MIMIKA, timikaexpress.id — Matahari cerah mengiringi perjalanan kami menuju rumah Timotius Samin di Kampung Iwaka, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika, Selasa (8/9/2026) pagi.

Sekitar 30 kilometer perjalanan ditempuh dari Timika menggunakan mobil.

Tepat pukul 10.00 WIT, kendaraan berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana berdinding papan.

Di teras rumah panggung berukuran sekitar 5 x 7 meter itu, seorang lelaki tua duduk tenang di kursi.

Sebuah tongkat berada di sisi kirinya.

Dialah Timotius Samin, pengukir legendaris Suku Kamoro yang lahir pada 11 Mei 1949.

Usianya kini 77 tahun.

Timotius Samin saat diwawancarai Timika eXpress di teras rumahnya, Rabu, 8 September 2026. (FOTO:MAURITS SDP/TIMEX)

Timo, demikian ia biasa disapa, ditemani istrinya, Medesta Etowai, yang lahir pada 29 Mei 1950.

Keduanya mengenakan pakaian rumahan dan menyambut kedatangan Timika eXpress dengan ramah.

“Maaf, anak dari mana?” tanya Timo.

“Saya wartawan Timika eXpress,” jawab kami.

Timo dan Medesta tersenyum.

Suasana pagi itu pun berubah menjadi percakapan akrab.

Kami menjelaskan maksud kedatangan untuk berbincang mengenai perjalanan panjang Timotius dalam mempromosikan sekaligus melestarikan seni ukir Kamoro, warisan leluhur yang telah membawanya hingga ke berbagai negara.

Dari rumah sederhana di Iwaka itulah kisah panjang seorang pengukir Kamoro dimulai untuk diceritakan kembali.

Bagi Timotius, ukiran Kamoro bukan sekadar karya seni yang dibuat untuk dipajang atau dijual.

Di dalamnya terdapat garis keturunan, hak pewaris, pesan leluhur, serta nilai-nilai sakral yang harus dijaga.

“Ukiran Suku Kamoro, apa yang menjadi pewaris dan hak seseorang yang punya garis ukir dari nenek moyang, kita tidak bisa ambil. Karya saya yang diwariskan oleh nenek moyang tetap dijalankan,” katanya.

Perjalanan panjang Timo dalam menjaga seni ukir tidak bermula dari sebuah galeri atau museum.

Saat itu, ia masih menjabat sebagai Kepala Kampung Kiyura, Kokonao, Distrik Mimika Barat.

Pada 1991, Timo membaca sebuah surat kabar yang memberitakan orang Asmat pergi ke Amerika Serikat untuk mempromosikan budaya dan seni ukir Asmat.

Mereka dibawa oleh saudara dari Mgr. Alphonsus Augustus Sowada, OSC, Uskup Keuskupan Agats kala itu.

Bagi Timo, berita tersebut menimbulkan pertanyaan sekaligus semangat.

“Kenapa dorang (mereka) bisa, orang Kamoro juga harus bisa karena punya budaya,” kenangnya.

Dua tahun kemudian, pada 1993, kesempatan itu datang.

Saat kunjungan Wardiman Djojonegoro menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berkunjung ke Timika, PT Freeport Indonesia diangkat menjadi “Bapak Angkat” untuk membina masyarakat Kamoro, termasuk seni ukir yang mulai tergerus.

“Yang ditulis dalam surat waktu itu sudah punah, akhirnya bapak didorong, dan saat itu kita mulai bekerja bersama angkat papan-papan panel dari Kokonao dengan didampingi Doplermon, perwakilan dari Freeport,” ujar Timo.

Dalam perjalanan itu, ia mendapat dukungan Yakob Nawiyuta dan Yohanis Waniyau.

Dua orang tua tersebut, kata Timo, menjadi orang pertama yang menilai karya ukirannya.

“Dorang bilang, Timo engkau hebat. Pertama saja kau sudah buat Bitoro, itu patung sakral yang kau buat. Ini semua bernilai bagus dan luar biasa. Kau akan bawa ini sampai hari dewasa dan lebih dikenal di hari-hari mendatang,” katanya sambil tersenyum.

Timo kemudian dipercaya memimpin warga dari empat kampung di Kokonao, yakni Kiyura, Mimika, Migiwiya, dan Kokonao.

Papan-papan panel berukuran lebar sekitar 40 sentimeter, tebal 4 sentimeter dan panjang 4 meter diangkat dari Kokonao menggunakan helikopter.

Papan-papan panel itu kemudian diukir dengan berbagai ornamen asli Suku Kamoro.

Pada 1993 pula, Timo memutuskan meninggalkan tugasnya sebagai kepala kampung.

“Saya tidak serahkan tugas itu kepada siapa-siapa, dan akhirnya diganti atau dilanjutkan oleh Hiro Mameyao, karena dia sekretaris saya,” ujarnya.

Sejak saat itu, hidupnya semakin dekat dengan seni dan budaya Kamoro.

