Agustinus Kadepa, pengelola kopi Koperasi Tani Makmur, yang terlibat dalam pengembangan kopi Arabika dari pegunungan Kabupaten Paniai. (FOTO: YUDIT/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id – Kopi Arabika dari pegunungan Kabupaten Paniai, Papua Tengah, terus dikembangkan menjadi produk unggulan daerah.

Prestasi dalam ajang Kopi Jakarta Week 2018 menjadi salah satu momentum yang mendorong petani setempat mengembangkan budidaya dan pengolahan kopi secara lebih terstruktur.

Perkembangan tersebut mendorong terbentuknya kelompok tani dan koperasi sebagai wadah pengembangan produksi sekaligus pemasaran kopi lokal.

Pengelola kopi Koperasi Tani Makmur, Agustinus Kadepa, menceritakan, tanaman kopi di wilayah pegunungan Papua mulai diperkenalkan oleh para misionaris sekitar 1970-an hingga 1980-an.

Tanaman tersebut tersebar di sejumlah wilayah pegunungan, termasuk kawasan Mepago, pegunungan tengah Papua, hingga Pegunungan Bintang.

Sekitar 2012, masyarakat kembali mengembangkan tanaman kopi yang masih tersisa.

Kopi dari wilayah tersebut kemudian mulai diperkenalkan ke pasar melalui program IPN dan mendapat pengakuan sebagai kopi spesialitas.

Agustinus, yang berlatar belakang pendidikan guru, mengaku mulai mendalami pengembangan kopi setelah melihat peluang pasar.

Ia mempelajari berbagai tahapan produksi, mulai dari penanaman, perawatan, penanganan pascapanen hingga penyangraian.

“Semua berawal ketika salah satu petani kami memenangkan lomba Kopi Jakarta Week tahun 2018. Sejak itu permintaan pasar menjadi besar, sehingga kami berusaha mengembangkan budidaya kopi secara lebih serius,” ungkapnya.

Pada 2020, kelompok tani berhasil menghasilkan sekitar 5.000 bibit kopi.

Pengembangan tersebut semakin meluas dengan dukungan program insentif dari Pemerintah Kabupaten Paniai.

Semula, pengembangan kopi mencakup 19 distrik.

Namun, dalam perkembangannya, kegiatan budidaya kemudian difokuskan pada satu wilayah kampung di bagian timur Kabupaten Paniai yang berbatasan dengan Kabupaten Intan Jaya.

Saat ini, terdapat hampir 50 petani yang tergabung dalam empat kelompok tani besar.

Mereka mulai mengembangkan produksi kopi secara bertahap selama periode 2021–2025.

Untuk meningkatkan kualitas hasil panen, petani juga mulai menggunakan rumah kaca guna mengontrol proses penjemuran.

Selain itu, mereka memanfaatkan mesin pengupas kulit kopi dengan mengikuti standar operasional prosedur (SOP).

Pengembangan usaha berlanjut dengan pendirian kedai kopi pada akhir 2025.

Kedai yang dikelola melalui koperasi tersebut menjadi salah satu upaya petani memperluas pemasaran produk.

Koperasi sendiri telah dirintis sejak 2022 dengan pendampingan pemerintah melalui program yang disebut Keperasarapan Baru.

Kedai tersebut berlokasi di ibu kota Kabupaten Paniai dan menjadi pusat pemasaran hasil panen petani.

Melalui penguatan kelompok tani, koperasi, serta pemasaran mandiri, para petani berharap kopi spesialitas Paniai semakin dikenal luas.

Upaya ini juga diharapkan mampu meningkatkan nilai jual kopi lokal dan kesejahteraan masyarakat petani di wilayah pegunungan Papua. (*)

Penulis: Yudit Sanggu
Editor: Maurits SDP