MIMIKA, timikaexpress.id — Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat sebagai salah satu tantangan utama dalam penanganan malaria dan pengelolaan sampah di daerah tersebut.

Hal ini disampaikannya saat diwawancarai awak media di Graha Eme Neme Yauware, Jumat (24/04/2026).

Ia menilai berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah belum berjalan optimal akibat minimnya partisipasi masyarakat.

“Kita sudah buat saluran air, tapi ada yang ditutup lagi. Sampah juga masih dibuang sembarangan. Ini sebenarnya masalah kesadaran,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi lingkungan seperti genangan air dan sistem drainase yang tidak berfungsi dengan baik menjadi faktor utama berkembangnya kasus malaria di Mimika.

Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Selain itu, pemerintah daerah juga terus mendorong program bank sampah yang dinilai memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Namun, pemanfaatannya hingga kini dinilai belum maksimal.

“Bank sampah itu ada uangnya, tapi masyarakat kadang belum mau manfaatkan. Padahal itu bisa jadi solusi,” jelasnya.

Johannes juga menyoroti persoalan infrastruktur dasar, khususnya jaringan air bersih yang rusak akibat ulah oknum masyarakat.

Kondisi tersebut dinilai menghambat distribusi air bersih ke sejumlah wilayah.

“Pipa itu dipotong oleh masyarakat sendiri. Jadi bagaimana kita mau alirkan air kalau infrastrukturnya dirusak,” tegasnya.

Ia berharap ke depan kesadaran masyarakat dapat meningkat, sehingga upaya pemerintah dalam menekan angka malaria dan memperbaiki pengelolaan lingkungan dapat berjalan lebih efektif. (*)

Penulis : Mega Irianti
Editor   : Maurits SDP