Timotius Samin dengan busana adat Suku Kamoro menunjukkan patung ukir karyanya. (FOTO:DOK.KELUARGA)

Ia mulai aktif mengikuti pameran ukiran di Hotel Sheraton Timika, yang kini dikenal sebagai Rimba Papua Hotel.

Ia juga bergabung dengan anak-anak Timika Pantai, di antaranya Pamimi dan Kataipikare.

“Setelah itu kita semua kerja sama di Sanggar Budaya Kamoro di Timika Indah,” katanya.

Jejak Ukiran di Kuala Kencana

Tahun 1995 menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan Timo.

Bersama kawan-kawannya, ia mengisi berbagai karya ukir di kawasan Kuala Kencana, areal PT Freeport Indonesia, sebelum kawasan tersebut diresmikan Presiden Soeharto pada 5 Desember 1995.

Memasuki Kuala Kencana dari Check Point 32, pada Rabu (9/9/2026), perjalanan seperti membawa siapa pun ke sebuah ruang yang berbeda.

Jalanan tertata rapi, pepohonan tropis berdiri rapat, dan udara hutan terasa sejuk.

Di antara lanskap kota modern yang dibangun di tengah belantara Mimika, patung-patung kayu berukuran besar berdiri menyambut siapa saja yang melintas.

Patung setinggi 3 hingga 5 meter itu tersebar dari Check Point 32 hingga bundaran.

Pengukir Suku Kamoro saat menggelar ritual adat penempatan patung ukir Kamoro di bundaran Kuala Kencana. (FOTO:DOK.TIMEX)

Sebagian lainnya hadir dalam bentuk panel-panel ukiran yang menghiasi gedung perkantoran Freeport, termasuk Office Building (OB) di Kuala Kencana. Bagi para tamu yang baru pertama kali berkunjung, karya-karya tersebut kerap menjadi perhatian.

Sosok manusia dengan beragam motif pahatan seolah mengajak mata berhenti sejenak, membaca kisah yang tersimpan di balik kayu.

“Patung-patung besar yang berdiri mulai dari Check Point 32 hingga bundaran, termasuk ornamen panel-panel ukiran di OB (Office Building) Freeport Kuala Kencana, itu kami yang isi,” ungkap Timo.

Di bawah cahaya matahari yang menembus sela pepohonan, ukiran-ukiran itu menampilkan sosok leluhur dengan garis dan bentuk yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam. Tidak sekadar ornamen, setiap pahatan menyimpan ingatan tentang kehidupan, kematian, dan keterikatan manusia Kamoro dengan lingkungan yang menjadi ruang hidupnya.

Patung-patung tersebut, menurut Timo, dibuat dari kayu besi yang berasal dari kawasan Kuala Kencana.

Kayu yang dahulu tumbuh di hutan, kemudian dipahat menjadi sosok yang seolah menjaga ruang kota.

Di sana, karya seni tidak berhenti sebagai benda yang dipajang, tetapi menjadi cara sebuah masyarakat menyampaikan cerita tentang asal-usul dan leluhurnya.

Bagi Timo, patung-patung itu bukan sekadar hiasan, melainkan warisan ukir yang diterimanya harus terus dirawat dan diwariskan.

Penghargaan dari Universitas Indonesia (UI) yang diterima Timotius Samin.(FOTO:DOK.KELUARGA)

Sebab, seperti pesan dalam lagu Lestari Alamku, karya-karya itu mengingatkan bahwa alam dan kebudayaan tidak cukup hanya dikagumi, tetapi perlu dijaga agar tetap hidup bersama generasi yang akan datang.

Penghargaan dari Danjen Kopassus, Mayjen TNI Doni Monardo kepada Timotius Samin (FOTO:DOK.KELUARGA)

“Tetapi proses pegerjaannya dari awal sampai akhir tidak bisa dilihat dan didengar oleh perempuan,” timpal Medesta.

Menurut Timo, hal tersebut berkaitan dengan pengetahuan dan makna sakral yang hanya diketahui oleh laki-laki dalam tradisi tertentu.

“Karena manusia penemuan ini, itu makhluk hidup orang Kamoro yang hidup di atas bumi, sementara yang punya rumah adat ini yang hidup di alam gaib atau yang dikenal sebagai ‘Mimbar Mianoro’ (roh halus),” jelasnya.

Karena sakral dan sarat makna, proses pembuatan patung tidak dilakukan sembarangan.

Sebelum memahat, ritual adat dilakukan. Nyanyian atau lagu pembukaan menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang mewariskan budaya Suku Kamoro.

“Setelah lagu penghormatan itu, makhluk hidup di bumi dan di alam gaib itu saling berpelukan dan saling berkenalan. ‘Kau dari mana? Saya hidup di atas. Saya ini punya rumah adat dan patung ini saya punya.’ Dan akhirnya Kamoro mewarisi budaya ini,” jelas Timo.

Ia kemudian mengibaratkan hubungan manusia dengan dunia leluhur melalui peninggalan seperti Candi Borobudur dan Prambanan.

“Dulu tidak ada alat-alat. Ini membuktikan bahwa ada hubungan antara manusia dengan orang yang hidup di alam gaib,” katanya.

