KOMPETISI RESCUE – Personel Tim Rescue PT Freeport Indonesia Kamoro mengikuti tantangan Fire Rescue Combat Fighting pada ajang IFRC ke-8 Tahun 2026 di Mimika Sport Complex, Mimika, Papua Tengah, Jumat (30/10/2026). (FOTO: IST/PTFI)
MIMIKA, timikaexpress.id – Tim Rescue PT Freeport Indonesia (PTFI) Kamoro berhasil meraih posisi pertama dalam kompetisi Fire Rescue Combat Fighting pada ajang Indonesian Fire & Rescue Competition (IFRC) ke-8 Tahun 2026.
Kamoro Tim mencatatkan waktu tercepat, yakni 7 menit 57 detik, mengungguli 16 tim lainnya dari perusahaan energi dan pertambangan di Indonesia.
Kompetisi yang berlangsung di Mimika Sport Complex (MSC) dan Venue Panjat Tebing, Jumat (30/10/2026), menguji kekuatan fisik, kelincahan, kecepatan, serta daya tahan personel dalam menyelesaikan serangkaian tantangan secara estafet.
Posisi kedua diraih PT Vale Indonesia dengan catatan waktu 8 menit 40 detik, disusul PT Adaro Indonesia di posisi ketiga dengan waktu 8 menit 52 detik.
“Catatan waktu tersebut menunjukkan kebugaran fisik yang prima, sebagai hasil dari latihan teratur, disiplin, termasuk menjaga waktu istirahat dan pola makan yang sehat,” kata Wiyono Minarno, Ketua Komite Teknik Kompetisi IFRC 2026.
Panitia menetapkan enam tim terbaik berdasarkan catatan waktu penyelesaian seluruh tantangan.
Selain Kamoro Tim, posisi keempat diraih PT Pamapersada Nusantara (PAMA) dengan waktu 8 menit 57 detik, posisi kelima PT Ganda Alam Makmur (GAM) dengan waktu 9 menit 8 detik, dan posisi keenam PTFI Amungme Tim dengan waktu 10 menit 25 detik.
Sebanyak 11 tim lainnya yang turut berkompetisi berasal dari PT ANTAM Tbk, PT Borneo Indobara, PT Bumi Suksesindo, PT Merdeka Battery Materials, PT Batutua Kharisma Permai, PT Nusa Halmahera Minerals, PT Hengjaya Mineralindo, PT Kideco Jaya Agung, PT Indomuro Kencana, PT Kalimantan Prima Persada, dan PT Indonesia Asahan Aluminium.
Tim-tim tersebut belum berhasil masuk enam besar. Sementara itu, PT Nusa Halmahera Minerals dinyatakan Did Not Finish (DNF) karena tidak menyelesaikan tantangan Tyre Flip.
Dalam kompetisi ini, setiap tim terdiri atas delapan personel yang harus menyelesaikan sejumlah rintangan secara estafet.
Setiap anggota bertanggung jawab menuntaskan satu tantangan sebelum menyerahkan giliran kepada anggota berikutnya.
Rangkaian kompetisi dimulai dengan berlari sejauh kurang lebih 500 meter dari MSC menuju Venue Panjat Tebing.
Setibanya di lokasi, peserta menghadapi sejumlah rintangan, antara lain monkey bar atau bergelantungan pada palang, cat crawl atau merangkak, swing rope, dan spider net.
Tantangan berlanjut dengan ascending-descending, yakni menaiki dan menuruni dinding panjat tebing.
Setelah menyelesaikan rangkaian tersebut, peserta kembali menuju MSC.
Pada sesi berikutnya, personel ketiga menghadapi tantangan Keiser Sled, yakni menggeser blok besi baja seberat 200 kilogram menggunakan palu besar.
Selanjutnya, personel keempat menjalani tantangan Hose Advance dengan menyemprotkan air menggunakan selang pemadam ke arah material hingga terjatuh.
Estafet dilanjutkan personel kelima melalui tantangan Tyre Flip, yaitu mengangkat dan membalikkan ban dengan berat lebih dari 150 kilogram.
Personel keenam kemudian berlari melintasi balok titian, sedangkan personel ketujuh membawa hose pack seberat sekitar 10 kilogram menuju anggota tim berikutnya.
Pada tantangan terakhir, personel kedelapan harus menarik manekin (dummy) seberat 85 kilogram sejauh 30 meter menuju garis finis. Rangkaian kompetisi dinyatakan selesai setelah peserta menekan tombol penanda finis.
Menurut Wiyono, setiap rintangan dirancang untuk mengukur kemampuan fisik peserta secara menyeluruh.
Penggunaan beban dalam sejumlah tantangan juga menjadi bagian dari simulasi untuk menguji kekuatan dan daya tahan personel.
Penilaian lebih menitikberatkan pada kemampuan peserta menyelesaikan seluruh rintangan dengan benar sesuai ketentuan dalam waktu tercepat.
Melalui nomor ini, kemampuan fisik dan koordinasi antarpersonel dalam menjalankan tugas secara estafet dapat diuji.
Manager Tim Amungme dan Kamoro, Purnomo, mengatakan secara umum penampilan kedua tim PTFI cukup baik.
Keduanya mampu menyelesaikan seluruh rangkaian tantangan tanpa melewati batas waktu yang ditentukan.
Meski demikian, pengembangan kompetensi dan sertifikasi khusus personel masih menjadi perhatian ke depan.
Salah satunya adalah kemampuan underwater rescue atau penyelamatan di dalam air yang membutuhkan lisensi dan kompetensi khusus.
“Sertifikasi tersebut harus diperoleh melalui lembaga eksternal, bukan melalui pelatihan internal perusahaan. Karena itu, pengembangan kompetensi dan sertifikasi personel masih menjadi perhatian ke depan,” kata Purnomo.
Sementara itu, Ketua Panitia IFRC 2026, Periyadi, mengatakan kompetisi ini menjadi sarana penerapan standar sekaligus pembelajaran dalam bidang penyelamatan (rescue), tidak hanya bagi industri pertambangan, tetapi juga sektor lainnya.
“Kami ingin mendorong penyamaan standar penyelamatan tambang Indonesia dengan praktik internasional,” ujarnya.
IFRC ke-8 Tahun 2026 berlangsung selama delapan hari di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, dan terbuka untuk disaksikan masyarakat umum.
Ajang ini mempertemukan 17 tim dari 16 perusahaan energi dan pertambangan sebagai wadah berbagi pengetahuan, menguji kompetensi, serta meningkatkan kesiapsiagaan tim tanggap darurat dalam menghadapi berbagai situasi kedaruratan. (Maurits Sadipun)









Tinggalkan Balasan