KERJA BAKTI — Warga bersama PHD PTFI, Puskesmas Wania, Pemerintah Kampung Nawaripi, dan sejumlah pihak lainnya membersihkan lingkungan Kampung Nawaripi untuk menekan risiko penyebaran malaria dan DBD. (FOTO: IST/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id — Kepala Kampung Nawaripi Norman Ditubun menilai peningkatan kualitas pendidikan anak-anak kampung merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kesadaran masyarakat, termasuk dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan.

Hal itu disampaikan Norman di tengah kegiatan kerja bakti rutin di Kampung Nawaripi, Kabupaten Mimika, yang dilakukan untuk menekan penyebaran malaria dan demam berdarah dengue (DBD).

Menurut Norman, kerja bakti penting sebagai langkah menjaga kebersihan lingkungan.

Namun, upaya tersebut perlu dibarengi dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM), terutama generasi muda.

Ia mendorong perusahaan-perusahaan yang bernaung di bawah PT Freeport Indonesia (PTFI) tidak hanya menjalankan program kebersihan lingkungan, tetapi juga memperkuat program pendidikan bagi anak-anak Nawaripi.

“Saya berterima kasih kepada sejumlah departemen perusahaan yang bernaung di bawah PTFI. Kerja bakti ini untuk memutus mata rantai penyebaran malaria dan DBD yang masih tinggi di kampung ini. Namun, yang lebih penting, perusahaan perlu berpikir mengubah masa depan generasi penerus Nawaripi dengan membuat program pendidikan yang mumpuni,” kata Norman.

Ia menilai pendidikan yang baik dapat membentuk pola pikir dan kesadaran masyarakat.

Anak-anak yang memiliki pengetahuan diharapkan mampu menjadi penggerak perilaku hidup bersih dan sehat di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Dengan SDM yang bagus dan anak-anak Nawaripi sudah sekolah semua, pasti tidak perlu kerja bakti lagi. Kalau SDM belum siap, kerja bakti ini akan terus dilakukan selamanya,” ujarnya.

Norman berharap program peningkatan SDM dapat menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang dijalankan PTFI, perusahaan privatisasi, maupun kontraktor yang beroperasi di sekitar Kampung Nawaripi.

Menurut dia, pendidikan dapat membantu generasi muda mengedukasi keluarga dan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan, seperti membersihkan pekarangan, tidak membuang sampah sembarangan, serta memastikan drainase tetap berfungsi baik.

“Setidaknya dengan pendidikan yang bagus, mereka bisa mengingatkan orang tua agar pekarangan bersih, tidak ada sampah, drainase tidak tersumbat. Hidup bersih dan sehat supaya bebas dari ancaman penyakit,” katanya.

Menanggapi usulan tersebut, perwakilan manajemen PTFI menyatakan masukan Pemerintah Kampung Nawaripi terkait pengembangan SDM anak-anak kampung akan disampaikan kepada manajemen untuk menjadi bahan pertimbangan.

Sementara itu, kerja bakti di Kampung Nawaripi merupakan kegiatan rutin PHD PTFI bersama Puskesmas Wania.

Warga diajak membersihkan sampah, rumput, drainase, serta menghilangkan genangan air di sekitar rumah.

Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah lingkungan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab malaria dan DBD.

Kegiatan ini melibatkan PHD PTFI, Puskesmas Wania, Pemerintah Kampung Nawaripi, SLD PTFI, Yayasan Lingkungan Hidup PTFI, Kampung Sehat YPMAK, serta warga RT 3 Kampung Nawaripi.

Bagi Pemerintah Kampung Nawaripi, kerja bakti merupakan langkah jangka pendek untuk menekan risiko penyakit.

Sementara pendidikan dipandang sebagai langkah jangka panjang untuk membangun kesadaran dan mengubah kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan serta kesehatan lingkungan. (*)

Penulis: Yeson P. Wanda
Editor: Maurits SDP