Sejak saat itu, Timo semakin fokus bergelut dengan seni ukir dan patung Kamoro.

Perjalanan tersebut kemudian mendapat dukungan melalui pembangunan Gedung Sanggar Emeniakia dari Dinas Pariwisata Kabupaten Mimika.

Bakat mengukir itu sendiri merupakan warisan dari leluhurnya, Tete Yiriyau.

Dari Iwaka hingga Mancanegara

Buah karya Timo kemudian membawanya bersama sang istri hingga ke berbagai negara.

Pada 2003, Timotius Samin bersama rombongan seniman adat diundang ke Museum Rijksmuseum voor Volkenkunde atau Museum Volkenkunde di Leiden, Belanda.

Timo dan rombongan mengikuti pameran khusus sekaligus menyaksikan warisan budaya leluhur mereka yang tersimpan jauh dari tanah asalnya.

Museum Volkenkunde menyimpan koleksi seni ukir kayu Suku Kamoro dari pesisir selatan Papua yang disebutnya sebagai salah satu koleksi penting di luar Indonesia.

Koleksi tersebut mencakup berbagai karya maramowe atau seniman ukir Kamoro, baik dalam konteks seremonial maupun kehidupan sehari-hari.

Patung ukir Kamoro yang dipajang di Galeri Yayasan Maramowe. (FOTO:MAURITS SDP/TIMEX)

Di antaranya patung leluhur bitoro dan mbitoro, patung manusia We Mawe, topeng, tifa atau gendang, perahu hingga dayung.

Perjalanan promosi budaya itu tidak berhenti di Belanda.

Pada 2007, Timo mempromosikan ukiran Kamoro di Bulgaria.

Tahun 2010, ia mengikuti pameran di galeri milik Mr. Werner di Jerman.

“Saya tampilkan ukiran Kamoro We Mawe Iwa Mapeku, patung manusia, yaitu tubuh manusia diukir dalam bentuk ornamen,” katanya.

Pada 2014, Timo dan rombongan kembali mengikuti pameran budaya di Dam Square Amsterdam, pusat Kota Amsterdam.

Empat tahun kemudian, pada 2018, ia kembali membawa ukiran Kamoro ke Jenewa, Swiss.

Pada 2020, Timo diajak Ketua Bhayangkari Pusat, Ny. Tri Tito Karnavian, mengikuti pameran di Canberra, Australia, bertepatan dengan momentum HUT Bhayangkara.

“Kalau Jakarta kami anggap saja pulang balik, dan semuanya itu promosi ukiran Kamoro,” ungkapnya.

Patung Menjadi Duta Budaya

Selama mengikuti pameran di berbagai negara, ratusan patung karya pengukir Kamoro terjual.

Namun, bagi Timo, uang bukan tujuan utama.

Ia bercerita tentang 202 patung ukir Kamoro yang kini berada di kediaman Mr. Olly di Australia. Patung-patung tersebut tidak dijual kembali.

Mr. Olly, yang merupakan mantan karyawan Freeport Indonesia, bahkan pernah menyampaikan kepada Timo bahwa patung-patung Kamoro yang disimpan di ruang tamu rumahnya selalu disapa setiap pagi.

“Good morning,” begitu sapaan Mr. Olly kepada patung-patung tersebut. Keluarganya pun melakukan hal yang sama.

Timo juga mengungkapkan kekaguman Olly terhadap patung-patung hasil karyanya karena garis ukir dan ornamen sacral yang menggambarkan tentang hubungan kehidupan antara manusia dengan alam dan seisinya.

Ketika ditanya soal harga ratusan patung tersebut, Timo menyebut nilainya bisa mencapai miliaran rupiah.

Namun, ia tidak menjadikan nilai uang sebagai ukuran utama.

“Tapi nilai uang kami tidak lihat, yang penting karya ukir Suku Kamoro bisa dipromosi sampai ke luar negeri,” katanya.

Timo mulai menekuni seni ukir patung secara serius sejak usia 34 tahun.

Karya pertamanya adalah Patung Bitoro, patung sakral yang dibuat dari kayu Bitoro.

Karyanya kemudian hadir di berbagai tempat di Mimika.

Patung Bitoro antara lain terpancang di depan Gereja Katedral Tiga Raja dan kawasan yang kini menjadi Rimba Papua Hotel.

Panel ornamen ukir Kamoro juga menghiasi dinding Bandara Freeport di sisi utara dan sisi selatan Bandara Mozes Kilangin Timika.

Material patung umumnya menggunakan kayu besi dan kayu putih.

Pemilihan bahan disesuaikan dengan filosofi patung yang akan dibuat.

Ukuran, ruas kayu, lubang hingga panjang patung menjadi tantangan tersendiri sehingga proses pengerjaan bisa memakan waktu cukup lama.

“Seperti patung di Wemo Iwamapako bersayap, yaitu patung nomor dua setelah Bitoro dengan panjang 10 meter yang terpasang di Gereja Sta. Sisilia SP2 Timika. Itu ongkos pembuatannya Rp100 juta,” terangnya.

