MIMIKA, timikaexpress.id — Ada cerita yang tidak selalu bisa disampaikan dengan kata-kata.
Ada pengalaman yang terlalu panjang untuk diringkas menjadi satu kalimat.
Ada luka yang tidak terlihat dari luar, tetapi terus hidup dalam ingatan. Dan ada suara yang memilih hadir melalui gambar.
Bagi perupa perempuan Papua, Aquino de Dios Renwarin, gambar menjadi salah satu cara untuk berbicara.
Melalui goresan pensil dan arang, perempuan berdarah campuran Papua Biak–Maluku Tenggara ini menuangkan kegelisahan, merekam kehidupan sosial, serta menyampaikan berbagai persoalan yang terjadi di tanah Papua.
Bagi Aquino, menggambar bukan sekadar aktivitas menciptakan bentuk di atas kertas. Setiap goresan merupakan bagian dari proses memahami apa yang dilihat, dirasakan, dan dialaminya.
Terkadang, sebuah karya lahir dari pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan lain, dorongan untuk menggambar muncul begitu saja, mengikuti suasana hati dan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Jumat (9/10/2026) siang itu, di tengah cuaca Mimika yang diliputi kabut asap, saya menempuh perjalanan dari Kota Timika menuju kediaman Aquino di Kelurahan Karang Senang, SP3, Timika. Jaraknya sekitar sembilan kilometer.
Setelah berkendara selama kurang lebih 20 menit, saya tiba di depan rumah kontrakan perempuan yang akrab disapa Aquino itu.
Suasana rindang dan sejuk menyambut kedatangan saya sebelum terlihat deretan bangunan tempat tinggal.
Di petakan ketiga, pintu rumah Aquino masih tertutup.
Saya memarkir sepeda motor, kemudian mengetuk pintu. Tak lama kemudian, Aquino membukanya dan menyambut kedatangan saya dengan senyum ramah.
Ia langsung menyampaikan permohonan maaf karena tidak ada kursi di ruang tamunya.
“Maaf, kita melantai saja ya, tidak ada kursi,” ujar Aquino dengan senyum kecil.
“Ah, tidak apa-apa. Sesekali kita melantai,” jawab saya.
Namun, ruang tamu itu justru menyimpan pemandangan yang menarik perhatian.
Dua bingkai besar berukuran sekitar 1 meter x 80 sentimeter tergantung di dinding.

Di sudut ruangan, terdapat panggung mini seukuran bingkai yang di atasnya diletakkan sebuah lukisan karya Aquino.
Panggung itu dilapisi kain hitam, seolah-olah menjadi bagian dari sebuah galeri kecil.
Tepat disebelah mini panggung, tersusun buku-buku tentang Papua.
Pada dinding ruang tamu, terpampang tulisan de Dios, yang dalam bahasa Spanyol berarti “dari Tuhan”.
“De Dios ini rencana nama galeri yang selama ini saya impikan,” ungkap Aquino.
Di ruang sederhana itulah, setelah kami duduk bersila di atas ubin putih, perbincangan dan wawancara dimulai.
Mengenakan kaus hitam dan celana jins biru, Aquino menjawab setiap pertanyaan dengan wajah sumringah.
Sesekali, ia mendekap seekor anak anjing peliharaannya bernama Popi.
Dari percakapan itu, terungkap perjalanan seorang perempuan yang menemukan cara untuk menyampaikan kegelisahan melalui seni, meski tidak pernah menempuh pendidikan formal seni rupa.
Berawal dari Warisan Keluarga
Perjalanan Aquino sebagai perupa tidak dimulai dari bangku pendidikan seni rupa, melainkan melalui proses belajar secara otodidak.
Ia tumbuh dalam keluarga yang dekat dengan dunia seni.
Kedua orang tuanya mengenal seni, termasuk aktivitas mengukir dan mematung.
Aquino lahir pada 7 September 1987 dari pasangan Agusta Wamafma dan Fransiskus Renwarin.
Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara, setelah Juan de Dios Renwarin sebagai putra sulung dan putra kedua almarhum Avillo de Dios Renwarin.
Darah seni mengalir dalam keluarganya, termasuk dari sang nenek, Natalia Talaut, dan ayahnya, Fransiskus Renwarin.
Meski seni telah akrab dengannya sejak kecil, Aquino baru mulai serius menghasilkan karya sendiri ketika berusia sekitar 33 tahun, pada 2019.
Keinginan untuk menggambar sebenarnya telah muncul jauh sebelumnya, setelah ayahnya meninggal dunia pada 2002. Kala itu, Aquino masih duduk di bangku kelas II SMP.
“Kalau saya tidak salah ingat, waktu itu bulan Maret,” ujarnya.
Aquino menempuh pendidikan formal di SD Inpres Buper dan SMP YPPK Santo Paulus Abepura. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan hingga tingkat SMA.
Suatu ketika, ia terbangun dari tidur dengan dorongan untuk menuangkan sesuatu ke atas kertas.
“Pertama dan spontan saya gambar adalah wajah saja,” tuturnya lirih.

Gambar wajah itu pertama kali diperlihatkan kepada ibunya, Agusta Wamafma.
