SIAGA — Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (Kakansar) Timika I Wayan Suyatna, S.H., M.M. (FOTO: SELVY/TIMEX)

MIMIKA, timikaexpress.id — Di wilayah perairan Mimika, mesin kapal yang tiba-tiba mati, perahu yang terbalik, hingga kapal yang tenggelam dapat berubah menjadi keadaan darurat dalam hitungan menit.

Situasi semacam itu menjadi bagian dari pekerjaan Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Timika.

Dalam tiga tahun terakhir, kecelakaan kapal menjadi kejadian yang paling banyak ditangani, termasuk sepanjang 2026.

Kepala Kantor SAR Timika I Wayan Suyatna, S.H., M.M., mengatakan kecelakaan kapal mendominasi operasi SAR pada 2024, 2025 hingga 2026.

“Yang paling mendominasi di tahun 2024, 2025, 2026 itu kecelakaan kapal,” kata Wayan saat ditemui di Timika, Senin (28/9/2026).

Menurut Wayan, istilah kecelakaan kapal dalam operasi SAR tidak hanya merujuk pada kapal berukuran besar.

Alat apung yang digunakan masyarakat untuk berpindah dari satu titik ke titik lain juga masuk dalam kategori tersebut, termasuk perahu yang digunakan untuk aktivitas memancing.

Mesin mati, kapal terbalik hingga tenggelam menjadi beberapa kondisi yang membuat tim SAR harus bergerak melakukan pencarian dan pertolongan.

Selain kecelakaan kapal, Kantor SAR Timika menangani kondisi membahayakan manusia, kecelakaan pesawat, tanggap darurat bencana, hingga penanganan khusus.

Untuk kondisi membahayakan manusia, misalnya, tim menangani orang yang tenggelam saat mandi atau berenang maupun orang yang hilang ketika melakukan aktivitas di gunung dan lokasi lainnya.

Dalam operasi SAR, waktu menjadi bagian penting. Karena itu, Kantor SAR Timika menetapkan target response time atau waktu respons minimal 25 menit.

Namun, target tersebut bukan batas akhir. Wayan mengatakan personelnya terus berupaya agar waktu respons dapat ditekan di bawah 25 menit.

“Response time itu adalah 25 menit, minimal. Kami berusaha di bawah itu,” ujarnya.

Untuk mengejar waktu tersebut, personel disiagakan selama 24 jam melalui sistem pergantian shift.

Kesiapan tidak hanya menyangkut personel, tetapi juga peralatan yang sewaktu-waktu harus digunakan dalam operasi.

Kantor SAR Timika menerapkan dua pola kesiapsiagaan, yakni Siaga SAR rutin dan Siaga SAR khusus.

Siaga SAR rutin dilakukan setiap hari untuk mengantisipasi kejadian yang dapat muncul sewaktu-waktu.

Sementara Siaga SAR khusus ditingkatkan pada momentum tertentu, seperti hari raya besar, kegiatan pemerintah daerah, perlombaan, hingga kegiatan keagamaan.

“Jadi ada personel yang siaga selalu,” kata Wayan.

Dalam penanganan keadaan darurat, Basarnas tidak bekerja sendiri.

Koordinasi dengan instansi lain, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), menjadi bagian dari penanganan di lapangan.

Wayan menjelaskan, masing-masing lembaga memiliki tugas dan kewenangan. Basarnas memberikan dukungan pencarian dan pertolongan, terutama dalam proses evakuasi, sementara BPBD menangani aspek penanggulangan bencana daerah.

Pola kerja sama tersebut telah berlangsung sejak lama. Ketika terjadi kecelakaan kapal, misalnya, instansi terkait dapat memberikan dukungan kepada tim SAR.

Sebaliknya, dalam kondisi tanggap darurat bencana, Basarnas membantu sesuai tugasnya.

“Kalau ada kecelakaan kapal, bantu kami. Begitu sebaliknya, kalau tanggap darurat bencana, kami mem-backup di bidang evakuasi,” jelasnya.

Di balik angka operasi SAR dan daftar kejadian yang ditangani, ada satu hal yang terus dikejar setiap hari: kesiapan sebelum panggilan darurat datang.

Sebab, ketika sebuah kapal kehilangan kendali di perairan atau seseorang dinyatakan hilang, waktu 25 menit bukan sekadar angka.

Bagi tim SAR, itu adalah waktu untuk bergerak, menemukan, dan membawa seseorang kembali ke tempat yang aman. (cr-72)