MIMIKA, timikaexpress.id – Piala Dunia FIFA 2026 mulai bergulir, namun gaungnya sudah terasa hingga ke Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Ribuan kilometer dari stadion-stadion megah di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, masyarakat Mimika turut larut dalam pesta sepak bola terbesar di dunia itu.

Piala Dunia edisi ke-23 yang berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 menghadirkan banyak sejarah baru.

Untuk pertama kalinya, jumlah peserta bertambah menjadi 48 negara dan penyelenggaraannya dilakukan oleh tiga negara sekaligus.

Namun bagi warga Mimika, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan sepak bola.

Ajang empat tahunan ini telah menjelma menjadi perayaan bersama yang menyatukan berbagai kalangan masyarakat.

Sejak beberapa pekan terakhir, suasana kota mulai berubah.

Bendera negara-negara peserta Piala Dunia berkibar di berbagai sudut jalan.

Warna kuning-hijau Brasil, biru-putih Argentina, merah Portugal, hingga merah-kuning Spanyol menghiasi pagar rumah, kios, hingga halaman usaha warga.

Dari udara, bentangan bendera berukuran besar tampak menghiasi sejumlah kawasan permukiman.

Tidak sedikit warga yang secara swadaya memasang atribut negara favorit mereka sebagai bentuk dukungan sekaligus kebanggaan.

Euforia juga terlihat dari meningkatnya aktivitas perdagangan atribut sepak bola.

Jersey tim nasional, syal, bendera hingga berbagai pernak-pernik bertema Piala Dunia ramai dijual di pusat-pusat keramaian Kota Timika.

Bagi para pedagang, momentum Piala Dunia menjadi berkah tersendiri.

Penjualan atribut sepak bola meningkat seiring tingginya antusiasme masyarakat yang ingin menunjukkan dukungan kepada tim favorit mereka.

Di sejumlah hotel berbintang, restoran, dan café, nuansa Piala Dunia terasa begitu kuat.

Dekorasi bertema sepak bola menghiasi ruangan, lengkap dengan foto para bintang dunia seperti Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Lamine Yamal, hingga Kylian Mbappe.

Tak hanya itu, berbagai agenda nonton bareng (nobar) mulai disiapkan oleh pelaku usaha untuk mengakomodasi tingginya minat masyarakat menyaksikan pertandingan secara bersama-sama.

Menariknya, antusiasme masyarakat Mimika tidak hanya ditunjukkan kepada negara peserta, tetapi juga kepada pemain-pemain idolanya.

Banyak warga yang mengibarkan bendera negara tertentu karena mengidolakan sosok pemain yang berasal dari negara tersebut.

Di balik fanatisme terhadap tim favorit, tersimpan semangat kebersamaan yang kuat.

Tradisi menghias lingkungan dengan atribut Piala Dunia telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi bagian dari budaya masyarakat Mimika setiap kali pesta sepak bola dunia digelar.

Anak-anak, remaja hingga orang dewasa ikut terlibat.

Sebagian melakukan konvoi kendaraan, sebagian lainnya menghias rumah dan lingkungan sekitar. Semua larut dalam kegembiraan yang sama.

Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa sepak bola mampu melampaui batas geografis, budaya, dan bahasa.

Dari stadion megah di Amerika Utara hingga jalan-jalan di Kota Timika, semangat yang dirasakan tetap sama: kebanggaan, harapan, dan kebersamaan.

Di Mimika, Piala Dunia bukan hanya tentang siapa yang akan menjadi juara.

Lebih dari itu, ajang ini menjadi momentum yang mempererat persaudaraan, menggerakkan roda ekonomi kecil masyarakat, dan menghadirkan suasana penuh warna yang dinanti setiap empat tahun sekali.

Saat peluit pertandingan pertama dibunyikan, jutaan pasang mata di seluruh dunia akan tertuju ke lapangan hijau.

Dan di salah satu sudut Tanah Papua, masyarakat Mimika akan menjadi bagian dari euforia yang sama, menyaksikan, mendukung, dan merayakan sepak bola sebagai bahasa universal yang menyatukan semua orang. (Maurits Sadipun)