Bagi Timo, mengukir Bitoro bukan sekadar pekerjaan mengubah sebatang kayu menjadi patung.

Ada tata cara yang harus dijalani, sebab patung ini menyimpan hubungan antara manusia yang hidup dan dunia leluhur.

Bitoro dibuat menggunakan jenis kayu khusus. Sebelum patung ditegakkan, digelar upacara pemberian nama.

Dalam prosesi tersebut, arwah leluhur dipanggil melalui mantra untuk masuk ke dalam patung.

Ritual ini menjadi bagian penting agar karya yang lahir tidak kehilangan makna spiritualnya.

Di tengah percakapan, Timo tiba-tiba melantunkan syair.

Suaranya mengalir seperti doa, memohon tuntunan arwah leluhur agar pahatan yang dikerjakannya mengandung makna dan seluruh proses berlangsung baik.

Bagi seorang pengukir Kamoro, pahat memang alat utama.

Namun, tidak selalu harus menggunakan perangkat khusus.

Timo menggunakan pahat biasa, termasuk pahat Bali dan Jepara.

Dengan alat-alat itu, ia membentuk garis, lekukan, dan wajah yang perlahan menghidupkan kayu.

Hampir seluruh patung yang pernah dibuatnya, kata Timo, telah berpindah tangan kepada pembeli.

Salah satunya Patung Burung Kakatua Raja yang dikerjakan pada 2002.

Karya itu menjadi bagian dari perjalanan panjangnya, ketika kayu bukan hanya dipahat untuk menjadi benda seni, tetapi juga untuk menyimpan cerita yang diwariskan leluhur.

“Mister Werner datang ambil waktu Festival Kamoro Kakuru di Pigapu. Sekarang patung burung itu ada disimpan sebagai artefak di museum di Belanda,” jelasnya.

Dari Timo ke Tangang Anaknya

Kini, warisan itu mulai berpindah ke tangan generasi berikutnya.

Seni ukir Timo diturunkan kepada anaknya, Damianus Samin, Nelson Samin, Mince Samin, Debora Sain, Simson Samin, Thomas Samin dan Irawani Samin.

Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat anak laki-lakinya mulai mampu mengukir, maupun anak perempuannya yang mahir menganyam.

“Kalau ada kekurangan saya sampaikan,” katanya.

Namun, bagi Timo, mewariskan kemampuan mengukir tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan pahat.

Ada nilai dan tanggung jawab yang harus ikut diwariskan.

Kepada para pengukir Kamoro, ia berpesan agar menjaga garis-garis ukir serta memahami makna positif dan negatif dari setiap patung.

“Jaga baik tentang garis-garis ukir, bedakan negatif dan positif atau makna dari patung itu,” pesannya.

Ia juga menekankan pentingnya adat sebagai pijakan kehidupan.

“Karena ada adat dulu, baru agama, baru pemerintah, sehingga harus berpegang teguh pada adat.”

Dukungan pemerintah, menurut Timo, tetap dibutuhkan, terutama melalui Dinas Kebudayaan dan Dinas Koperasi dalam pemasaran maupun bantuan bagi sanggar.

Ia khawatir seni ukir Kamoro semakin tergerus apabila tidak ada upaya serius untuk meneruskannya kepada generasi muda.

Padahal, jejak sejarah menunjukkan betapa panjang perjalanan budaya tersebut.

Ia menyebut ukiran leluhur Suku Kamoro yang diambil kolektor asal Belanda pada 1968 kini tersimpan di museum di Leiden.

Patung-patung tersebut, menurut dia, masih terawat karena telah melalui proses karantina.

Selain Bitoro, terdapat patung We Mawe dan berbagai ornamen lain yang menggambarkan kehidupan di alam, termasuk manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan.

“Emas Ini Akan Selesai”

Di tengah perjalanan panjangnya, ada satu pesan yang terus diingat Timo.

Pesan itu datang dari seorang ekspatriat yang pernah bekerja di Freeport.

“Timo, ini emas ini akan selesai, tapi kau punya ukiran Kamoro akan jadi tambang kayu di hari depan. Pertahankan budaya ini.”

Pesan itu menjadi semacam pengingat bagi Timo.

Emas yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi Mimika suatu hari akan habis.

Namun, ukiran Kamoro tidak boleh ikut hilang.

Justru ketika sumber daya alam berakhir, budaya dapat menjadi warisan yang terus hidup.

Karena itu, Timo berharap pemerintah melihat kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan.

“Pemerintah harus lihat secara jeli untuk membangun negeri ini,” katanya.

Ia mengingat kembali pengalaman pada November 1991 ketika para kepala kampung diundang ke Fakfak untuk merayakan hari jadi daerah.

Menurutnya, seorang pemimpin harus bijaksana dan melihat kepentingan masyarakat kecil.

“Kita ada di tempat kaya emas, tapi masyarakat Mimika Pantai hidup miskin,” ujarnya.

Ketika Pahat Harus Diletakkan

Tahun 2026 menjadi tahun yang berbeda bagi Timo.

