LOKAKARYA – Suasana interaksi dengan narasumber via zoom saat lokakarya Pendidikan Dasar dan Menengah yang digelar Keuskupan Timika pada hari kedua, Rabu (15/4/2026) di Hotel Swissbelinn Timika. (FOTO:YUDITH/TIMEX)
TIMIKA, timikaexpress.id – Lokakarya Pendidikan Dasar dan Menengah yang digelar Keuskupan Timika menekankan perlunya perubahan sistemik dalam dunia pendidikan di Papua.
Salah satu sorotan utama datang dari akademisi Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Jayapura, Dr. Albertus Heriyanto.
Dalam pemaparannya di Hotel Swiss-Belinn Timika, Rabu (15/4/2026), Albertus menilai pendidikan di Papua saat ini tengah mengalami krisis jati diri karena semakin terlepas dari akar budaya lokal dan realitas sosial masyarakat.
“Sekolah kerap terasa asing bagi peserta didik karena tidak berangkat dari konteks budaya mereka sendiri,” ujarnya.
Menurut dia, pendidikan tidak seharusnya hanya berorientasi pada pencapaian administratif atau sekadar memperoleh ijazah, melainkan harus menjadi bagian dari gerakan kebudayaan yang membentuk karakter dan identitas.
Ia juga menyoroti pergeseran peran guru yang dinilai lebih banyak disibukkan dengan administrasi, sehingga mengurangi relasi emosional dan kultural dengan siswa.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Albertus menawarkan lima poin penting sebagai arah perubahan sistemik pendidikan di Papua.
Pertama, penguatan pengetahuan lokal dengan mendorong penggunaan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada jenjang awal pendidikan, serta memanfaatkan alam sebagai ruang belajar.
Kedua, reformasi peran guru menjadi lebih dari sekadar pengajar, tetapi juga sebagai “intelektual kampung” dan aktor kebudayaan.
Ketiga, menjadikan sekolah sebagai ruang rekonsiliasi yang aman dan inklusif, terutama di wilayah yang terdampak konflik.
Keempat, pengembangan kurikulum kontekstual yang mengintegrasikan kearifan lokal secara menyeluruh.
Kelima, memperkuat sinergi antara Gereja, pemerintah, dan otoritas adat dalam pengelolaan pendidikan.
Sementara itu, akademisi lain, Dr. Bernardus Renwarin, menyoroti persoalan kemiskinan di Papua yang dinilai tidak semata disebabkan faktor geografis atau budaya, melainkan juga dipengaruhi sistem global yang bersifat eksploitatif.
Ia menekankan pentingnya pendidikan dalam membentuk kesadaran kritis generasi muda agar mampu memahami realitas tersebut dan tidak hanya menjadi penonton di tengah potensi sumber daya alam yang melimpah.
Lokakarya ini diharapkan menjadi momentum untuk menata ulang arah pendidikan di Papua, dengan menempatkan budaya lokal sebagai fondasi utama dalam membangun generasi yang berkarakter, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. (*)















Tinggalkan Balasan