomatis membenarkan cara yang salah.”

Pola Meribah ternyata masih hidup di sekitar kita. Atas nama pembangunan, hutan dan dusun sagu dibuka tanpa persetujuan yang bebas dan jujur dari pemilik hak ulayat. Atas nama keamanan, kampung dikosongkan dan warga sipil yang tidak bersalah ikut menanggung derita pengungsian.

Atas nama percepatan, anggaran dibelanjakan tanpa perencanaan yang matang sehingga gedung sekolah dan puskesmas berdiri, tetapi guru dan tenaga kesehatannya tidak hadir.

Atas nama aspirasi, keputusan diambil tergesa-gesa demi tepuk tangan sesaat. Airnya mungkin keluar dan laporannya mungkin indah, tetapi batu yang dipukul meninggalkan retak dalam kepercayaan rakyat.

Mengapa pemimpin sebesar Musa bisa tergelincir? Karena tekanan yang menumpuk dapat mengikis kejernihan hati siapa saja.

Umat yang dipimpinnya pernah menyesali kepergian dari Mesir ketika tentara Firaun mengejar (Keluaran 14:11–12), dan kini kembali menyalahkannya di tengah gurun. Pemimpin di Papua mengalami hal serupa.

Ada yang mendukung, ada yang menolak, ada yang berharap, ada pula yang curiga karena pengalaman pahit masa lalu. Kritik datang dari kampung, tuntutan datang dari kota, dan tekanan datang dari pusat kekuasaan.

Dalam situasi seperti itu, godaan untuk “memukul batu” selalu ada: mengambil jalan pintas, membungkam suara yang berbeda atau menunjukkan kuasa agar disegani.

Justru di titik inilah iman seorang pemimpin diuji, bukan ketika keadaan tenang, melainkan ketika amarah dan kelelahan mendesak untuk mengambil alih.

Papua Masih Membutuhkan Pemimpin

Catatan ini bukan untuk menolak kepemimpinan, melainkan justru karena Papua sangat membutuhkannya.

Tanah ini diberkati dengan ratusan suku dan bahasa, gunung, hutan, laut serta kekayaan yang diincar banyak pihak. Namun di balik keindahan itu ada ibu yang kehilangan anak, anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang terusir dari kebun dan honainya serta generasi muda yang cemas akan hari esok.

Naskah renungan yang menjadi pijakan tulisan ini mengingatkan, “luka yang terlihat mungkin dapat diobati, tetapi luka sejarah, kehilangan, ketidakadilan, dan trauma yang tersimpan dalam hati masyarakat membutuhkan waktu, kebenaran, keadilan, kasih, dan pemulihan yang sungguh-sungguh.”

Karena itu, kehadiran pemimpin di Papua harus diukur dari empat hal yang sangat konkret. Pertama, perlindungan kehidupan: tidak ada kebijakan yang layak disebut berhasil bila dibayar dengan nyawa manusia. Kedua, keadilan: hukum harus berdiri tegak bagi rakyat kecil, bukan hanya bagi mereka yang berkuasa.

Ketiga, martabat. Orang asli Papua harus diperlakukan sebagai subjek yang didengar, bukan objek proyek. Keempat, masa depan generasi: setiap keputusan hari ini, entah soal tanah, tambang, hutan, pendidikan, maupun kesehatan akan diwariskan kepada anak cucu.

Firman Tuhan menegaskan apa yang dituntut dari setiap orang yang dipercaya, yakni “berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu” (Mikha 6:8).

Lima Pesan Iman bagi Pemimpin Papua Raya

Takut akan Tuhan. “Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan” (Amsal 9:10). Pemimpin yang takut akan Tuhan sadar bahwa kekuasaan adalah titipan, bukan milik pribadi.

Ia lebih takut melukai rakyat di hadapan Allah daripada kehilangan kursi di hadapan manusia. Rasa takut akan Tuhan menjadi rem yang paling kuat ketika godaan suap, manipulasi, dan penyalahgunaan wewenang datang mengetuk pintu.