Setelah puluhan tahun memegang pahat, ia mulai harus mengurangi aktivitas memahat karena gangguan saraf pada kaki. Tongkat kini menjadi teman yang selalu berada di sisinya.

Pahat yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari hidupnya perlahan harus diletakkan.

Namun, berhenti memahat bukan berarti berhenti menjaga budaya.

Justru di usia 77 tahun, pesan Timo semakin kuat, warisan budaya tidak boleh berhenti pada dirinya.

Ia berharap anak-anak Kamoro memegang teguh budaya leluhur dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Ritual sebelum memahat, menurut Timo, merupakan bagian sakral dan dalam tradisi tertentu khusus dilakukan oleh laki-laki.

Karena itu, pengetahuan tentang ukiran tidak cukup hanya dipelajari dari bentuk patung. Generasi muda perlu memahami garis, simbol, filosofi, ritual dan nilai yang menyertainya.

Namun, Timo juga tidak ingin anak-anak Kamoro hanya berhenti pada budaya.

Pendidikan, kesehatan dan ekonomi harus berjalan bersama.

Ia ingin generasi muda Kamoro memiliki masa depan yang lebih baik tanpa kehilangan identitasnya.

“Anak-anak harus sekolah supaya mereka bisa jadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara,” katanya.

Dari rumah sederhana di Kampung Iwaka, suara seorang pengukir berusia 77 tahun itu terdengar seperti pesan terakhir dari seseorang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya bersama kayu dan pahat.

Timo mungkin tidak lagi sekuat dahulu ketika menggenggam pahat.

Namun, ia masih memiliki satu pekerjaan yang tidak boleh berhenti, yaitu memastikan pengetahuan yang diwariskan leluhur tidak ikut terkubur bersama usia.

Sebab bagi Timotius Samin, ketika emas suatu hari habis, ukiran Kamoro harus tetap menjadi “tambang kayu” yang menghidupi identitas generasi mendatang.

Tinggalkan Dunia Tambang, Simson Menjaga Seni Ukir Kamoro

Diwariskan oleh sang ayah, Timotius Samin, tanggung jawab menjaga seni ukir Kamoro, kini ditruskan oleh Simson Samin.

Dari bunyi kayu, salah satu cara Timotius Simson Samin atau Simson mengenali bahan yang akan diukir.

Dari suara yang muncul ketika kayu diketuk, ia dapat memperkirakan apakah kayu tersebut padat atau lebih lunak.

“Kalau padat berarti kayu isi, kalau garing berarti kayu lembek,” ujar Simson.

Simson Samin menunjukkan patung ukir We Mawe, karya pertamanya (FOTO:MAURITS SDP/TIMEX)

Pengetahuan semacam itu tidak diperoleh Simson dari bangku sekolah.

Ia mendapatkannya dengan melihat langsung ayahnya bekerja.

Sejak kecil, ia terbiasa duduk dekat sang ayah, memperhatikan setiap proses mengukir, kemudian perlahan mencoba mengerjakannya sendiri.

Simson bahkan masih menyimpan karya ukir patung pertama yang dibuat ‘Iwa Mapako’ atau ‘We Mawe’.

Selain patung, saat ditemui Timika eXpress di kediamannya, Selasa (8/9/2026), Simson juga membuat peta dan bodi gitar steel dengan sentuhan ukiran.

Bagi Simson, seorang seniman bukan sekadar orang yang membuat sebuah benda.

Seorang seniman adalah perancang yang dituntut menghasilkan sesuatu yang terbaik.

Ketertarikannya pada seni ukir tumbuh dari lingkungan keluarga.

Darah seni yang mengalir dari sang ayah membuat proses belajar berlangsung secara alami.

“Kita tidak belajar, tetapi lihat langsung. Bapak kerja, dan bapak pun demikian. Sewaktu beliau kerja, beliau selalu panggil kami duduk dekat dan lihat,” katanya.

Dari proses itu, Simson memahami bahwa seni ukir bukan hanya soal keterampilan tangan.

Ada budaya, aturan, dan identitas yang melekat pada setiap garis dan motif.

“Kalau kamu bawa budaya ini, kamu akan dikenal. Garis ukir itulah yang bikin kamu dikenal,” ujar Simson akan nasehat dari ayahnya.

Menurut Simson, ayahnya selalu mendampingi dalam proses belajar.

Ia diberi pemahaman bahwa tidak semua ornamen dapat dikerjakan sembarangan.

Ada ornamen yang bisa dibuat, tetapi ada pula yang memiliki pantangan atau larangan tertentu.

“Ada jenis ikan yang kita tidak bisa makan atau dijadikan ornamen ukir,” katanya.

Karena itu, ketika menemukan motif atau ornamen yang belum dipahaminya, Simson tidak langsung mengerjakannya.

Ia terlebih dahulu meminta arahan dari sang ayah.

“Ada ornamen yang tidak bisa, maka harus dapat arahan dulu dari bapak, baru kita bisa kerja,” ujarnya.

Simson Samin sedang mengukir panel kayu. (FOTO:DOK.KELUARGA)

Proses tersebut sekaligus mengajarkannya untuk bekerja dengan sabar dan teliti.

