PENDATAAN – Petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika melakukan pendataan Sensus Ekonomi di salah satu wilayah kerja di Kabupaten Mimika. Dalam pelaksanaannya, petugas menghadapi tantangan, mulai dari penolakan warga, kesalahpahaman terkait tujuan pendataan, hingga kendala akses, sehingga diperlukan pendekatan persuasif dan pendampingan aparat keamanan di sejumlah lokasi. (FOTO: MEGA IRIANTI/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika terus melaksanakan pendataan Sensus Ekonomi di empat wilayah kerja, yakni Ninabua, Sempan, Kwamki Baru, dan Hangaitji.

Pendataan yang menyasar pelaku usaha nonpertanian tersebut diwarnai berbagai tantangan di lapangan, mulai dari kesalahpahaman masyarakat, penolakan responden, hingga kendala akses ke lokasi pendataan.

Sensus Ekonomi mencakup pendataan berbagai sektor usaha, seperti perdagangan, akomodasi dan penyediaan makanan-minuman, jasa, transportasi, konstruksi, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dalam pelaksanaannya, petugas kerap menemui pelaku usaha yang tidak berada di tempat, perbedaan jam operasional usaha, hingga keraguan masyarakat untuk memberikan data.

Di beberapa lokasi, petugas bahkan menghadapi penolakan karena sebagian warga salah memahami tujuan pendataan.

Petugas Sensus Ekonomi, Jenica, mengatakan tantangan yang dihadapi berbeda antara wilayah perkotaan dan perkampungan.

Di kawasan perkotaan, petugas kesulitan menemui responden karena sebagian besar warga sedang bekerja.

Selain itu, banyak rumah berpagar tinggi, tertutup rapat, dan tidak dilengkapi bel sehingga menyulitkan proses pendataan.

Sementara di wilayah perkampungan, sebagian masyarakat mengira kedatangan petugas berkaitan dengan penyaluran bantuan sosial.

Kondisi tersebut membuat petugas harus memberikan penjelasan secara langsung mengenai tujuan pelaksanaan sensus.

“Kesulitan terbesar adalah banyak responden yang salah mengartikan tujuan kedatangan kami. Bahkan ada yang menolak meskipun sudah kami jelaskan. Di perkotaan warga sulit ditemui karena bekerja atau rumah tertutup, sedangkan di kampung banyak yang mengira ini pembagian bantuan sosial,” ujar Jenica.

Untuk membangun kepercayaan masyarakat, petugas di Kampung Hangaitji, Distrik Mimika Baru, menggandeng Bhabinkamtibmas setempat dalam proses pendataan.

Petugas sensus, Riri dan Merlin, mengatakan pendampingan aparat keamanan terbukti efektif mengurangi keraguan masyarakat sekaligus memberikan rasa aman bagi petugas selama menjalankan tugas.

“Di Kampung Hangaitji kami meminta Bhabinkamtibmas mendampingi pendataan agar masyarakat yakin data yang diberikan aman. Pendampingan ini sangat membantu karena situasi di Timika cukup sensitif. Setelah didampingi, warga menjadi lebih terbuka dan tidak ada lagi penolakan,” ujar keduanya.

Selain tantangan di lapangan, petugas juga mengaku masih menghadapi kendala teknis, salah satunya aplikasi Fasih yang kerap mengalami pembaruan saat pendataan berlangsung sehingga menghambat proses pengisian dan pengiriman data.

Petugas Sensus Ekonomi lainnya, Diof, berharap pengembangan aplikasi dapat dipersiapkan lebih matang pada pelaksanaan sensus berikutnya.

“Kami berharap aplikasi Fasih lebih siap sehingga tidak sering diperbarui saat pendataan berlangsung. Data yang telah dikumpulkan juga diharapkan dikelola dengan baik agar kepercayaan masyarakat terhadap BPS tetap terjaga,” katanya.

Sebelum diterjunkan ke lapangan, seluruh petugas telah mengikuti pelatihan serta dibekali atribut, peta wilayah, dan perlengkapan pendataan.

Meski demikian, mereka mengakui masih terdapat beberapa batas wilayah pada peta yang belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan.

BPS Kabupaten Mimika menegaskan pendataan akan terus dilakukan hingga seluruh wilayah kerja selesai didata.

Melalui Sensus Ekonomi ini, BPS berharap dapat menghasilkan data yang akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan ekonomi daerah, sekaligus mendukung perencanaan program yang lebih tepat sasaran bagi pelaku usaha di Kabupaten Mimika. (*)

Penulis: Yudith Sanggu
Editor: Maurits SDP