Satu-satunya utusan asli Papua di Konferensi Malino, pencetus nama Irian, dan pengibar bendera Merah Putih pertama di tanah Papua kini diabadikan sebagai teladan persatuan bangsa.

BIAK, timikaexpress.id — Frans Kaisiepo, Pahlawan Nasional asal Papua, lahir di Wardo, Biak pada 10 Oktober 1921.

Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan seluruh tenaga dan pikirannya untuk menyatukan wilayah Papua (Irian Barat) ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dididik melalui tradisi adat suku Biak Numfor serta menempuh pendidikan formal hingga Sekolah Guru dan Kursus Pamong Praja di Jayapura, Frans Kaisiepo mulai menanamkan semangat nasionalisme sejak muda.

Kemudian di 31 Agustus 1945, ia memimpin pengibaran bendera Merah Putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya di tanah Papua.

Pada Konferensi Malino tahun 1946, sebagai satu-satunya utusan asli Papua, ia menentang pembentukan Negara Indonesia Timur sekaligus mencetuskan nama “Irian” yang berarti “Cahaya yang mengusir kegelapan”.

Ia juga mendirikan Partai Indonesia Merdeka (PIM) di Biak pada tahun yang sama.

Karena menolak kehendak Belanda, Frans Kaisiepo dipenjara sebagai tahanan politik dari tahun 1954 hingga 1961.

Setelah bebas, ia dipercaya menjabat Gubernur Irian Barat periode 1964–1973 dan mengawal pelaksanaan Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969 yang menegaskan posisi Papua dalam NKRI.

Sementara itu, Hingga akhir hayatnya pada 10 April 1979, ia menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung RI. Tahun 1993, pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional secara anumerta.

Kini namanya diabadikan pada uang kertas Rp10.000, Bandara Internasional Frans Kaisiepo di Biak, serta kapal perang KRI Frans Kaisiepo.

“Semangat kepemimpinannya menginspirasi generasi muda Papua untuk terus mengutamakan persatuan, memajukan pendidikan lokal, serta berani menyuarakan kebenaran demi kesejahteraan rakyat.”

Warisan perjuangan Frans Kaisiepo menjadi bukti bahwa keinginan rakyat Papua untuk bersatu dengan Indonesia telah tumbuh sejak masa perjuangan kemerdekaan.

Semangat persatuan dan cinta tanah air yang ditunjukkan beliau tetap menjadi teladan bagi seluruh bangsa Indonesia hingga masa kini. (*)