Hingga kini, gambar yang dibuat di atas secarik halaman buku tersebut masih tersimpan rapi.
Dari pengalaman sederhana itu, Aquino mulai mengenali gambar sebagai ruang untuk mengekspresikan diri.
Sejak saat itu, ia terus belajar melalui proses, termasuk setelah pertama kali menginjakkan kaki di Mimika pada 2005.
Ia mencoba berbagai objek, mengembangkan keterampilan, dan mencari bahasa visual yang paling sesuai untuk menyampaikan apa yang ingin diungkapkannya.
Hingga wawancara berlangsung, Aquino telah menghasilkan sekitar 30 karya.
Sejumlah karyanya telah terjual kepada jemaat gereja, di antaranya Paul dan Yvonne Wibowo, pasangan suami istri, serta dr. Eko Noorwijoyo dan miss Inove.
Pesta Marpaung, umat Gereja St. Yosep Kuala Kencana, juga menjadi salah satu kolektor karya Aquino.
“Pa Pesta Marpaung adalah orang yang membelikan saya set perlengkapan sketch saat pertama saya posting karya pertama saya di media sosial, Facebook,” ungkapnya.
Ceritera Wajah Pace Mace
Yvonne Wibowo, salah satu kolektor karya Aquino, telah mengenal perupa perempuan Papua itu sejak lama.
Baginya, Aquino bukan sekadar seseorang yang memiliki keterampilan menggambar, tetapi juga seniman yang mampu menghadirkan kehidupan Papua melalui goresan-goresan tangannya.
“Dia memang artistik sekali. Karya-karyanya hidup dan menggambarkan Papua yang sesungguhnya,” ungkap Yvonne, seorang ibu rumah tangga.
Di antara karya yang disimpan, ada tiga sketsa wajah pace mace, sebutan bagi laki-laki dan perempuan dalam keseharian masyarakat Papua.
Bagi Yvonne, gambar-gambar itu bukan sekadar hiasan yang dipajang, melainkan representasi manusia Papua yang punya ceritera dan memberi warna pada kehidupan serta keberadaan mereka di tanah ini.
“Sketsa-sketsa karya lukis yang kami miliki dari Aquino, ada tiga gambar wajah pace mace, memberi warna pada keberadaan kami di bumi Papua,” tuturnya.
Yvonne melihat, karya Aquino memiliki jiwa. Ada kehidupan masyarakat, cerita, dan suasana yang terasa dekat dengan keseharian Papua.
Gambar-gambar itu tidak hadir sebagai objek yang kosong, tetapi membawa sesuatu yang ingin disampaikan kepada siapa pun yang melihatnya.
Namun, perjalanan Aquino sebagai perupa perempuan Papua tentu bukan tanpa tantangan.
Baginya, menunjukkan keberadaan dan mendapatkan ruang untuk berkarya menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Yvonne berharap Aquino terus melahirkan karya-karya baru. Ia juga berharap suatu hari nanti karya-karya itu dapat dipamerkan dalam ruang yang lebih luas, sehingga semakin banyak orang mengenal dan menghargai kiprahnya.
Sebab, melalui goresan pensil dan arang, Aquino tidak hanya menggambar wajah atau kehidupan sehari-hari.
Ia juga menghadirkan cerita tentang Papua, tentang masyarakatnya, kehidupan yang dijalani, dan situasi yang ingin disuarakan melalui seni.
Satu karya berukuran A3 lengkap dengan bingkai dijual seharga Rp500 ribu.
“Kebanyakan yang beli itu umat gereja, dan tema lukisan tentang sisi kehidupan dan relasi sosial antara manusia dan lingkungan,” terangnya.
Meski sejumlah karyanya telah terjual, Aquino mengaku belum menemukan satu gaya artistik yang benar-benar menjadi ciri khasnya.
Kesibukan mengurus rumah tangga menjadi salah satu tantangan.
Waktu untuk menggambar harus dibagi dengan tanggung jawab sehari-hari.
“Terkadang karena sudah lelah atau capek mengurus rumah tangga, sehingga kesempatan melukis tidak kesampaian. Karena kalau melukis harus konsen dan fokus, sehingga karya yang dihasilkan punya cerita dan makna, tidak asal saja,” paparnya.
Namun, keadaan itu tidak membuatnya berhenti.
Sebaliknya, setiap gambar menjadi kesempatan untuk mengenali diri sekaligus memperdalam hubungannya dengan seni.
Membaca Papua Melalui Gambar
Sebagian besar karya Aquino berangkat dari situasi sosial di Papua.
Ia tertarik menggambarkan manusia, kehidupan sehari-hari, serta berbagai persoalan yang menyentuh kehidupan masyarakat.
Dalam proses berkarya, Aquino lebih banyak menggunakan pensil dan arang atau charcoal di atas kertas berukuran A3.
“Saya menyukai arang karena mampu menghasilkan kontras gelap dan terang yang kuat, sekaligus membangun kesan realistis pada objek yang digambar,” ungkapnya.
Pilihan medium hitam-putih memberinya ruang untuk menekankan detail, bayangan, dan ekspresi.

Tanpa banyak warna, perhatian orang dapat tertuju pada bentuk dan kesan yang muncul dari setiap goresan.