Kesalahan kecil dalam mengukir bukan hanya dapat merusak karya, tetapi juga berisiko melukai diri sendiri.

“Dengan mengukir kita dilatih untuk sabar dan teliti. Karena kalau ada masalah baru kita kerja, karya ukir kita bisa rusak atau pahat itu kena tangan atau kaki,” katanya.

Memilih Jalan Seni

Keinginan menjaga dan mengembangkan seni ukir Kamoro membuat Simson memilih meninggalkan dunia kerja formal dan kembali menekuni warisan budaya keluarganya.

Sebelumnya, Simson pernah bekerja di lingkungan pertambangan PT Freeport Indonesia di bagian mekanikal.

Ia mengawali karier dari program apprentice pada 2009 dan sempat menjadi siswa terbaik dengan nilai tertinggi dalam kegiatan studi banding di Bogor.

Namun, setelah beberapa tahun bekerja, tepatnya Agustus 2024, ia memutuskan kembali ke dunia seni ukir.

“Setelah saya berhenti dari sana, saya lebih fokus ke sini. Saya tidak berpikir lagi untuk bekerja di tempat lain. Saya lebih suka bekerja di sini,” ujarnya.

Keputusan itu, menurut Simson, tidak datang tiba-tiba. Sejak kecil, ia telah melihat langsung bagaimana ayahnya bekerja.

Pengalaman tersebut kemudian membentuk keyakinannya bahwa seni ukir merupakan jalan yang ingin ia tekuni.

Ia menyadari, sebagai pengukir muda, dirinya masih harus banyak belajar.

Selama sang ayah masih mendampingi, arahan dari generasi sebelumnya tetap menjadi bagian penting dalam proses berkarya.

“Karena beliau masih ada, kami tidak bisa melampaui beliau. Selalu ada arahan dari beliau. Kami tahu diri bahwa saya seorang pengukir muda yang harus bisa lebih teliti,” kata yang juga Wakil Ketua Yayasan Maramowe.

Bagi Simson, ketenangan juga menjadi bagian penting dalam proses mengukir. Kondisi batin seorang pengukir dapat memengaruhi konsentrasi dan hasil karya.

“Kalau sedang ada masalah dengan keluarga, kami tidak bisa bekerja. Kami perlu waktu yang tenang. Perlu waktu yang tenang, baru kami bisa bekerja,” ujarnya.

Dari Mimpi Menjadi Karya

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Simson terjadi ketika ia dipercaya menangani pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan sang ayah.

Saat itu, sang ayah berada di Jakarta.

Simpson mengambil tanggung jawab menyelesaikan panel ukiran untuk sebuah proyek di Bandara Mozes Kilangin Timika.

Sebelum mengerjakannya, ia mengaku sempat mendapatkan petunjuk dalam tidurnya.

Setelah terbangun, ia mengambil pensil dan mulai menggambar di papan sebelum meneruskannya dengan pahat.

Karya tersebut memuat sejumlah unsur, antara lain burung dan ikan serta buah-buahan.

Ketika melihat hasil pekerjaan Simson, sang ibu menangis karena melihat kemiripan karya tersebut dengan karya sang ayah.

“Di situ saya mulai merasa bahwa saya bisa. Puji Tuhan, sekarang saya sudah bisa bekerja sendiri,” katanya.

Bagi Simson, pengalaman itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan seninya.

Ia mulai percaya bahwa pengetahuan yang selama ini diwariskan ayahnya perlahan telah menjadi bagian dari dirinya.

Lebih dari sekadar keterampilan, Simson merasakan adanya hubungan batin dengan leluhur melalui karya yang dibuatnya.

“Kami bisa bercerita dengan mereka. Kami bisa tahu bahwa orang-orang itu ada. Itu seperti sejarah yang langsung terhubung. Kami merasa punya ikatan batin dengan moyang-moyang,” ujarnya.

Karya Diminati Kolektor

Karya Simpson bersama kelompoknya di Yayasan Maramowe juga mendapat perhatian masyarakat dan kolektor.

Ia mengatakan, karya yang dibuatnya biasanya tidak terlalu lama berada di galeri Yayasan Maramowe karena banyak yang terjual.

Pembelinya tidak hanya berasal dari ekspatriat di Freeport, tetapi juga dari luar daerah hingga mancanegara.

Sejumlah karya berukuran besar juga telah ditempatkan di beberapa lokasi.

Simpson menyebut salah satunya adalah dua patung berukuran besar yang dibuat bersama dan ditempatkan di area Emergency Respons Group (ERG) PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana.

Display patung ukir Kamoro di Galeri Yayasan Maramowe di Jalan Galeri, Kampung Nawaripi-Mimika. (FOTO:MAURITSSDP/TIMEX)

Salah satu patung memiliki tinggi hampir tiga meter, sedangkan patung lainnya lebih dari dua meter.

Bagi Simpson, menjaga keberlangsungan karya bukan hanya soal bagaimana karya tersebut terjual.

