MIMIKA, timikaexpress.id – Tokoh adat Suku Kamoro, Yohanis Yance Boyau, menegaskan bahwa pertemuan terkait penyelesaian konflik tapal batas Kapiraya harus melibatkan seluruh tokoh adat.
Hal ini disampaikan menyusul rencana rapat koordinasi yang akan digelar di Nabire, namun dinilai tidak melibatkan secara menyeluruh para pemangku adat, khususnya dari Suku Kamoro.
“Saya sangat kecewa, karena kami sebagai masyarakat adat tidak dilibatkan. Masalah adat tidak bisa diselesaikan tanpa kehadiran tokoh adat,” tegas Yance.
Menurutnya, pembahasan tapal batas adat merupakan persoalan sensitif yang tidak bisa diselesaikan secara sepihak atau hanya di tingkat pemerintah.
Ia menilai, jika rapat tetap dilaksanakan tanpa melibatkan tokoh adat, maka hasilnya tidak akan menyentuh akar persoalan di lapangan, khususnya di wilayah Kapiraya.
“Kalau tidak libatkan tokoh adat, pertemuan ini tidak akan menyelesaikan masalah di lokasi konflik,” ujarnya.
Karena itu, Yance meminta agar agenda tersebut ditunda dan dijadwalkan ulang dengan menghadirkan seluruh pihak terkait, terutama para tokoh adat sebagai pemilik hak ulayat.
Ia juga menekankan pentingnya dialog terbuka dan koordinasi yang baik agar penyelesaian konflik dapat mencapai kesepakatan bersama.
Sebelumnya, rapat yang diinisiasi Tim Penanganan Konflik Sosial (PKS) Kapiraya Provinsi Papua Tengah itu dijadwalkan berlangsung di Nabire dengan agenda sinkronisasi data dan penyelesaian tapal batas adat di wilayah Kapiraya yang melibatkan Kabupaten Mimika, Dogiyai, dan Deiyai. (*)









Tinggalkan Balasan