BANGKAI – Belasan bangkai babi yang dibuang sembanrangan dan membusuk di Daerah Aliran Sungai (DAS) kawasan Nawaripi. (FOTO: INDRI/TIMEX)
TIMIKAEXPRESS.id – Virus demam babi Africa atau African Swine Fever (ASF) masih menghantui masyarakat Mimika, Papua Tengah.
Selain masih adanya ternak babi masyarakat yang terpapar virus ASF, dampak lain yang terjadi adalah minimnya kesadaran masyarakat terlebih para peternak babi dalam mengatasimya ketika babinya mati terpapar virus ASF.
Meski Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika melalui dinas terkait sudah melarang agar bangkai babi mati terpapar virus ASF tidak dibuang sembarang, ternyata masih ada warga, khususnya peternak tidak mematuhi.
Ini terjadi tidak saja karena pemerintah sudah menutup dua lokasi yang sebelumnya dijadikan lahan untuk mengubur ribuan bangkai babi akibat terpapar virus ASF.
Mirisnya, setelah didapati tiga bangkai babi dibuang di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Jalan Budi Utomo Ujung, kali ini warga Kampung Nawaripi, Kilometer 5, Kelurahan Kamoro Jaya, kembali mengeluh lantaran didapati bangkai babi yang dibuang di Daerah Aliran Sungai (DAS).
Untuk mengelabui petugas maupun masyarakat, bangkai babi dimasukkan dalam karung lalu dibuang.
Bangkai babi yang sudah membusuk itu dikhawatirkan warga setempat bakal mencemari air tanah yang dimanfaatkan untuk kebutuhan swhari-hari masyarakat.
Keluhan warga ini diperkuat dengan bukti foto yang dikirim ke redaksi Timika eXpress pada Jumat (26/4/2024).
Dari foto itu terlihat belasan bangkai babi yang sudah membusuk dan dipenuhi belatung mengapung di tengah DAS, hingga menimbulkan aroma tak sedap.
Adolf, salah satu warga RT 36, kilo 5, Kampung Nawaripi, Kelurahan Kamoro Jaya kepada Timika eXpress, Jumat kemarin, mengatakan ia khawatir kalau bangkai babi yang dibuang sembarangan dan dibiarkan membusuk itu bakal mencemari lingkungan warga sekitar.
“Kami khawatir karena belasan bangkai babi dibiarkan membusuk begitu saja,” ujar Adolf.
Menurut dia, bangkai babi itu hanyut mengikuti aliran DAS saat musin hujan, karena kalau tidak hujan akan mongering sehingga bangkai menumpuk di belakang Gereja Advent Galilea.
Adapun alur aliran DAS mulai dari depan Hotel Horison Ultima Timika kemudian sekitar Tower Telkomsel Nawaripi, tembus ke DAS SMA Taruna, Lorong Torabika hingga ke pemukiman warga di kilo 5, tepatnya di belakang Gereja Advent Galilea.
Menyikapi ini, lanjut Adolf, ia telah menghubungi pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan agar bisa menurunkan timnya untuk mengevakuasi dan mengubur bangkai babi tersebut.
“Sudah saatnya pemerintah melalui dinas terkait ambil sikap berupa sanksi tegas kepada peternak atau warga yang buang bangkai babi sembarangan, karena ini mencemari lingkungan, apalagi bangkai babi yang dibuang sudah puluhan,” tandasnya. (ela)















Tinggalkan Balasan