DIRESMIKAN – Bupati Paniai Yan Pit Nawipa meresmikan Monumen Tokoh Besar Karel Gobai di halaman Kantor Distrik Paniai Timur, Senin (29/6/2026). Monumen tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian Karel Gobai dalam bidang pendidikan, pemerintahan, dan pembangunan masyarakat Paniai. (FOTO:ISTIMEWA)

XPANIAI, timikaexpress.id – Di halaman Kantor Distrik Paniai Timur kini berdiri sebuah monumen yang bukan sekadar bangunan batu dan perunggu.

Monumen itu menjadi penanda perjalanan panjang seorang putra asli Papua yang mengabdikan hidupnya bagi pendidikan, pemerintahan, dan pembangunan masyarakat Paniai.

Pemerintah Kabupaten Paniai, Senin (29/6/2026), meresmikan Monumen Tokoh Besar Karel Gobai sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian salah satu tokoh penting dalam sejarah Kabupaten Paniai.

Peresmian dilakukan langsung oleh Bupati Paniai, Yan Pit Nawipa, serta dihadiri unsur Forkopimda, DPRD, TNI-Polri, tokoh adat, tokoh agama, keluarga besar Karel Gobai, dan masyarakat.

Bagi banyak masyarakat Paniai, nama Karel Gobai bukan sekadar bagian dari catatan sejarah.

Ia merupakan sosok yang tumbuh bersama perubahan zaman, ketika Papua masih berada dalam masa transisi pemerintahan dan membutuhkan figur-figur lokal yang mampu menjembatani kepentingan masyarakat dengan pemerintah.

Lahir di Kagupagu, Paniai, pada 3 Januari 1928 dengan nama Temotipiya Gobai, ia menempuh pendidikan di Sekolah Alkitab Makassar pada 1946–1950.

Sekembalinya ke tanah kelahirannya, Gobai menjadi salah satu guru Alkitab pertama dari kalangan Orang Asli Papua.

Perannya tidak hanya terbatas pada pelayanan keagamaan.

Melalui pendidikan, ia ikut memberantas buta huruf, mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga berperan dalam penerjemahan bahan pembelajaran dan kitab keagamaan ke dalam bahasa Mee agar lebih mudah dipahami masyarakat.

Kontribusi tersebut kemudian membawanya memasuki dunia pemerintahan.

Pada 1961, Karel Gobai dipercaya menjadi anggota New Guinea Raad, lembaga perwakilan rakyat pada masa pemerintahan Belanda di Papua.

Setelah integrasi Papua ke Indonesia, kiprahnya terus berlanjut sebagai Wakil Bupati Paniai, kemudian dipercaya menjabat Bupati Paniai, hingga menjadi anggota DPRD Kabupaten Paniai.

Rangkaian perjalanan itu menjadikan Karel Gobai sebagai salah satu pelopor kepemimpinan Orang Asli Papua yang turut meletakkan fondasi pemerintahan modern di wilayah Paniai.

Dalam sambutannya, Bupati Yan Pit Nawipa menegaskan bahwa pembangunan monumen tersebut bukan sekadar mengenang seorang tokoh, tetapi menjadi upaya menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah daerah.

Menurutnya, pembangunan sebuah daerah tidak hanya ditentukan oleh infrastruktur, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menghargai sejarah serta tokoh-tokoh yang telah memberikan teladan.

Monumen ini diharapkan menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar mengenal perjalanan para pendahulu yang membangun Paniai melalui pendidikan, pelayanan, dan kepemimpinan.

Dalam kajian sejarah, monumen memiliki fungsi lebih dari sekadar penanda fisik.

Monumen merupakan media pelestarian memori kolektif (collective memory), penguatan identitas daerah, sekaligus sarana pendidikan publik agar masyarakat tidak kehilangan jejak sejarahnya.

Keberadaan Monumen Karel Gobai diharapkan menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah selalu lahir dari kerja keras, keberanian, dan pengabdian para tokoh terdahulu.

Momentum peresmian ini juga menghidupkan kembali pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, bahwa “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.”

Bagi Pemerintah Kabupaten Paniai, penghormatan kepada Karel Gobai bukan hanya bentuk apresiasi terhadap masa lalu, tetapi juga investasi nilai bagi masa depan.

Semangat kepemimpinan, integritas, dan pengabdian yang diwariskannya diharapkan terus menginspirasi generasi muda untuk melanjutkan pembangunan Paniai yang maju, bermartabat, dan berkeadilan. (*)