MOMEN DAMAI – Perwakilan keluarga yang bertikai saling berjabat tangan sebagai momen damai dan simbol berakhirnya konflik dan dimulainya kehidupan yang lebih harmonis di Kwamki Narama. (FOTO:GREN/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id – Konflik yang berlangsung sekitar delapan bulan antara dua kelompok masyarakat di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, akhirnya berakhir melalui prosesi perdamaian adat yang digelar di Kampung Amole, Rabu (24/6/2026).
Prosesi tersebut dihadiri Pemerintah Kabupaten Mimika, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, serta perwakilan kedua keluarga yang selama ini terlibat perselisihan.
Kapolres Mimika AKBP Billyandha Hildiario Budiman mengatakan perdamaian tersebut menjadi momentum penting bagi seluruh masyarakat Kwamki Narama untuk menutup lembaran konflik dan membangun kehidupan yang lebih harmonis.
“Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi kita semua. Mari kita fokus pada perdamaian dan meninggalkan konflik yang selama ini terjadi,” kata Billy.
Ia mengingatkan masyarakat agar setiap persoalan diselesaikan melalui jalur komunikasi, musyawarah, maupun mekanisme hukum dan adat yang tersedia.
Menurutnya, konflik berkepanjangan tidak pernah menjadi solusi karena hanya menimbulkan korban dan memperpanjang penderitaan masyarakat.
“Perang tidak menyelesaikan masalah. Semakin lama konflik berlangsung, semakin banyak korban yang jatuh,” ujarnya.
Billy juga mengajak kedua belah pihak untuk menghilangkan rasa dendam dan memulai kehidupan baru yang lebih damai.
Sementara itu, Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa konflik yang terjadi bukanlah perang antarsuku, melainkan perselisihan antar keluarga yang harus segera diakhiri.

“Saya tidak mengatakan ini perang suku. Ini konflik antar keluarga. Karena itu, mari kita tutup semua persoalan ini dan kembali hidup sebagai keluarga besar,” kata Johannes.
Menurut dia, upaya perdamaian sebenarnya telah dilakukan sebelumnya.
Namun, proses tersebut belum menghasilkan kesepakatan yang benar-benar diterima oleh semua pihak.
Karena itu, pertemuan lanjutan dilakukan untuk memastikan kedua kelompok memiliki komitmen yang sama dalam menjaga perdamaian.
Johannes berharap kesepakatan yang telah dicapai dapat dipatuhi bersama sehingga konflik serupa tidak kembali terulang.
“Kita ini sedikit. Jangan lagi saling membunuh. Mari jaga kehidupan dan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Ia menambahkan, terciptanya situasi yang aman akan memberikan ruang yang lebih luas bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di Distrik Kwamki Narama.
Prosesi perdamaian kemudian dilanjutkan dengan ritual adat berupa panah babi dan patah panah sebagai simbol berakhirnya permusuhan antara kedua kelompok.
Kesepakatan damai tersebut diharapkan menjadi titik awal terciptanya kehidupan masyarakat yang aman, rukun, dan saling menghormati demi kemajuan Kwamki Narama di masa mendatang. (via)’















Tinggalkan Balasan