MENGAJAR – Guru Kosta Beda Keda sedang mengajar murid SD Inpres Uta II Kapiraya. (FOTO:DOK.PRIBADI)
MIMIKA, timikaexpress.id – Tanpa air bersih, hidup dalam gelap gulita, hingga kesulitan berkomunikasi dengan keluarga selama berbulan-bulan.
Itulah sebagian pengalaman yang harus dilalui Kosta Beda Keda selama mengabdi sebagai guru di wilayah pesisir Kamoro, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Hampir 12 tahun mengabdi, Kosta telah bertugas di sejumlah sekolah, mulai dari SMP Negeri Omauga, SMP Negeri Amar, hingga kini mengajar di SD Inpres Uta II Kapiraya.
Berbagai keterbatasan tidak membuatnya menyerah.
Baginya, masa depan anak-anak pesisir menjadi alasan untuk terus bertahan dan menjalankan tugas sebagai pendidik.
Perjalanan pengabdiannya dimulai pada Januari 2015.
Saat itu, Kosta bekerja sebagai guru honorer di SMAN 6 Mimika.
Karena kebutuhan hidup, ia kemudian mengikuti seleksi guru kontrak Pemerintah Kabupaten Mimika dan mendapat kesempatan ditempatkan di sekolah-sekolah baru yang masih kekurangan tenaga pendidik.
Namun, penugasan di wilayah pesisir bukan perkara mudah.
Saat pertama tiba di Omauga, Kosta bersama rekan-rekan guru harus menghadapi keterbatasan fasilitas dasar.
Air bersih belum tersedia secara memadai, penerangan hanya mengandalkan lampu pelita berbahan minyak tanah, sementara komunikasi dengan keluarga di kota kerap terputus selama berbulan-bulan.
Untuk mendapatkan sinyal telepon, mereka bahkan harus memanjat pohon waru di tepi pantai.
“Saat pertama tiba di Omauga, tangki air di perumahan guru belum terisi. Kami hanya mengandalkan galon yang dibawa dari kota, lalu bergotong royong menggali sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutur Kosta.
Dalam kondisi tersebut, kebersamaan menjadi kekuatan bagi para guru.
Mereka bergotong royong, memasak bersama, dan saling menguatkan agar tetap bertahan menjalankan tugas.
Kini, Kosta bertugas di SD Inpres Uta II Kapiraya yang memiliki sekitar 74 peserta didik.
Sejumlah kemajuan mulai dirasakan, di antaranya tersedianya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), mesin diesel, serta layanan internet berbasis Starlink.
Meski demikian, fasilitas tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan sekolah. Pasokan listrik masih terbatas, baik karena kapasitas daya maupun ketersediaan bahan bakar.
Ketika listrik terhenti, akses internet ikut terganggu sehingga pembelajaran berbasis teknologi belum dapat berjalan maksimal.
“Dulu kami hidup dalam gelap gulita dan terputus komunikasi berbulan-bulan. Bahkan, harus memanjat pohon waru di pantai untuk mendapatkan sinyal. Sekarang sudah ada PLTS, diesel, dan Starlink, tetapi ketika listrik mati, internet juga terhambat,” ungkapnya.
Tantangan lainnya datang dari kondisi sosial dan ekonomi keluarga peserta didik. Tingkat kehadiran siswa belum sepenuhnya stabil karena sebagian orang tua pergi mendulang dan membawa anak-anak mereka bermalam selama beberapa hari.
Akibatnya, ada siswa yang tidak masuk sekolah secara bergantian.
Kondisi ekonomi keluarga juga membuat beberapa anak datang ke sekolah dalam keadaan lapar.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut, sekolah memanfaatkan bantuan bahan makanan dari Pemerintah Kabupaten Mimika agar para siswa dapat makan bersama saat jam istirahat.
“Banyak anak tidak masuk sekolah secara bergantian karena orang tua pergi mendulang dan bermalam berhari-hari. Ada juga yang datang ke sekolah dalam keadaan lapar. Berkat bantuan bahan makanan dari Pemda Mimika, kami bisa makan bersama saat istirahat sehingga anak-anak lebih bersemangat belajar,” katanya.
Di tengah berbagai keterbatasan itu, Kosta bersama rekan-rekan guru terus berupaya menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Kegiatan belajar diselingi permainan, ice breaking, olahraga, serta pengenalan seni dan budaya khas Kamoro agar anak-anak tetap antusias mengikuti pelajaran.
Pengalaman Kosta menjadi gambaran perjuangan tenaga pendidik di wilayah pesisir dan daerah yang sulit dijangkau.
Kemajuan fasilitas pendidikan memang mulai dirasakan, tetapi masih dibutuhkan dukungan berkelanjutan, terutama untuk memastikan ketersediaan listrik, air bersih, dan jaringan internet yang stabil.
Pendampingan kepada orang tua juga dinilai penting agar kehadiran anak di sekolah semakin terjaga dan pendidikan tetap menjadi perhatian bersama.
Bagi Kosta, pengabdian di pesisir Kamoro bukan sekadar pekerjaan. Selama hampir 12 tahun, wilayah ini telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya, lengkap dengan segala suka dan duka.
“Ketika kita melangkah dengan tulus bekerja di tanah ini, semua keterbatasan terasa seperti angin yang cepat berlalu. Tanah ini telah menjadi bagian panjang hidup saya. Suka dan duka menjadi hal terindah yang mungkin belum dirasakan sebagian orang lain,” pungkasnya.
Kisah Kosta menjadi pengingat bahwa di balik keberlangsungan pendidikan anak-anak di wilayah pesisir, ada guru-guru yang terus bertahan, mengajar, dan menyalakan harapan di tengah keterbatasan. (*)









Tinggalkan Balasan