Ada pula hubungan dengan tradisi dan penghormatan kepada leluhur yang tetap ia jalankan.

Setiap Jumat, ia melakukan ritual kecil dengan menyediakan kopi, donat atau roti sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.

Di sisi lain, Simson menyadari bahwa karya seni juga membutuhkan pasar. Karena itu, ia terus membangun komunikasi dengan berbagai pihak dan memperkenalkan karya-karya yang mereka buat.

“Kami ingin tetap punya pasar dan komunikasi yang baik dengan orang. Kami membangun komunikasi supaya karya-karya ini bisa lebih dikenal dan mendapat dukungan,” katanya.

Membawa Ukiran ke Jakarta

Kesempatan memperkenalkan karya ke luar daerah datang ketika Simpson mengikuti pameran di Jakarta atas ajakan Dinas Pariwisata pada Oktober 2025.

Pameran berlangsung di kawasan Kuningan, Jakarta, tepatnya di Mall Ambassador.

Bagi Simson, kesempatan itu menjadi pengalaman penting karena ia dapat membawa nama Papua Tengah, khususnya Kabupaten Mimika, ke ruang yang lebih luas.

“Kami bisa tampil dan memperkenalkan karya kami. Puji Tuhan, kami bisa mengikuti pameran itu dan menjadi juara mewakili Papua Tengah,” ujarnya.

Ia berharap kesempatan serupa terus diberikan kepada para seniman lokal agar karya mereka semakin dikenal.

Simson memiliki cita-cita membawa seni ukir Kamoro ke tingkat nasional hingga internasional.

“Saya ingin karya saya bisa sampai ke tingkat nasional atau internasional. Saya ingin membawa ukiran ini sampai ke mancanegara supaya bisa dikenal lebih luas,” katanya.

Baginya, seni ukir merupakan bagian dari identitas budaya yang perlu diperkenalkan kepada dunia.

Ia ingin masyarakat luas mengetahui bahwa masyarakat Kamoro memiliki kebudayaan dan cerita yang khas.

Ingin Membangun Sanggar

Keinginan Simson tidak berhenti pada menghasilkan karya.

Ia juga ingin membangun tempat belajar atau sanggar bagi anak-anak dan generasi muda yang memiliki minat terhadap seni ukir.

“Saya ingin ada suatu tempat yang baik untuk membina anak-anak yang ingin dan mau masuk dalam dunia ukir ini,” katanya.

Menurut dia, sanggar dapat menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar secara langsung, bukan sekadar mengikuti kegiatan yang berlangsung sesaat.

Daripada hanya melakukan kunjungan atau kegiatan sementara, Simson menilai pemerintah dan pelaku seni perlu bersama-sama menyediakan tempat khusus untuk pembinaan.

Di tempat tersebut, anak-anak dapat berkumpul, belajar mengukir, mengenal filosofi budaya, sekaligus mendapatkan pendampingan dari para pengukir yang lebih berpengalaman.

Ia percaya, seni ukir tidak hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga dapat membantu anak-anak menemukan arah hidup.

“Dulu mungkin arah hidupmu tidak ada. Tetapi ketika kamu ada di sini, arah hidupmu menjadi jelas. Kamu bisa tahu bagaimana menjalani hidup,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak generasi muda tidak meninggalkan budaya lokal.

“Semua proses itu dimulai dari belajar. Kalau kita tidak belajar, kita tidak akan tahu. Pesan saya kepada para pemuda, kita harus belajar. Jangan sampai budaya ini putus atau hilang. Budaya ini harus terus disambung dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Simson juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada para seniman, termasuk mereka yang berada di kampung-kampung.

Menurut dia, masih banyak anak muda, sanggar dan kelompok kecil yang memiliki potensi, tetapi belum mendapatkan ruang dan perhatian yang cukup.

Ia mengapresiasi dukungan Pemerintah Kabupaten Mimika melalui bidang pariwisata, ekonomi kreatif dan kepemudaan yang selama ini telah memberikan ruang kepada para seniman.

Namun, ia berharap dukungan tersebut dapat diperluas hingga komunitas seni di kampung-kampung.

“Harapan saya, pemerintah mau lebih fokus melihat kami, para seniman yang ada di kabupaten ini. Kami ingin karya-karya kami lebih diangkat dan dikenal,” ujarnya.

“Para seniman di kampung-kampung masih banyak. Kita juga harus bisa menjangkau mereka, masuk ke komunitas-komunitas mereka supaya mereka merasa diperhatikan dan mendapat dukungan,” lanjutnya.

Simson menilai keberadaan seniman di berbagai bidang juga perlu didukung jejaring yang baik antara masyarakat, pemerintah dan sektor swasta.

Menurut dia, setiap pihak memiliki peran masing-masing. Ada yang berada di pemerintahan, bekerja di sektor swasta, maupun bergerak langsung bersama masyarakat.

“Yang penting kita saling mendukung. Ada yang di swasta, ada yang di pemerintahan, dan ada yang bersama masyarakat. Supaya kita punya hubungan kerja dan komunikasi yang baik,” katanya.

