Sekretaris BPBD-KP Papua Tengah, Marthinus Rumbino. (FOTO:IST)
NABIRE, timikaexpress.id – Pemerintah Provinsi Papua Tengah meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak fenomena El Nino yang memicu musim kemarau berkepanjangan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Nabire.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan krisis air bersih, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), gangguan kesehatan, serta terganggunya sektor pertanian dan transportasi.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Kebakaran dan Penyelamatan (BPBD-KP) Papua Tengah, Marthinus Rumbino, mengatakan pihaknya telah memperkuat koordinasi lintas sektor untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan karhutla.
Koordinasi dilakukan bersama BPBD kabupaten, pemadam kebakaran, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), TNI-Polri serta pemerintah daerah.
“Informasi mengenai kondisi cuaca sangat penting dalam penanganan bencana. Karena itu, kami terus membangun komunikasi dengan semua pihak,” ujar Marthinus saat ditemui di Posko Penanganan Kompleks Bandara Lama Nabire, Sabtu (22/8/2026).
Menurutnya, berkurangnya curah hujan mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih.
Kekeringan juga berpotensi mengganggu sektor pertanian karena tanaman dapat mengalami gagal panen.
Jika produksi pangan menurun, kata Marthinus, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat meningkat dan berdampak terhadap harga kebutuhan pokok serta inflasi.
Selain krisis air, karhutla menjadi ancaman serius selama musim kemarau.
Vegetasi dan rumput yang mengering mudah terbakar, sementara asapnya dapat mengganggu kesehatan masyarakat dan jarak pandang, termasuk di sekitar kawasan bandara.
“Karhutla bukan hanya persoalan hutan dan lahan. Dampaknya bisa ke kesehatan, aktivitas masyarakat, pertanian bahkan penerbangan apabila asap mengganggu jarak pandang,” katanya.
BPBD-KP Papua Tengah mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, membakar sampah sembarangan maupun membuang puntung rokok yang belum benar-benar padam.
“Jangan berpikir api kecil tidak berbahaya. Dalam kondisi seperti sekarang, rumput dan bahan-bahan kering sudah tersedia. Tinggal ada pemicu, api bisa langsung menyebar,” tegasnya.
BPBD-KP bersama BMKG dan aparat keamanan juga terus memantau perkembangan titik panas serta kondisi cuaca.
Masyarakat diminta segera melaporkan jika menemukan titik api atau asap yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran.
Warga yang berada di wilayah terdampak asap juga diimbau menggunakan masker dan menjaga kondisi kesehatan.
Marthinus menegaskan, pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.
“Kami mengajak seluruh masyarakat Papua Tengah bersama-sama menjaga hutan dan lingkungan. Jangan membuka lahan dengan cara membakar. Kondisi cuaca sekarang membutuhkan kewaspadaan kita semua,” pungkasnya. (*)
























Tinggalkan Balasan