KETERANGAN PERS – Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, memberikan keterangan pers usai rapat Badan Musyawarah DPRK Mimika membahas penanganan konflik Kwamki Narama, Selasa (6/1/2026). (FOTO: GREN/TIMEX)
TIMIKA, timikaexpress.id — Badan Musyawarah (Bamus) DPRK Mimika menggelar pertemuan khusus untuk membahas lambannya penanganan konflik antar dua kelompok warga di Distrik Kwamki Narama, Mimika, Papua Tengah, yang hingga kini telah menelan 11 korban jiwa.
Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, mengatakan konflik tersebut menjadi perhatian serius DPRK karena terjadi di wilayah pemerintahan Kabupaten Mimika dan berdampak langsung terhadap keamanan masyarakat.
“Penanganan konflik ini terkesan lambat. Sudah ada 11 orang meninggal dunia akibat perang antar kelompok. Ini tidak bisa dibiarkan,” ujar Primus kepada wartawan usai rapat Bamus.
Menurutnya, meskipun terdapat informasi bahwa sebagian pihak yang terlibat berasal dari kabupaten Puncak, tanggung jawab penanganan tetap berada pada Pemerintah Kabupaten Mimika karena konflik berlangsung di wilayah administrasinya.
“Kami akan kembali berkoordinasi dengan Pemkab Mimika serta TNI-Polri untuk memastikan langkah bersama agar konflik ini segera berakhir,” katanya.
Primus menegaskan bahwa penyelesaian konflik tidak dapat hanya dibebankan kepada aparat keamanan, melainkan harus melibatkan unsur pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Ia mengungkapkan, upaya mediasi sebelumnya terkendala karena masing-masing kelompok mengaitkan perdamaian dengan keseimbangan jumlah korban jiwa.
“Ini menjadi tantangan serius. Karena itu, kami sepakat melibatkan anggota DPRK yang merupakan putra asli dari suku yang sama dengan kelompok bertikai, agar pendekatan bisa dilakukan dari hati ke hati,” jelasnya.
DPRK Mimika berharap keterlibatan tokoh adat dan wakil rakyat setempat dapat membuka ruang dialog yang lebih efektif dan mendorong perdamaian berkelanjutan di Kwamki Narama. (via)














Tinggalkan Balasan