ADU KETERAMPILAN – Salah seorang peserta menunjukkan kemampuan meracik kopi dalam ajang Manual Brew Battle Competition yang digelar Kopi Mulo di Timika, Selasa (28/7/2026). (FOTO: IST/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id – Kedai Kopi Mulo sukses menyelenggarakan Manual Brew Battle Competition, ajang kompetisi meracik kopi secara manual yang diikuti 42 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari barista profesional, peracik kopi rumahan, hingga pelajar SMP sebagai peserta termuda.
Kegiatan ini menjadi wadah mempererat solidaritas komunitas barista sekaligus mendorong perkembangan budaya ngopi dan kualitas kopi Papua di Kabupaten Mimika.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama dua hari.
Pada 27 Juli 2026, panitia menggelar technical meeting dan public cupping untuk memperkenalkan cita rasa kopi khas Papua.
Sementara kompetisi utama dilaksanakan pada 28 Juli 2026 dengan sistem pertandingan yang mempertemukan tiga peserta dalam satu sesi penyeduhan untuk dinilai langsung oleh dewan juri.
Ketua Panitia, Syahrul Salam, mengatakan kompetisi ini bertujuan mengasah kemampuan para barista sekaligus memperkuat jejaring komunitas kopi di Timika.
Menurutnya, tingginya antusiasme peserta menunjukkan bahwa dunia perkopian di Mimika terus berkembang.
“Kompetisi ini kami gelar agar para barista memiliki ruang untuk belajar, berkompetisi, dan saling bertukar pengalaman. Kami juga ingin mengangkat kualitas kopi Papua agar semakin dikenal luas,” ujarnya.
Ia menjelaskan, persiapan kegiatan dilakukan lebih dari satu bulan.
Tantangan terbesar panitia adalah menyelaraskan jadwal tiga orang juri, terdiri atas satu juri dari Jayapura dan dua juri dari Timika.
Salah seorang peserta, Andre, mengaku memperoleh banyak pengalaman meski belum berhasil meraih juara.
Baginya, mengikuti kompetisi menjadi kesempatan untuk menambah wawasan sekaligus memperluas relasi dengan sesama pecinta kopi.
“Meski belum menang, saya mendapat banyak ilmu dan teman baru. Meracik kopi secara manual membutuhkan ketelitian, mulai dari takaran kopi, suhu air, hingga teknik penyeduhan,” katanya.
Syahrul berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin dengan dukungan lebih luas, termasuk dari pemerintah dan berbagai pihak, sehingga ke depan dapat berkembang menjadi festival kopi berskala lebih besar yang melibatkan peserta dari berbagai daerah.
“Harapan kami, ajang seperti ini terus berlanjut dan menjadi momentum untuk memperkenalkan kopi Papua sekaligus melahirkan barista-barista berkualitas dari Timika,” tuturnya.
Melalui kompetisi ini, Kopi Mulo tidak hanya menghadirkan ruang kompetisi, tetapi juga memperkuat kebersamaan komunitas barista dan pecinta kopi di Timika, sekaligus menjadi sarana promosi potensi kopi Papua yang memiliki kualitas dan daya saing di tingkat nasional. (*)














Tinggalkan Balasan