NOKEN — Mama-mama Papua menjajakan noken hasil anyaman tangan di pinggir jalan samping Graha Eme Neme Yauware, Timika. (FOTO: YUDIT/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id — Dari balik pagar Graha Eme Neme Yauware, deretan noken berwarna-warni tampak mencuri perhatian warga yang melintas.
Di tempat sederhana itu, mama-mama Papua duduk dan menata noken hasil anyaman tangan mereka.
Dibuat dari serat alam dan benang, noken hadir dalam berbagai bentuk dan motif, mulai dari model sederhana hingga yang dihiasi tulisan dan corak khas Papua.
Bagi mama-mama tersebut, noken bukan sekadar barang yang dijual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Setiap anyaman menjadi bagian dari upaya mempertahankan keterampilan dan identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Kami menganyam ini dari hati, menggunakan bahan alam yang ada di sekitar kami. Di sini kami jual langsung di samping Eme Neme agar orang tahu noken asli buatan tangan mama-mama sendiri, bukan buatan pabrik,” ujar Mama Albertina.
Menurut Albertina, noken merupakan salah satu warisan budaya yang harus terus dijaga keberadaannya.
Apalagi, noken juga banyak dicari oleh warga maupun pendatang yang datang ke Timika sebagai oleh-oleh khas Papua.
“Noken ini juga merupakan salah satu warisan budaya tak benda yang ada dan tidak akan pernah hilang. Apalagi sekarang banyak pendatang dari luar Papua yang berkunjung dan mencari oleh-oleh khas daerah. Karena itu, kami tetap menjaga kelestarian warisan budaya ini,” katanya.
Aktivitas mama-mama di kawasan tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu berlangsung di ruang pamer atau panggung pertunjukan.
Di tempat sederhana, dari tangan perempuan-perempuan Papua, noken terus dirajut dan diperkenalkan kepada siapa saja yang datang.
Di balik setiap helai serat yang dianyam, ada keterampilan, cerita, dan identitas budaya yang berusaha dipertahankan.
Dari pinggir Graha Eme Neme Yauware, warisan itu terus hidup ‘satu noken demi satu noken’. (yud)








Tinggalkan Balasan