JELASKAN – Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, memberikan penjelasan terkait kondisi warga Kamoro yang tidur di emperan toko saat Festival Seni Budaya Mimika 2026. (FOTO: YESON WENDA/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id — Puluhan warga asli Suku Kamoro dari Kampung Pomako dan Pulau Karaka terpaksa tidur di emperan toko di Jalan Yos Sudarso, Timika, saat mengikuti Festival Seni Budaya Mimika 2026.

Mereka mengaku kesulitan mendapatkan tempat menginap, makanan, serta fasilitas mandi dan sanitasi selama berada di Timika.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (8/10/2026) pagi, warga terlihat tidur beralaskan karton, bekas spanduk, dan tikar seadanya.

Yosep Kamenaru dari Sanggar Pokai mengatakan, rombongannya datang membawa anyaman dan ukiran khas Kamoro untuk ditampilkan dalam festival.

Namun, selama berada di Timika, mereka harus mencari sendiri tempat untuk mandi dan memenuhi kebutuhan makan.

“Kalau mau mandi atau buang hajat, kami jalan ke keluarga di Gorong-gorong. Panitia juga tidak siapkan kami makan,” ujar Yosep.

Keluhan serupa disampaikan Yulianus Mikamaniyu.

Ia mengatakan, rombongannya menanggung sendiri biaya bahan bakar perahu dari Pulau Karaka menuju Poumako sebelum melanjutkan perjalanan ke Timika dengan menumpang truk.

Hingga menjelang penutupan festival, mereka juga mengaku belum mendapat kepastian mengenai kepulangan.

Sementara itu, Maria Salome Minayau mengatakan, keluarganya kesulitan mendapatkan makanan selama empat hari berada di Timika.

Mereka terpaksa membeli gorengan untuk memenuhi kebutuhan makan.

Bahkan, menurut dia, anak-anak sempat tidak mendapatkan makanan.

Kadis Pariwisata Beri Penjelasan

Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Mimika, Elisabeth Cenawatin, mengatakan telah menemui warga yang tidur di emperan toko tersebut.

Elisabeth menjelaskan, kelompok warga itu datang atas inisiatif sendiri dan bukan merupakan peserta yang diundang secara resmi oleh dinas.

Menurut dia, warga mengaku telah mengetahui bahwa kegiatan tersebut diikuti oleh kelompok yang mendapat undangan, tetapi tetap datang karena ingin menyaksikan festival secara langsung sekaligus ikut menari seka.

“Saya sampaikan kepada mereka, mama-mama, bapak-bapak, apakah sudah tahu bahwa yang mengikuti kegiatan ini hanya yang diundang oleh dinas? Mereka menjawab sudah tahu, tetapi datang atas keinginan sendiri untuk menyaksikan langsung festival,” ujarnya.

Meski demikian, Elisabeth mengatakan pihaknya telah memberikan makanan kepada warga tersebut.

Dinas juga menyiapkan kendaraan untuk mengantar mereka pulang setelah penutupan festival.

Kondisi yang dialami warga Kamoro tersebut menjadi catatan bagi penyelenggaraan Festival Seni Budaya Mimika 2026, terutama terkait penyampaian informasi kepada masyarakat yang datang dari kampung-kampung.

Kejelasan mengenai status peserta, fasilitas yang disediakan, konsumsi, akomodasi, dan transportasi penting agar masyarakat dapat mempersiapkan kebutuhan selama mengikuti kegiatan.

Di sisi lain, koordinasi antara penyelenggara, pemerintah daerah, dan perwakilan masyarakat adat diperlukan agar pelaksanaan festival tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan kekayaan budaya, tetapi juga memperhatikan kebutuhan dasar dan kenyamanan masyarakat yang hadir. (*)

Penulis: Yeson P. Wenda
Editor: Maurits SDP