Prof. DR. Nico Syukur Dister, OFM

TIMIKA, timikaexpress.id – Kerinduan manusia akan Yang Ilahi sejatinya bukan sesuatu yang asing.

Ia telah terpatri dalam kedalaman jiwa sejak awal, menjadi dorongan batin yang terus mengarahkan manusia untuk mencari makna, kebenaran, dan kedamaian sejati.

Dalam perspektif filsafat dan teologi, pembuktian ala Thomistik bukan sekadar upaya rasional untuk membuktikan keberadaan Tuhan.

Lebih dari itu, ia merupakan peneguhan atas kerinduan asali jiwa yang ingin “beristirahat” dalam damai-Nya.

Realitas kosmik pun tidak hanya dipahami sebagai kumpulan fakta, tetapi sebagai jejak dan gambaran dari sesuatu yang secara mendalam telah dikenal oleh jiwa, yakni Yang Ilahi itu sendiri.

Dalam terang pemahaman tersebut, sosok Nico Syukur Dister hadir sebagai teladan hidup yang menghidupi iman dan ilmu secara seimbang.

Ia tidak hanya bergulat dalam dunia pemikiran, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai iman dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Bagi Prof. Nico, pengetahuan bukanlah tujuan akhir, melainkan jalan untuk semakin mendekat kepada kebenaran yang sejati.

Ia memperlihatkan bahwa ilmu dan iman bukan dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua sisi yang saling melengkapi dalam perjalanan manusia menuju Yang Ilahi.

Lebih dari itu, yang menonjol dari perjalanan hidupnya adalah kerendahan hati.

Dalam kapasitasnya sebagai akademisi dan pelayan masyarakat, ia tetap menunjukkan sikap sederhana, terbuka, dan penuh dedikasi.

Pelayanan akademis dan sosial yang dijalaninya mencerminkan profesionalisme yang kuat, namun tetap dilandasi oleh semangat pengabdian.

Jejak hidupnya menjadi gambaran nyata dari sebuah perjalanan batin, itinerarium mentis in Deum, yakni perjalanan jiwa menuju Tuhan.

Sebuah perjalanan yang tidak hanya ditempuh melalui pemikiran, tetapi juga melalui pengalaman, tindakan, dan komitmen dalam kehidupan nyata.

Kisah ini mengingatkan bahwa pencarian akan Tuhan bukan hanya soal memahami, tetapi juga tentang menghidupi.

Bahwa iman menemukan kepenuhannya ketika diwujudkan dalam tindakan nyata, dalam kerendahan hati, dan dalam pelayanan kepada sesama. (*)