TIMIKAEXPRESS.id – Menteri Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin,  meminta PT Freeport Indonesia (PTFI) mendukung pendidikan putra-putri Orang Asli Papua (OAP) untuk menjadi dokter.

“Dokter orang asli Papua sangat minim, sehingga saya minta Freeport dukung dan kasih kuliah putra-putri asli Papua di fakultas kedokteran di perguruan tinggi swasta maupun negeri,” harap Budi Gunadi.

Lebih lanjut, katanya, setelah lulus kuliah dan jadi dokter, untuk menjadi dokter spesialis, Kemenkes  RI akan memberikan bantuan beasiswa.

Program beasiswa dokter spesialis ini merupakan langkah nyata dan penting bagi Kemenkes dalam meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM)  serta aksebilitas pelayanan kesehatan.

“Dokter spesialis tidak mungkin dikirim langsung dari Jakarta, dan waktunya lama. Jadi, harus ada putra-putri daerah asli Papua yang jadi dokter spesialis sehingga bisa berkarya di daerahnya (Papua),” kata Menkes Budi, Rabu kemarin.

Ia kembali menekankan, yang mau dikasih kuliah dokter, itu harus benar-benar anak-anak OAP,  jangan non OAP, karena dikhawatirkan selesai kuliah dokter mereka kembali ke daerah asal dan tidak mengabdikan diri di Papua.

Pernyataan Menkes Budi ini diaminkan oleh Pj Gubernur Provinsi Papua Tengah, Dr. Ribka Haluk.

Ia menyebut ada tiga kabupaten di Papua Tengah yang belum memiliki dokter spesialis,  yaitu Kabupaten Dogiyai, Puncak dan Kabupaten Intan Jaya.

“Terkait ini, saya selaku Pj Gubernur Papua Tengah akan menyurati Menteri Kesehatan agar diberikan kuota beasiswa dokter spesialis bagi putra-putri asli Papua dari tiga kabupaten tersebut, sebab kita cari dokter spesialis OAP itu sulit bahkan tidak ada,” ujarnya.

Dalam kunjungan kerjanya ke Timika, Menkes Budi melaksanakan serangkiaan kegiatan, yakni Rakerkesda ke-II Tahun 2024 Provinsi Papua Tengah, melaunching program eliminasi malaria bertajuk ‘TEMPO Kas Tuntas’.

Menkes dan rombongan pun mengunjungi dan melihat Laboratorium Entomologi (Penunjang Pengendalian) di Community Health Development (CHD) milik PT Freeport Indonesia di area 400 Kuala Kencana, Mimika-Papua Tengah. (ela)