SIMBIOSIS – Marselino F. Paepadaseda,  Kepala Loka POM Mimika saat menyerahkan bingkisan secara simbolis kepada peserta kegiatan di Hotel Horison Ultima Timika pada Kamis (25/7). (FOTO: ELISA/TIMEX)

TIMIKAEXPRESS.id – Sebanyak 35 apoteker dari berbagai apotik dan Fasilitas Kesehatan (Faskes),mengikuti sosialisasi program ‘Masyarakat Cerdas dan Teliti Gunakan Antibiotik’ dengan akronim ‘Mace Teti’.

Kegiatan yang diinisiasi pihak Loka Pengawasan Obat dan Makanan (POM)  Kabupaten Mimika digelar di Hotel Horison Ultima Timika pada Kamis (25/7).

Marselino F. Paepadaseda, Kepala Loka POM Mimika pada kesempatan itu mengatakan,  sosialisasi program Mace Teti ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, khususnya para penanggung jawab pada sarana pelayanan kefarmasian, baik di klinik dan apotek milik pemerintah maupun swasta.

“Sosialisasi ‘Mace Teti’ supaya kita mampu menekan terjadinya resistensi antibiotik, yang merupakan pembunuh senyap (silent killer),” ujarnya.

Dikatakannya, bila terjadi resistensi dapat  mengakibatkan adanya kenaikan dari penggunaan dosis terapi yang dipakai, termasuk penambahan biaya pengobatan dengan menggunakan antibiotik pastinya dengan jumlah yang jauh lebih mahal,” sebutnya.

Untuk itu, melalui sosialisasi ini, pihaknya berusaha agar penyaluran antibiotik itu sesuai dengan  peraturan perundangan-undangan, dimana hanya dapat disalurkan dengan mengacu pada resep dokter.

Adapun beberapa produk antibiotik yang disosialisasikan melalui media komunikasi, video edukasi, ini dibuat dengan kalimat sederhana agar mudah dipahami atau gampang dimengerti.

Sementara itu, pemberian stiker adalah media komunikasi yang akan digunakan agar dapat dipajang atau ditempel pada sarana-prasarana pelayanan kefarmasian, dengan maksud  agar para penanggung jawab apotek maupun klinik dapat mengetahui akan bahaya dengan tidak lagi mendistribusikan antibiotik secara bebas.

“Termasuk pemberian buku saku adalah sebagai panduan bagi puluhan apoteker dalam melaksanakan kegiatan serta dapat mengantisipasi terjadinya resistensi antibiotik,” ucapnya.

Diharapnya pula, melalui kegiatan ini, penjualan antibiotik secara bebas tanpa resep dokter itu bisa ditekan bahkan dihindari.

Selain itu, para petugas yang ada di sarana  pelayanan kefarmasian, bisa melakukan pengawasan secara mandiri terkait dengan peredaran antibiotik yang didistribusikan secara bebas.

Disamping itu, melalui sosialisasi ini, para petugas, khususnya apoteker yang ada di sarana kefarmasian bisa melakukan pengawasan secara mandiri terkait peredaran antibiotik. (kay)