Carel Kum (FOTO: ELISA/TIMEX)

TIMIKAEXPRESS.id – Carel Kum,Tokoh intelektual Amungme meminta agar masyarakat Kabupaten Mimika tidak ikut terprovokasi dengan oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab yang selama ini meresahkan masyarakat.

Kata dia, Selesainya Pilkada serentak yang dilaksanakan 27 November 2024 lalu, berjalan sangat baik dan damai.

Namun jika ada keberatan, yang berkepentingan bisa menempuh jalur yang benar dengan aturan yang ada, tapi tidak mengajak masyarakat lain Rasisme.

Dirinya, sebagai generasi Amungme sekaligus kaum intelektual melihat proses demokrasi di Timika sudah dilaksanakan dengan baik dan proses demokrasi tersebut sudah selesai, ketika ketua dan anggota KPU menetapkan perolehan suara para calon bupati.

Ditemui Timika eXpress Jumat (13/12) ia menyampaikan, beberapa hal yang harus dipetik oleh semua elemen masyarakat dan anak bangsa dan terutama para calon-calon bupati dan gubernur adalah dalam proses Pilkada di Timika tidak terjadi gesekan-gesekan sosial yang signifikan dalam proses demokrasi ini.

“Saya anak Amungme merasa bangga karena kemajuan nilai-nilai demokrasi dan pelaksanaan ciri-ciri demokrasi yang dilaksanakan secara baik, bebas dan rahasia yang sudah dilakukan masyarakat Mimika,” ujarnya.

Oleh sebab itu, nilai-nilai demokrasi dalam perspektif politik yang sedang tumbuh baik di Timika harus diperlihatkan secara baik terutama politisi lokal.

Lebih lanjut dikatakan, hal ini harus menjadi modal terpenting bagi semua instan politisi lokal di Timika.

Para calon bupati, para politisi lokal, tokoh masyarakat dan tokoh intelektual tidak boleh menghasut masyarakat.

Terlebih lagi melakukan aksi kegaduhan di Mimika atas pleno dan penetapan peroleh suara yang sudah dilakukan KPU.

Pada rekapitulasi dan penetapan suara sudah dilakukan KPU terlihat secara terbuka dan dihadiri semua saksi-saksi para calon bupati dan disaksikan semua masyarakat.

“Sebabnya secara de jure dan de fakto apa yang diplenokan dan ditetapkan KPU adalah SAH (pasangan Joel yang menang), ini fakta politik,” ujarnya.

Carel mengatakan, setiap pencalonan seperti ini akan ada konsekuensi politik yang terjadi dan harus diakui semua pihak.

“Puas dan tidak puas, atau ada soal lain itu biasa. Jika ada pihak yang merasa dirugikan dan tidak puas, maka mekanisme hukumnya sudah jelas. Jadi silahkan buat gugatan dan akan diuji di MK,” jelasnya .

Namun ia menegaskan agar tidak memprovokasi masyarakat, karena  masyarakat membutuhkan keamanan dan kenyamanan di Mimika.

Faktanya, sudah ditetapkan KPU dan jika merasa tidak puas, merasa dicurangi, ada prosedurnya, namun tidak boleh menggiring opini yang membuat perpecahan antar masyarakat.

Menurut Carel,  KPU bertindak sesuai dengan aturan dan UUD yang berlaku, dan tidak mungkin KPU mau berpihak kepada hal yang salah dan melawan hukum.

Dirinya mengingatkan kepada semua calon bupati yang sedang mengajukan hak hukum ke MK tidak boleh memprovokasi adik-adik pelajar dan mahasiswa yang berada di kota studinya.

“Jangan memanfaatkan para pemuda generasi kita untuk melakukan aksi demo hanya untuk kepentingan oknum yang tidak bertanggungjawab, itu salah,” ujarnya.

Ia menegaskan, di tanah Amungsa-Bumi Kamoro tidak kenal rasisme dan saya sebagai anak Amungme mengajak masyarakat Mimika, terutama masyarakat Amungme dan Kamoro bahwa semua para calon bupati yang sudah berkompetisi adalah putra-putri terbaik anak bangsa Mimika,” ucapnya.

Karena itu ia mengajak semua pihak bertutur kata dengan baik, tunjukkan budaya.

Amungme, Kamoro tidak mengenal kata rasisme, sukuisme, dan agamisme.

Dan kata rasisme bukanlah kata masyarakat Amungme, Kamoro dan juga Papua serta masyarakat nusantara yang berdomisili di Timika.

“Namun kata rasisme tentu saja mereka yang memiliki kepentingan politik untuk oknum yang tidak bertanggungjawab, siapapun bisa memimpin negeri ini, selama tujuan untuk membangun daerah ini, karena leluhur, tanah ini akan merestui Paslon yang dengan hati tulus membangun Mimika,” pungkasnya. (bob)