TIMIKAEXPRESS.id – Di bawah langit Timika yang muram, ratusan warga Papua mengantar Kelly Kulalok Kwalik ke peristirahatan terakhirnya di Timika Indah, Selasa siang (22/12/2009).
Tujuh hari setelah tubuhnya tertembus peluru, sosok yang oleh rakyat Papua disebut Tuan Jenderal Kelly Kwalik terbujur kaku dalam peti mati, meninggalkan duka mendalam, dan pertanyaan panjang tentang Papua.
Siapakah Kelly Kwalik bagi rakyat Papua? Mengapa namanya begitu lekat dalam ingatan kolektif? Dan apa makna kepergiannya bagi masa depan tanah ini?
Pertanyaan-pertanyaan itu menggema dalam misa pemakaman yang dipimpin Uskup Keuskupan Timika, Mgr. John Philip Saklil, Pr (almarhum).
Di hadapan jenazah, Uskup menyampaikan sebuah kesaksian yang kemudian menjadi penanda ingatan.
“Dia (Kelly) memperjuangkan kemiskinan di tengah hutan bersama dinginnya udara, bukan di hotel-hotel berbintang.”
Kelly Kwalik lahir di Lembah Jila, Timika, pada 1955.
Tanggal dan bulan kelahirannya tak pernah tercatat.
Ia berasal dari Suku Amungme, masyarakat pegunungan yang hidup berdampingan dengan wilayah operasi tambang emas dan tembaga PT Freeport Indonesia.
Sejak muda, Kelly menyaksikan sendiri peristiwa demi peristiwa kekerasan, penggusuran, dan ketidakadilan yang menimpa warganya.
Masa kecilnya dijalani seperti anak Papua lainnya.
Ia bersekolah di Akimuga, lalu melanjutkan ke Kokonao, sebelum akhirnya menamatkan pendidikan di Sekolah Guru Bawah (SGB) Taruna Bakti Wamena pada 1974.
Ia sempat mengabdi sebagai guru di Agimuka selama setahun sebuah fase singkat sebelum hidupnya sepenuhnya berbelok ke jalan perlawanan.
Desember 1976 menjadi titik balik. Kelly bergabung dengan Markas Besar Victoria Waris dan sejak itu hidup berpindah dari satu rimba ke rimba lain.
Ia berjalan berbulan-bulan melintasi Wamena, Ilaga, hingga kembali ke tanah Amungsa.
Dari sana, ia dilantik sebagai Wakil Panglima KODAP III, lalu menjabat Panglima KODAP III (1980–2007), hingga akhirnya menjadi Panglima TPN-PB/OPM.
Operasi militer besar pada 1977 di wilayah Amungme dan Pegunungan Tengah meninggalkan luka mendalam.
Kelly menyaksikan warga mengungsi, kelaparan, dan meninggal akibat keterbatasan makanan serta obat-obatan.
Pengalaman itu mengeraskan sikapnya.
Ia memimpin aksi perlawanan terbuka, termasuk pemotongan pipa aliran tembaga Freeport, dan bahkan pernah melayangkan surat resmi kepada pimpinan militer Indonesia untuk menentukan lokasi dan waktu perang demi menghindari korban sipil. Surat itu tak direspons.
Nama Kelly Kwalik dikenal luas secara nasional dan internasional setelah penyanderaan Tim Ekspedisi Lorentz ’95 di Mapenduma (1996).
Peristiwa itu menjadi panggung global bagi isu Papua.
Kesaksian para sandera yang kemudian dibukukan justru menggambarkan Kelly bukan hanya sebagai figur keras, tetapi juga manusia dengan sisi humor, wibawa, dan kompleksitas personal.
Sejak itu, Kelly menjadi target utama operasi militer.
Ia dituduh berada di balik sejumlah peristiwa penembakan di wilayah tambang Freeport.
Beberapa tuduhan dibantahnya, bahkan sebagian pernyataan resmi aparat kala itu menyebutkan ia bukan pelaku.
Namun, namanya tetap melekat dalam pusaran konflik bersenjata Papua.
Hingga akhirnya, Rabu dini hari, 16 Desember 2009, Kelly Kwalik tewas tertembak dalam sebuah penyergapan.
Saat itu, kondisi kesehatannya lemah dan ia tengah menjalani pengobatan.
Ia berada di rumah warga, bersama sejumlah sipil termasuk seorang perempuan hamil.
Kepergiannya, di ambang perayaan Natal, menjadi lonceng duka bagi rakyat Papua.
Dalam homilinya, Uskup Philip Saklil menyebut Kelly sebagai sosok yang selama lebih dari 30 tahun konsisten melawan ketidakadilan dan perampasan hak-hak orang Papua.
Bagi banyak orang Papua, kematian Kelly Kwalik bukan sekadar akhir seorang tokoh, tetapi kembalinya memoria passionis ingatan penderitaan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebelum wafat, Kelly pernah menitipkan sebuah doa.
Doa tentang kelelahan, pengorbanan, dan harapan akan keadilan di tanah leluhur.
Sebuah doa yang hingga kini masih bergema, mengiringi langkah Papua mencari jalan damai.
Selamat jalan Tuan Jenderal.
Tinggallah dalam damai.
(Ditulis oleh Basilius Triharyanto Claudius)







Tinggalkan Balasan