Bagi Aquino, proses berkarya tidak selalu dimulai dengan konsep yang matang.
Ada kalanya ia menggambar berdasarkan suasana hati.
Pada kesempatan lain, ide muncul dari mimpi, perasaan, atau dorongan batin yang tidak selalu dapat dijelaskan sejak awal.
Ia membiarkan proses itu berjalan hingga gambar menemukan bentuknya sendiri.
Cara berkarya tersebut membuat seni menjadi ruang personal sekaligus sosial.
Melalui gambar, Aquino tidak hanya merekam apa yang dilihatnya, tetapi juga mencoba menyampaikan kegelisahan terhadap keadaan di sekitarnya.
Salah satu kegelisahan itu berkaitan dengan pengalaman perempuan Papua.
‘Kekang’, Tentang Ruang Gerak Perempuan
Pada 2021, Aquino menjadi salah satu dari 10 perupa perempuan Papua yang terlibat dalam pameran Sa Pu Kisah: Buka Mata, Buka Hati.
Pameran yang digagas kelompok seni rupa Papua Udeido bersama Asia Justice and Rights (AJAR) itu dibuka bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2021.
Pameran tersebut menjadi ruang bagi perempuan Papua untuk menceritakan pengalaman mereka melalui karya seni, termasuk pengalaman tentang kekerasan, konflik, tekanan sosial, kehilangan ruang hidup, dan perjuangan untuk bertahan.
Di antara karya yang ditampilkan terdapat ‘Kekang’, karya Aquino yang dibuat menggunakan pensil dan arang di atas kertas berukuran 30 x 42 sentimeter.
Aquino berkesempatan mengikuti pameran itu berkat karyanya yang diposting di facebook dan instagram.
“Saya waktu itu dihubungi Pa Dicky Takndare sebagai kurator dan anggota seni rupa Papua Udeido,” ungkapnya.
Karya yang ditampilkan judulnya sederhana: ‘Kekang’.

Namun, kata itu menyimpan makna panjang tentang pembatasan, tekanan, dan kebebasan seseorang dalam menentukan jalan hidupnya.
Kekang adalah sesuatu yang menahan gerak.
Ia membatasi langkah dan membuat seseorang tidak sepenuhnya bebas menentukan ke mana harus pergi.
Melalui karya tersebut, Aquino mengangkat persoalan pembatasan yang dihadapi perempuan, terutama perempuan Papua.
Pembatasan itu dapat muncul melalui dogma, tekanan sosial, pemahaman terhadap adat dan budaya, bahkan kekerasan fisik maupun mental.
Dalam kehidupan sehari-hari, pengalaman perempuan sering kali dibentuk oleh berlapis-lapis tuntutan.
Mereka diharapkan kuat untuk keluarga, menjaga anak, mengurus rumah, bekerja, sekaligus bertahan menghadapi berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks Papua, pengalaman tersebut juga dapat bersinggungan dengan persoalan sosial yang lebih luas, termasuk kekerasan dan konflik.
Melalui Kekang, Aquino membuka ruang untuk membicarakan persoalan tersebut tanpa harus menjelaskannya melalui uraian panjang.
Gambar menjadi bahasa yang memungkinkan pengalaman dan kegelisahan disampaikan melalui bentuk visual.
Dalam karya itu, Aquino menghadirkan sesosok tubuh berlutut dengan wajah dan seluruh tubuh terbungkus kain tirai atau lembaran kain yang ketat, mengingatkan pada praktik penyembunyian wajah.
Ia juga menampilkan noken kosong dan pohon pinang sebagai elemen visual.
Kedua objek tersebut memiliki kedekatan dengan kehidupan masyarakat Papua, sekaligus membuka ruang bagi penafsiran.
Noken yang kosong dapat dibaca sebagai gambaran tentang masa depan yang belum terisi.
Namun, kekosongan tidak selalu berarti ketiadaan harapan. Masih ada kemungkinan untuk mengisinya dengan pengalaman, pilihan, dan kesempatan baru.
Sementara itu, buah pinang dan pohon pinang memiliki hubungan dengan kebiasaan masyarakat dalam membangun komunikasi dan interaksi sosial.

Melalui simbol-simbol tersebut, Kekang dapat dibaca sebagai refleksi tentang kehidupan perempuan, ruang gerak, dan kesempatan untuk mengekspresikan diri.
Setelah pameran virtual yang disebut berlangsung di Yogyakarta, Aquino bersama sembilan perupa perempuan Papua lainnya melakukan kunjungan dan mengikuti pameran secara langsung di kantor Asia Justice and Rights di Denpasar, Bali.
Kesembilan perupa tersebut adalah Betty Adii, Blandina Yeimo, Diana Yembise, Irene Wagab, Nancy Nahuway, Ritha Karubuy, Nadila Aibini, Dessy Baru, dan Jenita Hilapok.
Pembacaan terhadap karya Kekang tidak harus berhenti pada satu makna.
Justru, ruang penafsiran memungkinkan pengunjung menghubungkan karya dengan pengalaman dan pertanyaan mereka sendiri.
