PENJAGAL– Beberapa penjagal babi hanya bisa duduk di lapak jualan di Pasar Sentral Timika. (FOTO:Indri/TIMEX)

>>Sudah 1.726 Ekor Babi Mati<<

TIMIKA,TIMIKAEXPRESS.id – Para peternak, penjagal maupun penjual babi di Mimika, Papua Tengah dikabarkan mulai merugi sejak mewabahnya virus Asian Swine Fever (ASF) yang menyerang ternak babi masyarakat setempat.
Tidak sedikit ternak babi milik warga mati oleh virus mematikan yang mewabah sejak awal Februari lalu.

Berdasarkan data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan), dari total 11 ribu ekor babi piaraan masyarakat Mimika, sudah lebih 1.000 ekor yang mati oleh wabah virus ASF yang makin menggila.

Selain banyaknya ternak babi masyarakat yang mati, penjual daging babi pun mengeluhkan soal ekonomi merosot drastis lantaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika belum mengizinkan para penjual menjual daging babi di lapak khusus di Pasar Sentral.

“Sudah lebih dua minggu para penjagal dan penjual daging babi di Pasar Sentral dilarang menjual daging babi akibat mewabahnya virus ASF hingga saat ini,” ujar Markus Mempa, salah satu penjagal babi kepada Timika eXpress di Pasar  Sentral pada Rabu (21/2/2024).

Kata Markus, sejak 2 Februari lalu, ia bersama 17 penjagal lainnya tidak lagi berjualan atas larangan resmi dari pemerintah setempat.

“Kami hanya duduk-duduk saja, tidak bisa buat apa-apa, ekonomi keluarga merosot tidak ada penghasilan selain hanya jualan daging babi,” ujarnya lirih.

Lebih lanjut, kata Markus, belasan penjual daging babi semuanya sudah berkeluarga, tapi kalau tidak jualan bagaimana mau hidupi keluarga.

Sama halnya, Yunus Rumpang yang juga penjagal dan penjual daging babi mengatakan, di tengah mewabahnya virus ASF, ada ternak babi yang sehat, namun yang dikahwatirkan tidak adanya pembeli kalau dijual.

Apalagi, pemerintah belum mencabut izin larangan penjualan daging babi dengan batas waktu yang tidak ditentukan.

Guna memulihkan ekonomi penjagal maupun penjual daging babi, Yunus berharap Pemkab Mimika memberi kebijakan atau imbauan kepada masyarakat, bahwa daging babi yang dijual di Pasar Sentral Timika dijamin sehat serta dapat dikonsumsi dan bebas dari virus ASF.

“Semoga waktu dekat ini ada solusi dengan adanya imbauan dari Pemkab, dan kami (penjual) daging babi tidak dibiarkan begini terus. Kalau berlarut, kami sebagai peternak, penjagal dan penjual ini bisa apa?” keluhnya.

Sementara Maria, penjual daging babi, mengaku sebelum mewabahnya virus ASF pada ternak babi, dalam sehari ia bisa mendapat untung Rp 500 ribu.

“Selain untuk biaya hidup  keluarga dan anak-anak sekolah, juga bisa bantu cicilan pinjaman bank. Tapi kalau kondisinya begini, bagaimana kelangsungan hidup keluarga kami. Mau tidak mau suami terpaksa ojek, jadi kami mohon pemerintah bisa ambil kebijakan yang juga tidak memberatkan kami masyarakar kecil,” demikian Maria.

>> Sudah 1.726 Ekor Babi Mati

Sementara Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Mimika merilis hingga saat ini jumlah ternak babi yang mati akibat virus ASF sudah tembus 1.726 ekor.


Kepala Bidang (kabid) Kesehatan Hewan, Bakti Erma Surfani di Timika, Rabu, mengatakan setiap hari ada lebih 100 ternak babi yang mati terpapar virus ASF.

“Sampai dengan 20 Februari 2024 ada sebanyak 1.726 ternak babi yang mati karena virus ASF, jadi kami imbau agar peternak dapat mensterilkan kandang guna mencegah penyebaran ke kandang lainnya,” katanya.


Menurut dia, saat ini pihaknya masih melakukan pengkajian lanjutan guna memutus mata rantai penyebaran virus ASF di Mimika.

“Kami telah mengundang para peternak babi untuk bersama kita membahas langkah memutus mata rantai ASF, karena pihak yang sangat terdampak yakni para peternak yang juga pedagang,” ujarnya.


Dia menjelaskan virus ASF ini dapat bertahan hidup dengan waktu yang cukup lama, sehingga pihaknya menyarankan agar peternak mensterilkan kandang selama enam bulan.

“Virus ini mampu hidup dalam jangka waktu lama, jadi kami imbau peternak mensterilkan kandang dengan menyemprotkan disinfektan serta mengosongkan kandang selama enam bulan,” katanya.


Dia menambahkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan menyediakan vaksin bagi ternak yang masih sehat, dan jika satu kandang telah terjangkit harus dikosongkan dalam jangka waktu lama.

“Memang untuk kandang yang telah terinfeksi harus dikosongkan dengan waktu yang lama dan disemprot disinfektan untuk mensterilkan kandang, ini merupakan salah satu langkah memutus mata rantai ASF,” ujarnya. (ela/ant)