Musa menjadi besar justru karena ia lembut hati. Kerendahan hati tidak berarti lemah tetapi bersedia mendengar mama-mama di pasar, tokoh adat di para-para, pendeta di mimbar, dan kritik orang muda di media sosial.

Naskah Belajar dari Kepemimpinan Musa menulis, “pemimpin yang takut akan Tuhan bukanlah pemimpin yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan pemimpin yang menyadari keterbatasannya, bersedia menerima teguran, dan tidak menempatkan kehendak pribadinya di atas kebenaran.”

Meribah adalah kisah tentang amarah yang mengambil alih kemudi. Rasul Yakobus menasihati agar setiap orang cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat marah, “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yakobus 1:19–20).

Di Papua, satu keputusan emosional dapat memperpanjang konflik bertahun-tahun. Namun tidak gegabah juga bukan alasan untuk lamban ketika nyawa rakyat terancam. Seperti ditegaskan dalam naskah renungan, pemimpin harus mampu “membedakan antara ketegasan dan ketergesa-gesaan, antara keberanian dan kecerobohan.”

Dalam tata kelola pemerintahan, ketaatan kepada Tuhan diwujudkan melalui kepatuhan pada hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia, keterbukaan anggaran, serta keputusan yang berdasar pada fakta dan kepentingan umum. Kebenaran tidak boleh ditawar demi kepentingan kelompok, marga, partai, atau investor. Jalan yang benar kadang terasa lebih panjang, tetapi hanya jalan itulah yang tidak meninggalkan luka baru.

Tuhan tidak mendiamkan pukulan Musa, meskipun airnya keluar. Artinya, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya oleh rakyat dan lembaga pengawas, tetapi oleh Allah sendiri.

Yesus berkata, “Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut” (Lukas 12:48). Pemimpin yang bertanggung jawab berani mengakui kekeliruan, memperbaikinya, dan tidak sibuk mencari kambing hitam.

Dari Puncak Nebo, Sebuah Harapan

Kisah Musa tidak berakhir dengan kehinaan. Tuhan tetap memakai hidupnya dan melanjutkan perjalanan umat melalui Yosua. Ini kabar baik bagi Papua: kegagalan seorang pemimpin bukanlah akhir sejarah sebuah bangsa, asalkan ada yang mau belajar.

Generasi pemimpin Papua hari ini dapat memilih untuk tidak mengulangi Meribah, memilih berbicara kepada batu sesuai perintah Tuhan, bukan memukulnya karena amarah dan ambisi.

Pesan ini tidak hanya berlaku bagi gubernur, bupati atau anggota dewan. Para gembala jemaat, kepala suku, pemimpin perempuan, kepala kampung, dan pemuda yang kelak memegang tongkat kepemimpinan juga sedang berdiri di depan batu yang sama.

Setiap hari mereka diperhadapkan pada pilihan: taat atau mengikuti emosi, mendengar atau memaksakan kehendak, melayani atau dilayani. Gereja di tanah Papua pun memikul panggilan untuk terus mendoakan, menegur dengan kasih, dan membentuk pemimpin yang berintegritas sejak dari sekolah minggu hingga mimbar.

Pada akhirnya, ada satu kalimat dari naskah renungan bagi setiap pemimpin di tanah Papua: “Pencapaian masa lalu tidak dapat membenarkan ketidaktaatan hari ini. Niat baik manusia tidak dapat menggantikan perintah Tuhan.”

Rakyat Papua tidak meminta pemimpin yang sempurna. Mereka hanya merindukan pemimpin yang takut akan Tuhan, rendah hati, tidak gegabah, taat pada kebenaran, dan berani bertanggung jawab. Pemimpin seperti itulah yang tidak sekadar memandang tanah perjanjian dari kejauhan, tetapi menuntun rakyatnya masuk ke dalam damai, keadilan, dan masa depan yang Tuhan sediakan. (*)