KONFERENCE PERS– Ketua Harian Persemi Mimika, Donatus Emanuel Ananim didampingi Wakil Ketua Askab PSSI Kabupaten Mimika, Raimondus A Kelanangame dan Rician Fictor Abidondifu selaku Bidang Hukum Persemi saat menggelar konference pers di Kantor Askab Mimika, Selasa (30/1). (FOTO: GREN/TIMEX)

TIMIKAEXPRESS.id – Ketua Harian Persemi Mimika, Donatus Emanuel Ananim menegaskan akan melakukan upaya banding ke Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) di Jakarta terhadap insiden yang terjadi dalam pertandingan babak 8 besar Piala Soeratin U-17 Nasional yang digelar di GOR Thor, Surabaya pada Senin (29/1) antara Persikopa Pariaman perwakilan Sumatera Barat melawan Persemi Mimika wakil Papua berakhir ricuh dan terjadi insiden pemukulan pemain pada akhir-akhir pertandingan.

Donatus Emanuel Ananim, Ketua Harian Persemi Mimika dalam melakukan conference pers bersama Wakil Ketua Askab PSSI Kabupaten Mimika, Raimondus A Kelanangame dan Rician Fictor Abidondifu selaku Bidang Hukum Persemi di Kantor Askba Kabupaten Mimika pada Selasa (30/1) mengatakan, ada nama Persemi didalam PSSI itu menjadi tanggungjawabnya guna membina karir sepakbola pemain Persemi kedepannya.

“Terkait insiden yang terjadi di GOR Thor Surabaya kemarin itu, kami Persemi Mimika tidak pernah baku pukul dalam pertandingan sepakbola, hal itu tidak ada sama sekali. Yang terjadi itu para pemain Persikopa Pariaman yang duluan melakukan pemukulan terhadap pemain Persemi. Saya punya rekaman dan bukti sangat jelas,” jelasnya.

Lanjutnya, saya tidak terima dengan keputusan yang diberikan oleh Komisi Displin PSSI terhadap empat pemain Persemi yang dilarang bermain bola selama 2 tahun kedepannya, baik itu liga nasional maupun liga daerah.

Hal itu sama artinya ingin mematikan karir pemain Persemi Mimika. Sedangkan Persikopa Pariaman hanya  satu pemain yang dilarang bermain bola selama 6 bulan saja.

Saya punya bukti, dan kita harus berbicara terkait bukti. Sehingga dalam waktu dekat, saya akan melakukan upaya banding terkait insiden tersebut kepada PSSI. Karena dalam bukti itu juga, kami dibilang Monyet dan segala macam.

Sementara itu, Emanuel meminta kepada seluruh masyarakat Mimika agar selalu mendukung Persemi Mimika, dan jangan menilai pemain Persemi itu nakal seperti tersebar dalam grup-grup WA saat ini.

“Yang viral dimedsos itu tidak benar, pada saat pertandingan ada beberapa pemain Persikopa Pariaman sudah dalam kondisi kecapaian dan lain-lain, bukan dipukul oleh pemain Persemi. Dari kejadian itu, kami dibilang bangsa Monyet dan hal ini saya akan bawah ke PSSI,” jelasnya.

Rician Fictor Abidondifu selaku Bidang Hukum Persemi dalam conference pers mengatakan, pertandingan sepakbola itu berkaitan langsung dengan fisik. Sehingga kita tidak bisa langsung bilang bahwa yang terjadi itu adalah pemukulan terhadap pemain lawan.

“Kami memang sangat tidak terima dengan keputusan yang dilakukan oleh Komdis. Karena menurut kami itu merupakan keputusan sepihak tanpa melihat hal-hal yang membuat teman-teman kami melakukan hal itu, kan ada sebab akibat,” jelasnya.

Lanjutnya, kami dalam waktu dekat akan melakukan upaya banding terhadap keputusan Komdis itu. Karena ada empat pemain kami dilarang bermain selama 36 bulan, kita tidak bisa membunuh karir pemain-pemian Persemi hanya karena insiden yang belum tentu dilakukan oleh mereka sendiri.

Kami juga harus tahu keputusan Komdis terhadap pemain lawan, karena pemain lawan itu juga terlibat dalam insiden tersebut, dan hukumannya apakah merugikan kami sendiri atau ada hukuman yang sama seperti kami saat ini? Kalau memang kedua tim terlibat langsung, seharusnya kedua tim itu dikenakan sangsi yang sama.

Sementara itu, Raimondus A. Kelanangame selaku Wakil Ketua Askab PSSI Kabupaten Mimika  dalam menanggapi insiden tersebut mengatakan, Askab Mimika sangat mendukung langka-langka dari Persemi Mimika terkait insiden yang terjadi dalam pertandingan kemarin.

“Kami sangat prihatin dengan insiden yang terjadi antara tim Persemi dengan tim Persikopa Pariaman. Sehingga kami minta kepada Komdis PSSI agar tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan dengan sangsi-sangsi yang kita lihat sebenarnya tidak perlu sampai menjatuhkan pemain-pemain dari Papua,” jelasnya.

Tambah Raimondus, pemain-pemain sudah punyak bakat yang memang kedepannya pasti akan bersinar seperti bintang-bintang sepakbola dari Papua.

Sehingga kami dari Askab Mimika mendukung penuh langka Persemi untuk harus melakukan banding, tentunya kami ingin mendapat keadilan investigasi yang lebih konprehensif, dan hal itu bisa diterima oleh semua pihak.

Sepakbola itu seharusnya mempersatukan kita, tapi dengan kejadian ini koh Piala Soeratin U-17 Nasional menghasilkan ujaran kebencian dan rasisme itu, kita sangat prihatin.

Selain itu, Raimondus juga meminta PSSI mengusut perkataan bangsa monyet. PSSI sebagai penyelenggara harus bertanggungjawab untuk mengusut hal ini kedepannya. Dan kami minta jaminan keamanan bagi teman-teman yang saat ini masih berada di Surabaya. (glt)