PELUNCURAN — Kepala Distrik Kwamki Narama membuka kegiatan Pembelajaran Mendalam SMPN 9 Mimika Tahun Ajaran 2026/2027 yang ditandai dengan menerbangkan balon berisi tulisan cita-cita para siswa. (FOTO: IST/TIMEX)
MIMIKA, timikaexpress.id — Belajar tidak selalu harus berakhir dengan hafalan dan nilai di atas kertas.
Di SMPN 9 Kwamki Narama, Mimika, siswa mulai diarahkan untuk memahami apa yang dipelajari, menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari, sekaligus menikmati proses belajar.
Pendekatan tersebut ditandai dengan peluncuran Pembelajaran Mendalam sekaligus penandatanganan komitmen bersama untuk tahun ajaran 2026/2027.
Kegiatan ini melibatkan pemerintah distrik, sekolah, orang tua murid, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, komite sekolah, serta Dinas Pendidikan.
Peluncuran dibuka Kepala Distrik Kwamki Narama Edwin Hanuebi dengan menerbangkan balon yang telah ditulisi cita-cita oleh para siswa.
Balon-balon tersebut dilepaskan ke udara sebagai simbol harapan dan cita-cita anak-anak terhadap masa depan mereka.
Bagi SMPN 9 Mimika, Pembelajaran Mendalam bukan pendekatan yang sepenuhnya baru.
Sekolah telah mulai menerapkannya sejak tahun ajaran sebelumnya, meski pelaksanaannya ketika itu masih terbatas dalam proses pembelajaran di kelas.
Memasuki tahun ajaran 2026/2027, penerapan diperluas secara utuh dan dituangkan dalam Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) yang disusun secara bersama-sama.
Tidak Sekadar Menghafal
Kepala SMPN 9 Mimika, Martha Welma Benamen, S.Pd., mengatakan, penerapan Pembelajaran Mendalam merupakan bagian dari upaya sekolah mengikuti perkembangan pendidikan nasional sekaligus menjalankan program utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurutnya, perubahan pendekatan diperlukan agar pendidikan tidak hanya berorientasi pada hasil akhir, tetapi juga pada proses siswa memahami materi dan menggunakannya dalam kehidupan.
Pembelajaran Mendalam menekankan pemahaman konsep secara menyeluruh dan kontekstual.
Siswa tidak hanya menghafal fakta atau mengejar nilai, tetapi diajak memahami hubungan antara materi yang dipelajari dengan lingkungan dan kehidupan mereka.
Pendekatan tersebut dibangun melalui tiga prinsip, yakni pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
Penerapannya juga tidak hanya berlangsung melalui kegiatan belajar di dalam kelas.
Dalam kurikulum sekolah terdapat tiga komponen utama, yakni intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Salah satu kegiatan kokurikuler yang dilakukan siswa adalah penanaman lahan bersama.
Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga belajar melalui pengalaman langsung, termasuk mengenal lingkungan dan memahami pentingnya merawat serta memanfaatkan lahan.
Guru dan Lingkungan Ikut Disiapkan
Penerapan Pembelajaran Mendalam turut didukung peningkatan kapasitas guru.
Kepala sekolah bersama empat guru SMPN 9 Mimika telah mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam yang diselenggarakan Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Papua.
Selain itu, para guru juga mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal sekolah untuk menerapkan pendekatan Pembelajaran Mendalam secara lebih menyeluruh.
Namun, keberhasilan pembelajaran tidak hanya bergantung pada guru dan sekolah.
Orang tua dan masyarakat juga memiliki peran penting agar pengetahuan yang diperoleh siswa di ruang kelas dapat terhubung dengan kehidupan mereka di rumah dan lingkungan sekitar.
Karena itu, penandatanganan komitmen bersama melibatkan berbagai unsur masyarakat.
“Pemerintah distrik, orang tua, komite sekolah, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, dan unsur pemerintah diharapkan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan,” ujarnya.
Bagi SMPN 9 Mimika, lanjut Martha, penerapan Pembelajaran Mendalam secara utuh menjadi upaya menjadikan sekolah bukan sekadar tempat menerima pelajaran, tetapi ruang bagi siswa untuk memahami, mengalami, dan menemukan makna dari proses belajar.
Cita-cita yang dituliskan siswa pada balon dan diterbangkan ke udara menjadi bagian kecil dari harapan tersebut.
Bahwa pendidikan pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak materi yang mampu diingat, tetapi bagaimana pengetahuan itu dipahami dan menjadi bekal anak-anak untuk menjalani kehidupan. (via)








Tinggalkan Balasan