CIUM SALIB – Umat Katolik mengikuti prosesi penciuman salib dalam misa Jumat Agung di Paroki Santo Stefanus Sempan, Timika, Jumat (3/4/2026). (FOTO: EUVRASIA/TIMEX)

TIMIKA, timikaexpress.id – Suasana hening dan penuh dukacita mewarnai misa Jumat Agung di Gereja Santo Stefanus Sempan, Timika, Jumat (3/4/2026), yang diikuti ribuan umat Katolik.

Ribuan umat hadir mengenakan busana serba hitam sebagai simbol duka.

Sejak ritus pembuka, misa berlangsung khidmat, diperkuat dengan lantunan koor tanpa iringan alat musik yang menambah suasana hening.

Misa yang dipimpin RP Broery, OFM, dimulai pukul 15.00 WIT.

Meski sempat diguyur hujan, umat yang berada di luar gereja tetap bertahan hingga prosesi puncak, yakni penciuman salib dan ritus penutup.

Dalam homilinya, Pastor Broery menegaskan bahwa bacaan Injil dalam perayaan Jumat Agung mengisahkan penderitaan dan wafat Yesus Kristus sebagai utusan Allah.

Ia mengutip nubuat Nabi Yesaya (Yesaya 52:13–53:12) yang menggambarkan penderitaan orang benar yang diperlakukan tidak adil.

“Yesus menjadi korban ketidakadilan. Ia disalahpahami, ditinggalkan, bahkan disangkal oleh orang-orang terdekat-Nya,” ujarnya.

Menurut Pastor Broery, penderitaan yang dialami Yesus menunjukkan kasih yang tidak terbatas kepada manusia.

Meski mengalami siksaan dan penghinaan, Yesus tetap setia memikul salib hingga wafat demi keselamatan umat manusia.

“Salib yang dahulu menjadi simbol kekejaman, diubah menjadi lambang cinta,” katanya.

Ia menambahkan, umat beriman diajak untuk mensyukuri pengorbanan tersebut dan meneladani kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Pastor Broery juga mengingatkan umat agar menjaga sikap dan perkataan terhadap sesama.

Menurutnya, tindakan dan ucapan yang menyakitkan dapat menjadi “salib” bagi orang lain.

“Cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri. Jangan sampai kita melukai orang lain dengan kata-kata dan tindakan,” ujarnya.

Ia mengajak umat untuk terus berdoa dan menjadikan momentum Paskah sebagai refleksi agar hidup dalam kasih, tanpa dendam dan kebencian. (vis)