PROSESI PENGABUAN JENAZAH – Prosesi pengabuan jenazah Iman Kula, korban konflik horizontal di Distrik Kwamki Naram, Kamis (4/12/2025) (FOTO: GREN/TIMEX)
TIMIKAEXPRESS.id – Kampung Amole sejak Kamis (4/12) pagi tidak lagi diisi suara burung dan langkah anak-anak menuju kebun.
Udara justru dipenuhi ketegangan, sirene, dan tangis yang pecah di antara rumah-rumah kayu.
Di tanah yang diwariskan leluhur, tiga nyawa dari kubu Newagelen meregang pelan, satu demi satu, dalam konflik horizontal yang berulang seperti luka lama yang enggan sembuh.
Iman Kulla menjadi yang pertama pergi. Sekitar pukul 09.00 WIT, tubuhnya terbaring kaku dan segera menyatu dengan api kremasi yang menyala di tengah kampung.
Prosesi adat dijalankan dalam kesedihan mendalam.
Namun, duka yang belum sempat reda justru berubah menjadi amarah.
Anak panah dilepaskan ke udara, membawa serta emosi yang meluap hingga memicu bentrok lanjutan.
Tenianus Kiwak menjadi korban kedua.
Anak panah menembus dadanya, merenggut napasnya perlahan di rumah sakit.
Pagi berikutnya, api kembali menyala untuknya.
Lalu nama Doteu Komangal menyusul dalam daftar panjang kehilangan.
Luka di pelipis kiri menutup harapannya untuk pulang hidup-hidup.
Jumat siang, jenazahnya dipulangkan untuk menjalani prosesi yang sama: kembali ke tanah lewat bara.
Di balik angka delapan luka dari Newagelen, tiga belas dari Dang, ada ibu yang kehilangan anak, istri yang menanti suami tak kunjung pulang, dan anak-anak yang mendadak dewasa karena harus memahami arti kematian lebih cepat dari usianya.
Semua ini bermula dari persoalan perselingkuhan yang sempat didamaikan secara adat, namun kembali terbuka setelah panah menewaskan Pendeta Melkias Wamang, seorang yang biasanya menyuarakan doa, bukan dendam.
Kwamki Narama kini lebih senyap, tetapi bukan tenang. Di antara sisa asap dan bekas anak panah di tanah, warga hanya menyimpan satu harapan yang sama, yaitu konflik ini berhenti pada generasi mereka, agar anak-anak kelak tidak lagi mengenal api sebagai penutup hidup, dan panah sebagai bahasa kemarahan. (via)







Tinggalkan Balasan