Seni tidak serta-merta menghapus luka atau menyelesaikan persoalan. Namun, seni dapat menjadi ruang untuk mengakui bahwa pengalaman tersebut ada dan layak diceritakan.
Di sinilah karya Aquino menemukan relevansinya, sebagai bagian dari percakapan yang lebih luas tentang perempuan Papua yang ingin didengar dan memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman mereka sendiri.
Tiga Bulan Menggambar Seorang Lelaki Asmat
Di antara karya-karya yang pernah dibuatnya, Aquino memiliki satu gambar yang sangat berkesan.
Karya tersebut menampilkan seorang lelaki Asmat dan dikerjakan menggunakan arang serta pensil.
Gambar itu berawal dari sebuah foto yang ditemukannya melalui aplikasi Flickr.
Seorang temannya di Belanda, Klaas Schoof, yang dikenalnya melalui Facebook, meminta Aquino membuka aplikasi tersebut dan menggambar sosok lelaki Asmat dalam salah satu foto yang tersedia.
“Kebetulan saya punya teman orang Belanda di Facebook, namanya Klaas Schoof. Dia minta saya untuk buka aplikasi Flickr dan gambar foto orang Asmat dalam aplikasi tersebut,” kisah Aquino.
Dari percakapan melalui messenger, Aquino mengaku tidak mengetahui secara pasti identitas lelaki dalam foto tersebut.
Namun, ada dorongan kuat yang membuatnya ingin menggambar sosok itu.
Proses pengerjaannya tidak singkat. Aquino membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk menyelesaikannya karena bagian bahu dan tangan kiri tidak terlihat dalam foto yang menjadi acuannya.

Ia mengaku berhasil menggambar lengan dan tangan sosok tersebut setelah mendapat petunjuk melalui mimpi dalam tidurnya.
Waktu pengerjaan yang panjang membuat karya itu memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan kreatifnya.
Bahkan, hingga wawancara berlangsung, gambar lelaki Asmat tersebut belum diberi judul.
Aquino merasa belum menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili sosok dan perasaan yang muncul selama proses pengerjaan.
Pengalaman itu menunjukkan bahwa hubungan seorang seniman dengan karyanya tidak selalu selesai ketika gambar telah rampung.
Ada karya yang terus tinggal dalam ingatan, menyisakan pertanyaan dan perasaan yang belum menemukan ungkapan paling tepat.
Bagi Aquino, menggambar bukan hanya soal menghasilkan sebuah karya, tetapi juga menjalani proses untuk memahami sesuatu yang menarik perhatian dan menggerakkan perasaannya.
Karyanya Menyentuh Persoalan Lingkungan
Kegelisahan Aquino tidak hanya berkaitan dengan pengalaman perempuan. Ia juga pernah membuat karya yang berhubungan dengan Raja Ampat dan kerusakan hutan.
Pada pertengahan 2025, Kementerian Lingkungan Hidup menindak dan menyegel sejumlah perusahaan nikel karena aktivitas mereka di pulau-pulau kecil dan kawasan konservasi atau hutan lindung yang disebut tidak memenuhi persyaratan dokumen maupun izin lingkungan.
Dalam gambar tersebut, Aquino menghadirkan kura-kura dan alat berat dalam kondisi rusak.
Karya itu berkaitan dengan kegelisahannya terhadap persoalan lingkungan dan kerusakan alam akibat aktivitas pertambangan nikel yang dinilainya bermasalah.
Namun, ketika gambar tersebut diunggah ke Facebook, Aquino mengaku pernah menerima pesan dari seseorang yang memintanya menghapus unggahan itu.
Namun, Aquino tidak menghapus gambar, juga tidak merespon tanggapan itu, karena banyak followers Aquino yang mengecam tanggapan dari orang tersebut.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi seniman ketika karya mereka menyentuh isu sosial atau lingkungan yang sensitif.

Bagi pembuatnya merupakan bentuk ekspresi dan kegelisahan dapat diterima secara berbeda oleh orang lain.
Meski demikian, Aquino tetap memandang karya sebagai ruang untuk menyampaikan apa yang dirasakan dan dilihatnya.
Tanggapan terhadap karya-karyanya pun beragam.
Sebagian respons ia dengar melalui teman atau temukan di Facebook.
Ia belum selalu memperoleh tanggapan langsung yang membahas makna karya secara mendalam.
Situasi tersebut tidak serta-merta menghentikannya.
Aquino terus berkarya sambil mencari ruang yang memungkinkan gambar-gambarnya bertemu dengan lebih banyak orang.
Baginya, karya seni tidak harus selalu menjelaskan seluruh persoalan. Terkadang, sebuah gambar cukup membuka pertanyaan agar orang bersedia berhenti sejenak, melihat, dan memikirkan keadaan di sekitarnya.
Menembus Ruang Pameran dari Papua
Perjalanan Aquino sebagai perupa membawanya mengikuti pameran di luar Papua.
Pada 2021, ia terlibat dalam pameran Sa Pu Kisah: Buka Mata, Buka Hati, yang memberi ruang bagi perempuan Papua untuk menyampaikan pengalaman melalui karya seni.
Ia juga pernah mengikuti pameran di Bali sekitar 2022 atau 2023.
