KOLABORASI – Anak-anak penyandang disabilitas berkolaborasi dengan komunitas KOTEKA dalam kegiatan Ruang Budaya Inklusif: Berkarya Bersama di Gedung MPCC Timika, Jumat (16/10/2026). (FOTO: SELVY/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id – Seni dan budaya menjadi ruang bagi setiap anak untuk mengekspresikan diri, mengembangkan kreativitas, dan menunjukkan potensi yang dimiliki.
Semangat inilah yang dihadirkan Kolektif Kreatif Mimika (KOTEKA) melalui kegiatan Ruang Budaya Inklusif: Berkarya Bersama di Gedung MPCC Timika, Jumat (16/10/2026).
Sebanyak 50 anak penyandang disabilitas mengikuti lokakarya (workshop) seni musik, tari, dan rupa.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengembangkan kreativitas, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal dan terlibat langsung dalam praktik seni dan budaya.
Penanggung jawab kegiatan, Kevin Christo Nanlohy, mengatakan kegiatan tersebut diinisiasi KOTEKA dengan melibatkan sekitar 13 komunitas budaya dan bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 16–17 Oktober 2026, ini digelar untuk menyongsong Hari Kebudayaan Nasional pada 17 Oktober.
“Ini menjadi bentuk tanggung jawab kami dari komunitas budaya untuk memberikan ruang kepada adik-adik disabilitas agar mereka juga bisa berkembang dan mengenal budaya,” ujarnya.
Pada hari pertama, peserta mengikuti lokakarya dalam tiga bidang, yakni musik, tari, dan seni rupa. Dalam kegiatan seni rupa, anak-anak diajak membuat mahkota Papua, mulai dari menyusun pola hingga menggambar ukiran sesuai ekspresi masing-masing.
Proses tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk menuangkan gagasan dan kreativitas mereka melalui karya seni.
Hasil lokakarya kemudian direncanakan untuk dikolaborasikan dalam pementasan seni pada Sabtu (17/10/2026).
Peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Mimika dan Panti Asuhan Cinta Bela.
Kegiatan ini juga terbuka bagi anak-anak penyandang disabilitas dari sekolah, yayasan, maupun keluarga yang ingin berpartisipasi.
Kevin menegaskan, kegiatan ini tidak semata-mata berorientasi pada pertunjukan. Lebih dari itu, Ruang Budaya Inklusif menjadi sarana edukasi dan literasi budaya yang memungkinkan anak-anak terlibat langsung dalam proses kreatif bersama komunitas.
“Kami tidak hanya mencari penonton, tetapi bagaimana anak-anak ini bisa terlibat langsung dan menghasilkan karya bersama komunitas,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, anak-anak penyandang disabilitas diharapkan tidak hanya menikmati pertunjukan seni, tetapi juga memperoleh pengalaman untuk menciptakan karya dan berkolaborasi dengan orang lain.
Keterlibatan mereka sekaligus menjadi pengingat bahwa ruang seni dan budaya semestinya terbuka bagi semua orang, tanpa membatasi kesempatan berdasarkan kondisi fisik maupun kemampuan individu.
Dukungan terhadap kegiatan ini juga disampaikan Bupati Mimika, Johannes Rettob, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Asisten II Setda Mimika, Santi Sondang.
Dalam sambutannya, Bupati menegaskan bahwa kebudayaan merupakan milik seluruh warga negara tanpa terkecuali.
Karena itu, setiap orang, termasuk anak-anak penyandang disabilitas, harus memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenal, mengembangkan, dan mengekspresikan diri melalui seni dan budaya.
“Dalam dunia seni dan budaya, tidak boleh ada yang merasa tertinggal. Anak-anak penyandang disabilitas memiliki bakat, kreativitas, dan potensi yang patut diberi ruang untuk berkembang,” demikian sambutan Bupati.
Ia juga menekankan bahwa semangat Berkarya Bersama perlu diwujudkan melalui keterlibatan aktif setiap orang dalam kegiatan seni dan budaya, bukan sekadar menjadi penonton.
Pemerintah Kabupaten Mimika, lanjutnya, berkomitmen mendukung kegiatan yang mendorong pelestarian budaya, pengembangan kreativitas, serta kesetaraan kesempatan bagi penyandang disabilitas.
Sementara itu, Kevin berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara rutin agar anak-anak penyandang disabilitas memiliki ruang yang berkelanjutan untuk mengembangkan bakat dan kreativitas mereka.
Ia juga berharap Mimika semakin ramah bagi penyandang disabilitas, dengan menyediakan kesempatan yang setara untuk berkarya dan berpartisipasi dalam kehidupan seni dan budaya.
Melalui Ruang Budaya Inklusif, KOTEKA ingin menunjukkan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkarya.
Ketika ruang dan kesempatan diberikan secara setara, seni dapat menjadi jembatan untuk membangun kebersamaan, menghargai perbedaan, dan merayakan keberagaman di Mimika. (*)









Tinggalkan Balasan