FOTO: GREN/TIMEX

RAPAT – Kepala Distrik Mimika Timur, Oktovianus Kum saat memimpin rapat koordinasi bersama pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) dan Puskesmas Mapurujaya, Sabtu (8/6).

TIMIKAEXPRESS.id – Sebanyak 243 anak dari lima kampung dan 1 kelurahan di Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua Tengah terkonfirmasi menderita stunting (gagal tumbuh pada anak).

Angka tersebut merupakan data kumulatif periode Januari-Mei 2024.

Onna Bunga, Kepala Puskesmas Mapurujaya mengatakan, 243 anak stunting diketahui berdasarkan jumlah balita yang diukur dan ditimbang sebanyak 1.092 anak dari jumlah sasaran yang ditentukan Dinas Kesehatan (Dinkes)  Mimika sebanyak 1.194 anak.

“Prevalensi stunting periode Januari–Mei 2024 mengalami penurunan yaitu 22,2% jika dibandingkan dengan prevalensi stunting triwulan 1 Tahun 2023 mencapai 24,5%,” jelasnya.

Untuk terus menekan angka stunting, Pemerintah Distrik Mimika Timur intens menggelar pertemuan kolaborasi bersama Tim Percepatan Penanganan Stunting (TPPS). 

Pertemuan kaloborasi pada Sabtu (8/6) digelar di DJ Resto Jalan Budi Utomo Ujung yang dipimpin langsung Kepala Distrik Mimika Timur Oktovianus Kum dan dihadiri Kepala Puskesmas Mapurujaya, Onna Bunga dan perwakilan DP3AP2KB Mimika, Jhoe Yeuyanan serta pegawai dan perawat dari Puskesmas Mapurujaya.

Dalam rapat tersebut diagendakan pelaksanaan aksi serentak konferensi percepatan penurunan stunting dalam kegiatan “Ayo ke Posyandu” pada akhir Juni 2024 bersama pihak Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) dan pihak Puskesmas Mapurujaya.

Oktovianus Kum mengatakan pertemuan bersama pihak DP3AP2KB dan Puskesmas Mapurujaya guna menekan angka stunting di Distrik Mimika Timur.

Pasalnya, jumlah anak stunting di Distrik Mimika Timur itu diketahui dari hasil giat Posyandu setiap bulan di  Kampung Mware, Tipuka, Kaugapu, Hiripau dan Kampung Poumako serta Kelurahan Wania.

Sementara itu, Onna Bunga, menambahkan kolaborasi ini sangat penting dalam menekan angka stunting, sebab selama ini belum ada koordinasi yang baik antara pihak Puskesmas dengan aparatur pemerintah kampong di wilayah setempat.

“Yang punya masyarakat adalah pemerintah kampung, sehingga diharapkan dengan adanya kolaborasi yang baik, ke depan angka stunting di Distirk Mimika Timur bisa diminimalisir bahkan diatasi,” harapnya.

Ia pun berharap kerja sama dengan pihak DP3AP2KB, pemerintah kampung, baik kepala kampung, para kader termasuk ibu-ibu TP-PKK di Distrik Mimika Timur harus intens dan solid.

Pasalnya, mengacu SK Tahun 2022 terkait TPPS, penanganan stunting harus dimulai dari pemerintah distrik, Puskesmas hingga menyasar ke kampung-kampung.

“Dari pertemuan kolaborasi ini, kita bisa tahu alur dan fungsi masing-masing dalam wewenang tugas dan tanggung jawab untuk menurunkan angka stunting di Mimika Timur,” tandasnya.

Sementara itu, Jhoe Yeuyanan, perwakilan dari DP3AP2KB Mimika mengatakan pihaknya telah memiliki tim sekretariat percepatan penurunan stunting, sehingga pertemuan kolaborasi yang dilakukan pihak Distrik Mimika Timur sangat diapresiasi.

“Yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah aksi serentak “Ayo Ke Posyandu”. Dengan adanya Posyandu akan ada semua pelayanan mulai dari calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca persalinan, KB, bayi, Baduta dan lainnya guna menekan angka stunting di Mimika Timur,” jelasnya.

Dijelaskannya, data tahun 2023 lalu, penurunan stunting hanya mencapai 0,1%, sedangkan target secara nasional untuk penurunan angka stunting harus mencapai 14%.

“Jadi, melalui aksi serentak ‘Ayo ke Posyandu’ secara nasional, ini dapat menekan dan menurunkan angka stunting, termasuk di Mimika,” ujarnya. (glt)