Dalam pameran tersebut, setiap seniman mendapat kesempatan menampilkan satu karya.

Namun, mengikuti pameran di luar daerah bukan perkara mudah.
Pengiriman karya dari Papua membutuhkan persiapan, biaya, dan waktu.
Aquino bahkan sempat khawatir karyanya tidak tiba tepat waktu.
Menurut penuturannya, hingga wawancara berlangsung, karya yang dikirim ke Bali masih diabadikan di lokasi penyelenggara.
Selain Kekang, Aquino juga menyertakan beberapa karya yang berkaitan dengan pembungkaman dan kritik terhadap perang suku di Mimika.
Selain pengalaman berpameran, Aquino pernah mendapat dukungan informal dari temannya di Belanda, Klaas Schoof, yang membagikan karyanya melalui media sosial.
Klaas menyampaikan kesediaannya membantu memperkenalkan karya Aquino dalam sebuah kegiatan di Belanda, meski belum dapat menjanjikan kepastian.
Berbagai kesempatan itu membuka kemungkinan bagi Aquino untuk memperluas jangkauan karyanya.
Namun, ia masih membutuhkan akses, jaringan, dan dukungan yang lebih kuat agar dapat mengembangkan perjalanan seninya, terutama dalam seni figuratif dan teknik arang.
Aquino mengaku belum merasakan dukungan pemerintah yang berarti bagi pengembangan karier seninya.
Ia pernah bertemu dengan seorang pejabat yang menyampaikan kemungkinan dukungan melalui koperasi, tetapi belum mengetahui bidang yang paling sesuai untuk dimasuki.
Ia juga mengaku baru mengetahui adanya festival budaya lokal.
Pengalaman tersebut memperlihatkan pentingnya akses terhadap informasi, program, dan ruang pengembangan seni bagi para perupa.
Kesempatan untuk bertemu, berpameran, dan memperkenalkan karya dapat menjadi jalan bagi seniman untuk mengembangkan diri sekaligus membangun hubungan dengan publik.
Membangun Ruang bagi Generasi Muda Papua
Di tengah perjalanan yang masih terus berkembang, Aquino memiliki cita-cita yang tidak hanya berkaitan dengan pameran atau pengakuan terhadap karya pribadinya.
Ia ingin membangun sanggar seni bagi anak-anak muda Papua.
Sanggar itu dibayangkan sebagai ruang bagi generasi muda untuk mengenal seni rupa, belajar menggambar, bereksperimen, dan mengembangkan kemampuan kreatif mereka.
Bagi Aquino, anak-anak muda perlu memiliki ruang untuk mengekspresikan diri.
“Seni dapat menjadi salah satu jalan bagi mereka untuk mengolah pengalaman, membaca lingkungan, dan menyampaikan pandangan tentang kehidupan,” jelasnya.
Keinginan tersebut juga berangkat dari pengalamannya sendiri yang terus belajar melalui proses, tanpa pendidikan formal seni rupa.
Ia berharap generasi berikutnya memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenal seni dan mengembangkan potensinya.
Aquino berharap cita-cita membangun sanggar seni itu dapat diwujudkan secepatnya.
Ia ingin ruang yang selama ini digunakan untuk mengekspresikan diri kelak juga menjadi tempat bagi anak-anak muda Papua untuk bertumbuh dan menemukan bahasa visual mereka sendiri.
Baginya, seni tidak hanya tentang kemampuan menggambar.
Seni juga dapat menjadi sarana untuk membangun keberanian, menyampaikan pengalaman, dan memperkenalkan cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan.
Jangan Ragu Menyuarakan Kegelisahan
Perjalanan Aquino sebagai perupa perempuan Papua belum selesai.
Ia masih mencari bentuk, teknik, dan bahasa visualnya sendiri. Namun, satu hal yang terus ia pegang adalah keberanian untuk berkarya.
Ia memahami bahwa tidak semua orang akan langsung mengerti pesan di balik sebuah gambar. Tidak semua karya juga akan mendapat tanggapan yang diharapkan.
Namun, hal itu bukan alasan untuk berhenti.
Pesan yang ingin disampaikannya terutama ditujukan kepada perempuan, khususnya perempuan Papua.

Ia mendorong mereka agar tidak ragu menyuarakan pengalaman dan kegelisahan melalui karya seni.
Persoalan yang terjadi di Papua maupun konflik dalam kehidupan sehari-hari, menurutnya, dapat dituangkan ke dalam gambar.
Tidak harus menunggu menjadi seniman terkenal atau memiliki ruang pameran besar untuk mulai berkarya.
Yang penting adalah keberanian untuk mengungkapkan apa yang dirasakan.
“Jangan ragu. Terus berkarya apa pun itu,” demikian pesan Aquino kepada generasi muda yang ingin terus berkarya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Kekang, bahwasannya pengalaman perempuan layak mendapat ruang, dan suara mereka tidak semestinya dibatasi oleh anggapan bahwa hanya cerita tertentu yang pantas disampaikan.
Melalui karya-karyanya, Aquino berusaha merekam kegelisahan tentang kehidupan sosial, pengalaman perempuan, persoalan lingkungan, serta kekerasan di Papua.
