GAMBAR– RS Waa-Banti (FOTO: ISTIMEWA/TIMEX)

TIMIKA,TIMIKAEXPRESS.id – Reynold Rizal Ubra, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Papua Tengah menyebut ada alasan Tenaga Kesehatan (Nakes) status Aparatur Sipil Negara (ASN) enggan bekerja di wilayah pedalaman.

Ini menyusul adanya rencana ditempattugaskannya Nakes dari Timika ke Rumah Sakit (RS) Waa-Banti, Distrik Tembagapura.

Kenyataan  ini  sehingga berdampak pada layanan kesehatan yang belum merata, khususnya di pedalaman Mimika.

Selain aspek jaminan keamanan di wilayah rawan konflik yang menjadi pertimbangan tenaga kesehatan untuk program pemerataan layanan kesehatan, masalahnya sarana-prasarana atau alat kerja yang kadang-kadang tidak tersedia, ini pun jadi alasan mendasar.

Belum lagi permasalahan kompleks tidak relevansi dengan tunjangan kesejahteraan.

Menyikapi keengganan Nakes status ASN  untuk ditempatkan di RS Waa-Banti, maka Reynold menegaska kepada Nakes tersebut sebaiknya keluar dari Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri).

“Saya tegaskan ini jadi atensi semua Nakes di Timika yang telah mengangkat sumpah dan janji melayani masyarakat dan siap ditempatkan dimana saja,” tegas Reynold kepada Timika eXpress di Hall Room Hotel Grand Tembaga, Rabu (26/7).

Ia menybut, redistribusi Nakes untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, ini merupakan kewenangan Dinkes, bukan berdasarkan kepentingan orang atau kelompok.

“Kalau ada Nakes tidak ingin dipindahkan ke Waa Banti, maka kerja saja di rumah sakit swasta, karena saat kami ditempatkan oleh negara, kami tidak pernah menolak dan siap melakukan pengabdian. Seperti yang saya tegaskan, kalau tidak mau silahkan keluar dari Korpri,” serunya.

Menurut dia, Nakes yang mau ditugaskan di daerah terpencil merupakan orang hebat yang  ingin mendedikasikan dirinya untuk negara, bangsa dan masyarakat.

“Saat dilantik jadi Nakes itu sudah disumpah dan janji, dan penempatan oleh Pemkab Mimika itu buka peluang, serta jaminan gaji dan  take home pay yang tidak mengecewakan,” ujarnya.

Termasuk sarana-prasarana penunjang pelayanan bagi tenaga medis di RS Waa-Banti itu sangat memadai, apalagi daerah terpencil merupakan simbol dari keseriusan pemerintah memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan maksimal.

“Kalau ada Nakes yang menolak dengan alasan keamanan, saya tegaskan kalau negara ini aman, jadi tidak ada alasan menolak ditempattugaskan di Banti,” tegasnya lagi.

Pasalnya, lanjut Reynold, RS Waa Banti kini butuh 122 Nakes, ini melihat dari beban kerja.

“Rencana dalam waktu dekat, kami akan rekrut terlebih dahulu  50 Nakes. Kalau  tenaga dokter, untuk jangka panjang memang dibutuhkan banyak, tetapi untuk saat ini kami terima dulu lima dokter,” paparnya.

Ia menambahkan, terkait rekrutmen Nakes juga tenaga dokter, banyak dokter ingin lakukan pelayanan kesehatan di Waa Banti, apalagi rumah sakitnya sudah sangat siap.

“Ini berbanding terbalik dengan banyaknya Nakes yang menolak. Makanya, kami sedang lakukan sosialisasi, dan  progresnya akan disampaikan terlebih dahulu ke pimpinan daerah termasuk para Komandan Satuan (Dansat) TNI-Polri sehingga mendapat dukungan jaminan keamanan,” demikian Reynold. (ela)