BUKA KONFERENSI — Bupati Puncak Elvis Tabuni didampingi Wagub Deinas Geley, Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong dan pimpinan gereja, menggunting pita menandai pembukaan Konferensi Sinode IV GKII Wilayah II Papua Tengah di Graha GKII, Timika, Selasa (13/10/2026). (FOTO: YESON WENDA/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id — Bupati Puncak, Elvis Tabuni, secara resmi membuka Konferensi Sinode IV Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Wilayah II Papua Tengah di Gedung Graha GKII, Timika, Selasa (13/10/2026).

Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya kolaborasi gereja dan pemerintah untuk mendorong pembangunan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pembukaan konferensi ditandai dengan penabuhan tifa secara serentak oleh Bupati Puncak Elvis Tabuni bersama Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley, Wakil Bupati Mimika, Kapolres Puncak, dan Dandim 1717/Puncak.

Konferensi yang mengusung tema “Bertumbuh Bersama”, berdasarkan Efesus 4:15–16, diikuti 564 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 560 peserta terdaftar dari 28 klasis dan empat perwakilan Badan Pengurus GKII Pusat, termasuk peninjau.

Peserta berasal dari wilayah pelayanan Kabupaten Puncak, Puncak Jaya, Intan Jaya, dan Mimika, Provinsi Papua Tengah.

Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengevaluasi pelayanan gereja, memperkuat persatuan, serta merumuskan arah pelayanan ke depan.

Dalam sambutannya, Elvis menyampaikan rasa syukur karena seluruh peserta dapat berkumpul dalam keadaan sehat.

Ia juga menyampaikan selamat datang kepada pimpinan gereja, para hamba Tuhan, dan seluruh peserta konferensi.

Ia berharap konferensi berlangsung dengan baik dan menghasilkan keputusan yang bermanfaat bagi gereja, masyarakat, serta pembangunan daerah.

Menurut Elvis, konferensi sinode bukan sekadar forum untuk berkumpul atau memilih pengurus, melainkan kesempatan mengevaluasi pelayanan, memperbaiki kekurangan, dan menyusun program yang lebih baik untuk masa mendatang.

Ia mengingatkan seluruh peserta agar tetap menjaga persatuan dan mengutamakan kasih di tengah perbedaan pendapat.

“Perbedaan pendapat dalam konferensi adalah hal yang biasa, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita terpecah. Mari kita mengutamakan kasih, persaudaraan, dan kehendak Tuhan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok,” tegasnya.

Elvis mengungkapkan, konferensi tersebut semula diharapkan dapat dilaksanakan di Kabupaten Puncak.

Namun, karena kondisi dan situasi yang ada, kegiatan itu akhirnya dipindahkan ke Timika.

Meski demikian, ia menegaskan pentingnya menjaga keselamatan, keamanan, dan kelancaran kegiatan.

Ia juga mengajak seluruh peserta untuk terus mendoakan Kabupaten Puncak agar senantiasa berada dalam perlindungan Tuhan, hidup damai, dan terbebas dari situasi yang mengganggu keamanan masyarakat.

Lebih lanjut, Elvis menekankan bahwa pembangunan daerah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, seperti jalan, gedung, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas umum lainnya.

Pembangunan juga harus mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan iman, pembentukan karakter, serta penciptaan kehidupan masyarakat yang aman dan damai.

Karena itu, menurutnya, dukungan gereja, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, dan seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk mendorong kemajuan daerah.

“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Kita harus berjalan bersama, saling mendukung, dan saling mendoakan demi kemajuan daerah yang kita cintai ini,” katanya.

Ia juga mengajak para hamba Tuhan untuk terus memberikan penguatan rohani kepada masyarakat dan membimbing generasi muda agar menjauhi tindakan kekerasan.

Selain itu, generasi muda perlu didorong untuk belajar, bekerja, dan membangun masa depan yang lebih baik.

Elvis berharap GKII Wilayah II Papua Tengah terus meningkatkan pelayanan kepada jemaat, memberikan perhatian terhadap pendidikan anak-anak, membina generasi muda, serta mendukung peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, gereja dan pemerintah memiliki peran berbeda, tetapi saling melengkapi.

Gereja berperan dalam pelayanan firman Tuhan dan pembinaan iman, sedangkan pemerintah bertanggung jawab terhadap pembangunan daerah dan penyelenggaraan pelayanan publik.

“Ketika gereja dan pemerintah berjalan bersama dengan niat yang baik, maka banyak hal yang dapat kita kerjakan untuk kepentingan masyarakat,” ungkapnya.

Elvis berharap seluruh peserta memperoleh hikmat dalam menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, dan menentukan arah pelayanan ke depan.

Ia juga mengajak semua pihak menjadikan kasih Tuhan Yesus Kristus sebagai landasan untuk membangun kehidupan bermasyarakat yang damai dan harmonis di Papua Tengah. (*)

Penulis: Yeson P. Wenda
Editor: Maurits SDP