Ia tidak harus menjelaskan seluruh persoalan dalam satu gambar.
Cukup membuka sebuah pintu agar orang bersedia melihat dan bertanya.
Dari pensil, arang, gelap, dan terang, Aquino merawat caranya sendiri untuk berbicara tentang kehidupan yang dilihat dan dirasakannya.
Mungkin di situlah kekuatan karya-karyanya. Tidak semua suara harus hadir dalam bentuk teriakan.
Ada yang disampaikan melalui percakapan, ada yang ditulis, dan ada pula yang hadir melalui garis-garis di atas kertas.
Aquino memilih menggambar. Di balik setiap goresan, ada kegelisahan yang ingin disampaikan. Ada pengalaman yang layak diakui.
Ada perempuan yang ingin menentukan ruang geraknya sendiri. Dan ada harapan agar generasi muda Papua memiliki kesempatan lebih luas untuk berkarya.
Sebab, bagi Aquino, karya bukan semata-mata tentang gambar yang selesai.
Karya juga tentang keberanian untuk bersuara, kesempatan untuk didengar, dan harapan agar cerita-cerita dari Papua terus menemukan ruang untuk hidup.
Warisan Seni dari Sang Ayah
Warisan darah seni dalam keluarga Renwarin-Wamafma kini juga mengalir kepada putri bungsu Aquino, Mikela Renwarin.
Aquino dikaruniai tiga anak, yakni dua putra, Willem dan Jezu, serta Mikela.
Willem kini menempuh pendidikan di University of Jakarta International (UNIJI), sementara Jezu duduk di kelas XII SMP dan Mikela di kelas VI SD.
Sebagai orang tua tunggal, Aquino bekerja sebagai manpower pada PT Privivo Amungen Dego di Light Industrial Park (LIP) Kuala Kencana untuk menafkahi keluarga kecilnya.
Di tengah kesibukan bekerja dan mengurus rumah tangga, ia tetap menyimpan kenangan tentang ayahnya, Fransiskus Renwarin, yang menjadi salah satu sumber inspirasi perjalanan seninya.
Salah satu kenangan itu berkaitan dengan patung Kur Mabel, sosok kepala suku besar di Kurulu, yang dibuat oleh ayahnya.
Fransiskus juga membuat lukisan potret tokoh tersebut.
Bagi Aquino, kisah patung itu bukan sekadar cerita tentang proses berkarya.
Di dalamnya tersimpan kenangan masa kecil tentang kedekatannya dengan sang ayah, sekaligus pengalaman yang membentuk cara pandangnya terhadap seni.
Kurulu dan Tiom Selalu di Sa Pu Hati
Kur Mabel dikenal sebagai salah satu kepala Suku Dani di Kurulu dan tokoh Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) Papua.
Patung dan lukisan potret dirinya dibuat oleh Fransiskus Renwarin, ayah Aquino, atas permintaan Bupati Jayawijaya saat itu, Jos Buce Wenas atau J.B. Wenas, yang menjabat pada periode 1989–1998.
Ketika proses pembuatan patung berlangsung, Aquino masih duduk di bangku kelas II SD.
“Karena waktu kecil sa tra bisa jauh dari bapa, setiap bapa ada pekerjaan buat patung, saya selalu ikut dan temani, bahkan sampai tra sekolah baik-baik waktu itu,” ungkap Aquino.
Ia masih mengingat satu peristiwa yang tidak pernah hilang dari ingatannya.
“Sa tra kan pernah lupa, saat sa bapa mulai membentuk lekukan tiap tubuh dari patung Kur Mabel hingga jadi dengan sempurna, ada satu bagian di jarinya yang selalu saja campuran semen itu terlepas begitu saja,” kisahnya.
Berulang kali Fransiskus mengoleskan semen dan membuat campuran baru.
Bahkan, ketika menggunakan campuran yang lebih banyak semennya daripada pasir, hasilnya tetap sama. Bagian jari itu selalu sulit dibentuk.
“Siang malam hanya ‘bergumul’ dengan bagian jari itu saja, sampai Bapa hampir hancurkan patung besar itu karena emosi dan mood sudah mulai fals,” katanya.
Hingga akhirnya, Fransiskus memutuskan menemui keluarga Kur Mabel.
Ia bertanya secara terperinci tentang sosok yang sedang dibuatnya menjadi patung.
Dari keluarga itulah, Fransiskus mendapat penjelasan bahwa bagian jari Kur Mabel pernah terpotong.

Mendengar cerita tersebut, Fransiskus hanya tersenyum.
Bagian jari yang sejak awal sulit dikerjakan ternyata menyimpan kisah tersendiri dalam kehidupan sosok yang sedang dipahatnya.
Setelah itu, Fransiskus kembali ke Kota Wamena bersama Aquino untuk melanjutkan pekerjaan hingga patung Kur Mabel selesai dan diresmikan oleh Jos Buce Wenas.
Bagi Aquino, perjalanan itu meninggalkan kenangan mendalam tentang ayahnya, pekerjaan seni yang dikerjakannya dengan tekun, serta kedekatan dengan tanah Papua.
“Kurulu dan Tiom, dua tempat itu ada dalam sa pu hati selalu,” kenangnya.