Dukungan Keluarga

Keputusan Simson meninggalkan pekerjaan sebelumnya dan fokus pada seni ukir sempat menimbulkan pertanyaan di keluarga.

Terlebih, bekerja di perusahaan besar seperti Freeport merupakan keinginan banyak orang.

Sofi, istri Simson mengaku sempat membujuk Simson ketika ada kesempatan untuk kembali bekerja melalui Mr. Steven Lauren seorang staf Freeport.

Namun, Simson tetap memilih menekuni seni ukir.

Sang istri akhirnya menerima keputusan tersebut dan memilih memberikan dukungan.

“Sempat saya kecewa karena saya berpikir, berapa penghasilan seorang pemahat? Kadang untuk makan saja mungkin tidak cukup. Tetapi saya berpikir lagi, dia sudah memilih pekerjaan ini. Mau tidak mau kita harus ikhlas dan mendukung,” tuturnya menambahkan apa yang kita dapat, itu yang kita nikmati.

Kini, keluarga menikmati pilihan tersebut. Simson bersama Sofi juga terus memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka.

Ia memiliki empat anak, terdiri atas dua laki-laki dan dua perempuan.

Anak-anaknya menjadi bagian dari alasan Simson terus menjaga pekerjaan sekaligus warisan budaya yang telah diteruskan keluarganya.

Bagi Simson, seni ukir bukan sekadar tentang menghasilkan benda bernilai ekonomi.

Lebih dari itu, seni ukir menjadi jalan untuk mengenal identitas, sejarah, leluhur dan kehidupan.

Karena itu, ia ingin terus belajar dan mengembangkan kemampuan agar apa yang diwariskan generasi sebelumnya tidak berhenti di tangannya.

“Kita harus terus menyambung dan mengembangkan budaya ini agar dikenal lebih luas, bahkan sampai ke mancanegara,” katanya.

Merawat Ukiran Kamoro, Menjaga Ingatan Leluhur hingga Lahirnya Yayasan Maramowe

Sebelum ukiran Kamoro menemukan ruangnya di galeri, ruang pamer, dan rumah para kolektor, ada masa ketika tangan-tangan para pengukir lebih banyak terdiam.

Kayu-kayu yang menyimpan cerita leluhur belum banyak disentuh.

Di tengah keadaan itu, seorang penulis asal Hugaria bernama Karl Müller datang membawa gagasan, seni ukir Kamoro bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan warisan yang perlu dirawat dan diberi ruang untuk terus hidup.

Gagasan tersebut tumbuh pada 1996, ketika Müller yang bekerja sebagai penulis untuk Freeport mengusulkan program pelestarian dan pemberdayaan seniman ukir Kamoro.

Ia sebelumnya menjadi juri Festival Asmat.

Sepulang dari sana, ia mengajak Freeport mendukung upaya serupa di Mimika.

Selama hampir dua tahun, Müller menyusuri kampung-kampung pesisir Mimika pada setiap akhir pekan, berbicara dengan para seniman dan memperkenalkan rencana Festival Kamoro.

“Saya temani pa Karl Müller dan sebanyak 50 kampung yang kami datangi, kami temukan 600 pengukir aktif,” ungkap Dwi Luluk Intarti.

Upaya itu kemudian melahirkan Festival Kamoro Kakuru pertama di Hiripau pada 1998, yang selanjutnya berpindah ke Logpon hingga rangkaian kegiatan berakhir pada 2005.

Seiring meningkatnya aktivitas dan permintaan terhadap karya ukir, Freeport mendorong agar kegiatan tersebut memiliki wadah kelembagaan.

Atas dasar itu, Yayasan Maramowe didirikan pada 9 September 2014 dengan Herman Kiripi sebagai ketua.

Ketua Yayasan Maramowe, Herman Kiripi bersama Dwi Luluk Intarti di Galeri Yayasan Maramowe

Yayasan Maramowe kini mengoleksi ribuan ukiran patung We Mawe, Bitoro, Mbikao, buah karya para pengukir yang dijual dengan harga termurah Rp200 ribu hingga jutaan rupiah.

“Fokus kami adalah preservasi dan pemberdayaan seniman, termasuk promosi melalui edukasi, audio visual, dan media sosial,” kata Luluk.

Sementara, Herman Kiripi yang mendampingi Luluk di galeri yang dipenuhi ukiran patung Kamoro menjelaskan, nama Maramowe berasal dari istilah Kamoro Maramowe Wiai Ku Kamorowe, yang bermakna pengukir hebat atau manusia Kamoro yang unggul dalam seni ukir.

Hingga kini, yayasan tersebut terus mendampingi seniman dari berbagai kampung, mengembangkan edukasi, serta memperkenalkan karya ukir Kamoro kepada masyarakat luas sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan budaya.

“Dengan dukungan penuh dari Freeport Indonesia, setiap mengikuti event festival atau pameran budaya, sedikitnya 200 patung ukit kayu utuh asli Kamoro yang diikutkan, paling tersisa 50 patung, lainnya laku,” aku Herman. (maurits sadipun)