Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau

TIMIKA, timikaexpress.id — Maraknya aktivitas pendulangan emas ilegal di sejumlah titik area operasional PT Freeport Indonesia (PTFI), baik di dataran rendah maupun dataran tinggi, dinilai berpotensi menimbulkan kerusakan lingkungan dan konflik sosial.

Sejumlah pendulang ilegal dilaporkan menggunakan mesin alkon untuk mengeruk material, yang dinilai tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga memicu kecemburuan sosial di kalangan pendulang lokal.

Tokoh perempuan, Dince Dimpai, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap potensi konflik antara pendulang Orang Asli Papua yang masih menggunakan cara manual dengan pendulang pendatang yang memakai alat berat.

“Pendulang asli Papua masih manual, sementara pendatang menggunakan alat pengeruk. Ini bisa memicu konflik,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, mengatakan pihaknya siap berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Mimika serta TNI-Polri untuk mencari solusi bersama.

“Potensi kecemburuan sosial memang ada. Karena itu, kami akan berkoordinasi dengan Pemkab dan aparat keamanan agar persoalan ini tidak berkembang menjadi gejolak,” katanya kepada wartawan, Senin (23/2/2026).

DPRK Mimika berharap koordinasi lintas pihak dapat menghasilkan langkah konkret guna menekan aktivitas pendulangan ilegal sekaligus menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan. (via)