Dalam ingatan Aquino, Kur Mabel merupakan sosok kepala suku besar Wamena yang sangat dihargai masyarakatnya karena kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan, termasuk dalam urusan pemerintahan.
Kenangan itu menjadi bagian dari warisan seni dan cerita keluarga yang terus hidup dalam diri Aquino.
Mengajarkan Seni Motif kepada Generasi Muda
Kecintaan Aquino terhadap seni tidak hanya diwujudkan melalui karya pribadi.
Ia juga pernah berbagi pengetahuan dengan anak-anak sekolah di Mimika.
Di tengah kesibukannya mengurus rumah tangga dan bekerja, perempuan yang menyelesaikan pendidikan SMA di Taruna Dharma, Jayapura, itu pernah diminta membawakan materi seni motif bagi siswa SD dan SMP YPJ Kuala Kencana.
Pada Juli 2025, Aquino mengampu kegiatan ekstrakurikuler seni bagi murid SD kelas IV hingga VI.
Kegiatan tersebut berlanjut pada awal 2026, ketika ia menyajikan materi seni motif bagi pelajar SMP di area lowland PT Freeport Indonesia.

Dalam kegiatan itu, Aquino melatih peserta didik membuat motif yang berkaitan dengan budaya Amungme dan Asmat.
“Kalau budaya Amungme saya latih buat motif pada honai, rumah adat Papua, anak panah. Di sini kami melatih anak-anak untuk berimajinasi buat motif sekolah, kemudian motif Asmat yang lebih umum,” jelasnya.
Sementara itu, motif suku Kamoro tidak disertakan dalam materi praktik. Menurut Aquino, motif Kamoro memiliki persyaratan dan makna tertentu sehingga perlu dibicarakan lebih lanjut.
“Sedangkan motif suku Kamoro karena syarat makna, sehingga melalui diskusi dengan guru-guru, tidak disertakan dalam materi membuat seni motif,” pungkasnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa bagi Aquino, seni bukan hanya tentang menciptakan karya untuk dipamerkan atau dijual.
Seni juga merupakan pengetahuan yang dapat dibagikan, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah keterbatasan ruang dan kesempatan, kegiatan sederhana seperti mengajarkan motif budaya dapat menjadi pintu bagi anak-anak muda untuk mengenal kekayaan tradisi mereka sekaligus mengembangkan imajinasi.
Perempuan Papua dan Tanah sebagai Mama
Dalam percakapan tentang perempuan dan kehidupan di Papua, Aquino juga mengingat pemikiran yang disampaikan Ignasius Dicky Takndare, kurator dalam pameran Sa Pu Kisah.
Dicky menyoroti praktik kekerasan yang dialami perempuan dan anak-anak Papua.
Dalam catatannya, ia menuliskan bahwa perempuan Papua memiliki pergumulannya sendiri.
Kelompok Kerja Dokumentasi Kekerasan dan Pelanggaran HAM sejak 1963, melalui laporan bertajuk Stop Sudah!, serta temuan UN Women dalam Joint Programme on Combating Violence Against Women and Girls in Papua Province, Indonesia, disebut menyoroti tingginya kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak di Papua. Dalam catatan tersebut, tingkat kekerasan disebut mencapai 4,5 kali rata-rata nasional.
“Kekerasan-kekerasan tersebut beranekaragam baik bentuk maupun pelakunya, mulai dari yang didukung oleh negara hingga terjadi dalam lingkungan masyarakat, bahkan dalam keluarga atau dalam tatanan budaya tempat mereka hidup. Kekerasan-kekerasan tersebut bukan hanya bersifat verbal namun juga non-verbal,” papar Dicky.
Catatan itu menjadi salah satu konteks yang memperlihatkan bahwa pengalaman perempuan Papua tidak dapat dilepaskan dari persoalan sosial yang lebih luas.
Namun, pembicaraan Aquino tentang perempuan tidak hanya berhenti pada kekerasan dan pembatasan ruang gerak. Ia juga menempatkan perempuan dalam hubungan yang erat dengan kehidupan, tanah adat, dan keberlangsungan masyarakat Papua.
Mama Penyelamat Kehidupan
Menurut Aquino, kaum perempuan mendapat tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat Papua.
Penghormatan terhadap perempuan, menurutnya, dapat terlihat dari hal-hal sederhana dalam keseharian, terutama ketika seorang ibu melindungi dan menyelamatkan kehidupan anaknya.
Ada narasi mendalam tentang intuisi dan naluri seorang ibu yang menjaga kehidupan.
Penghormatan itu pula yang, dalam pandangan Aquino, berkaitan dengan cara masyarakat Papua memandang tanah sebagai mama.
Tanah Papua dipahami sebagai mama yang melahirkan, memelihara, dan membesarkan setiap orang Papua.
Manusia dilahirkan di atas tanah, menjalani kehidupannya dengan segala yang disediakan alam, lalu pada akhirnya kembali ke tanah secara damai.
Bagi orang Papua, tanah bukan semata-mata tempat berpijak. Tanah juga memiliki hubungan dengan kisah penciptaan, kehidupan, kematian, serta keberadaan leluhur.
Dalam pandangan tersebut, tanah adat memiliki kedudukan yang sangat penting. Ia menjadi tempat manusia hidup, memperoleh penghidupan, membangun relasi, dan mewariskan nilai-nilai kepada generasi berikutnya.
Tanah sebagai mama telah memelihara dan membesarkan masyarakat adat, termasuk mereka yang tinggal di kawasan Pegunungan Tengah Papua.

Sebagaimana masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut dan sungai, masyarakat di pegunungan memiliki hubungan erat dengan hutan dan segala isinya.
“Seperti masyarakat pantai di bagian pesisir pantai Papua, tanah adat telah memelihara orang-orang koteka dengan keberadaan hutan dan segala isinya yang paling misteri. Mereka keluar masuk hutan yang luas,” terangnya.
Mereka juga mengambil air minum langsung dari sungai. Di sana terdapat ikan yang menjadi bagian dari sumber kehidupan yang disediakan alam.
Bagi masyarakat adat Papua atau Orang Asli Papua (OAP), tanah merupakan harta yang abadi dan terakhir. Di dalamnya terkandung nilai-nilai transendental, kemuliaan, dan keagungan yang memberi arti bagi kehidupan.
Tanah juga mengandung makna tentang tujuan hidup yang baik dan benar, serta hubungan manusia dengan alam dan lingkungan tempat mereka berasal.
Karena itu, kehilangan tanah bukan sekadar kehilangan sebidang wilayah.
Dalam pandangan yang disampaikan Aquino, kehilangan tanah dapat berarti kehilangan bagian penting dari kehidupan, identitas, dan hubungan masyarakat dengan leluhur serta alamnya.
Pemikiran tersebut sejalan dengan kegelisahan yang kerap hadir dalam karya-karyanya: bagaimana manusia, terutama masyarakat Papua, mempertahankan ruang hidup, martabat, dan kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.
“Papua Bukan Tanah Kosong”
Di akhir perbincangan, Aquino mengingat sebuah puisi berjudul Ado Mamayo karya Idra Faudu.
Puisi itu menyimpan rintihan tentang tanah Papua, kehidupan masyarakatnya, dan pengalaman kehilangan yang dirasakan ketika ruang hidup mereka terancam.
“Ado mamayo… Di balik rimbun pohon-pohon tua, kitorang bertanya, adil ka? Adil ka? Mama Papua melahirkan anak manusia yang diberkati kasih sayang, bukan binatang, bukan pula pelaku kejahatan, yang kalian tembak dan tendang….”
Bagi Aquino, Ado Mamayo merupakan semacam rintihan. Kurang lebih, ungkapan itu berarti “duh, emak”.
Ia menghubungkannya dengan cerita tentang orang Papua yang kehilangan tanah, terutama ketika wilayah yang dianggap suci, termasuk Nemangkawi, menghadapi berbagai persoalan.
Bagi masyarakat yang memiliki ikatan kuat dengan tanah adat, kehilangan ruang hidup bukan hanya persoalan wilayah.
Di dalamnya terdapat hubungan dengan leluhur, identitas, sejarah, dan keberlangsungan generasi.
“Papua bukan tanah kosong,” tegas Aquino.
Kalimat itu menjadi penutup yang merangkum kegelisahannya tentang Papua, tanah yang memiliki kehidupan, sejarah, masyarakat, dan makna yang tidak dapat dipisahkan begitu saja dari orang-orang yang mewarisinya.
Bagi Aquino, kegelisahan tersebut tidak selalu harus disampaikan melalui pidato atau tulisan panjang.
Ada hal-hal yang dapat disuarakan melalui gambar, melalui kontras hitam dan putih, serta melalui garis-garis yang perlahan membentuk wajah, tubuh, dan simbol kehidupan.
Di balik arang dan goresan pensilnya, ia berusaha memberi ruang bagi cerita-cerita yang kerap luput didengar.
Tentang perempuan yang ingin menentukan ruang geraknya sendiri. Tentang masyarakat yang berjuang mempertahankan tanah dan kehidupan. Tentang lingkungan yang menghadapi ancaman. Juga tentang generasi muda yang membutuhkan kesempatan untuk mengenal seni dan menemukan suara mereka sendiri.
Aquino mungkin belum memiliki galeri seperti yang diimpikannya. Ia masih bekerja untuk menghidupi keluarga, membagi waktu antara tanggung jawab rumah tangga dan proses berkarya, serta mencari ruang yang lebih luas bagi karya-karyanya.
Namun, dari ruang tamu sederhana yang ia bayangkan sebagai galeri de Dios, ada harapan yang terus dipeliharanya.
Bahwa suatu hari, ruang itu tidak hanya menjadi tempat untuk memajang gambar, tetapi juga menjadi tempat bagi anak-anak muda Papua untuk belajar, bereksperimen, dan bercerita melalui seni.
Sebab, bagi Aquino, karya bukan semata-mata tentang gambar yang selesai.
Karya adalah keberanian untuk bersuara, kesempatan untuk didengar, dan harapan agar cerita-cerita dari Papua terus menemukan ruang untuk hidup. (Maurits Sadipun)









Tinggalkan Balasan