MIMIKA, timikaexpress.id – Di sebuah bangunan permanen di Jalan Leo Mamiri, Timika, suara peserta kursus bergantian melafalkan kosakata bahasa Inggris memecah keheningan sore.
Di ruang sebelahnya, denting papan ketik (keyboard) komputer terdengar bersahut-sahutan.
Bagi sebagian peserta, inilah kali pertama mereka menyentuh komputer.
Bagi yang lain, ini juga pertama kalinya mereka berani berbicara dalam bahasa Inggris.
Ruang belajar itu bukan pula milik lembaga pendidikan besar.
Ia lahir dari kegelisahan tiga anak muda Papua yang percaya bahwa masa depan generasi tidak boleh ditentukan oleh keterbatasan akses pendidikan.
“Selamat sore…,”ungkap Maico Gobay mengejutkan peserta program Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Yayasan Honai Peduli Cerdas (YPHC) pada Senin (20/7/2026).
Suara balasan atas salam itu terdengar pelan. Sebagian membalas ‘selamat sore’, tapi ada yang ragu membalas dengan Bahasa Inggris ‘good afternoon’.
Sayangnya ada peserta salah melafalkan salam dalam bahasa asing ituhingga memancing tawa teman-temannya.
Namun tidak ada yang ditertawakan terlalu lama.
Maico Gobay segera memperbaiki pengucapan mereka.
Di sudut ruangan, beberapa peserta tampak membuka buku catatan yang mulai dipenuhi coretan kosakata baru.
Lainnya mengangguk pelan sambil mengulang pelafalan yang benar. Tidak ada rasa malu.
Kesalahan justru menjadi bagian dari proses belajar yang terus mereka rayakan bersama.
Tidak banyak yang menyangka, ruang belajar tersebut lahir dari mimpi tiga anak muda Papua, meski hanya lulusan sekolah menengah, tanpa ijazah perguruan tinggi.
Justru dari pengalaman hidup itulah mereka memahami satu kenyataan yang selama ini dialami banyak anak Papua, bahwa kesempatan belajar sering kali berhenti bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena tidak tersedia akses.
Kesadaran itulah yang mendorong Elly Dolame, Maico Gobay, dan Gilberth Faith mendirikan Amungsa Foundation English School (AFES) pada Mei 2022.
Meski hanya berbekal ijazah SMA, dari tangan dingin ketiganya, AFES kemudian berkembang menjadi Yayasan Honai Peduli Cerdas (YHPC).
Mereka tidak sedang membangun sekolah baru.
Mereka sedang berusaha menutup ruang kosong yang selama ini belum banyak disentuh pendidikan formal dengan spirit ‘PADUPA – Papua Dukung Papua’.
Pendidikan yang Belum Menjangkau Semua
Di Papua, tantangan pendidikan tidak hanya berbicara tentang ruang kelas atau jumlah guru.
Persoalan berikutnya muncul ketika lulusan SMA memasuki perguruan tinggi atau dunia kerja.
Kemampuan komputer, bahasa Inggris, hingga literasi digital menjadi prasyarat baru yang belum sepenuhnya dimiliki banyak anak muda dari wilayah pedalaman maupun pesisir.
Kesenjangan itu semakin terasa ketika mereka harus bersaing dengan lulusan dari daerah lain yang sejak sekolah telah akrab dengan teknologi digital maupun bahasa asing.
Tidak sedikit mahasiswa asal Papua yang mengaku mengalami gegar budaya (culture shock) akademik karena tuntutan pembelajaran berbasis komputer dan internet.
“Ini fakta, tapi kami melihat banyak anak Papua sebenarnya pintar. Mereka hanya tidak diberi atau mendapatkan kesempatan belajar,” kata Maico Gobay.
Berawal dari Rumah Kost
Ketika AFES pertama kali berdiri, proses belajar mengajar berlangsung sangat sederhana dan serba terbatas.
Lantaran belum memiliki legalitas resmi, sehingga lembaga yang didirikan hanya sebatas melayani privat.
Karena belum ada ruang kelas permanen. Belum tersedia komputer yang memadai.
Kegiatan belajar hanya memanfaatkan sebuah rumah kost di Jalan Malcon, Timika Indah.
Di ruang sederhana itu, anak-anak Papua mulai mengenal komputer dan belajar mengucapkan kosa kata bahasa Inggris untuk pertama kalinya.
Mereka dilatih secara sukarela, dan tidak dipungut biaya.
Elly Dolame, Maico Gobay, dan Gilberth Faith tidak patah semangat dengan keterbatasan finansial maupun sarana-prasarana yang dimiliki.
Mereka terus berjuang demi mengabdikan diri untuk anak-anak Papua, maupun masyarakat Mimika umumnya.
“Waktu awal kami buka AFES, itu pesertanya tidak hanya berasal dari Kota Timika, tapi ada beberapa yang datang dari wilayah pegunungan seperti Jila dan pesisir Mimika,” sambung Elly Dolame.
Menurutnya, AFES tidak pernah dimaksudkan menggantikan sekolah formal.
Lembaga ini hadir untuk mengisi kekosongan layanan pendidikan keterampilan yang selama ini sulit dijangkau masyarakat di pedalaman dan pesisir Mimika.
Peserta yang dilatih tidak hanya SD, SMP dan SMA, tetapi juga mahasiswa, pekerja, bahkan masyarakat umum.
Rumah kos di Jalan Malcon menjadi simbol bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari ruang kelas yang lengkap.
Rumah kos itu hanya memiliki beberapa kursi plastik dan sebuah papan tulis.
Saat hujan turun, suara air di atap seng sering lebih keras daripada suara tutor.
Namun dari ruang sederhana itulah, puluhan anak Papua mulai mengenal komputer dan bahasa Inggris.
Buah keuletan untuk mengembangkan kemampuan putra-putri perlahan mulai terwujud.
Perkembangan AFES menjadi YHPC setelah mendapat arahan serta dukungan dana dari penjabat Gubernur Papua Tengah waktu itu, Dr. Ribka Haluk.
Pada pertengahan 2023, melalui dukungan APBD Provinsi Papua Tengah, YHPC mendapat bantuan pembangunan gedung dan fasilitas belajar lengkap.
Di atas lahan milik pribadi, di Jalan Leo Mamiri, Elly, Maico dan Gilberth mulai membangun gedung menggunakan jasa tukang.
Kurang lebih 2 bulan, akhirnya berdiri tiga ruangan sebelah-menyebelah, yaitu sekretariat, ruang pelatihan Bahasa Inggris dan pelatihan komputer lengkap dengan meubeler dan terpasang 10 unit komputer.
Menyusul dibangun pos jaga di sisi kiri, tepat di pintu masuk LKP YHPC.
Mengapresiasi dukungan penuh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah, di kusen pintu masuk ruangan pelatihan komputer terpampang nama Dr. Ribka Haluk.
Sejak saat itu proses belajar berpindah ke gedung baru yang memiliki tiga ruang kelas dan sepuluh unit komputer.
Fasilitas tersebut kini digunakan untuk pelatihan bahasa Inggris dan komputer bagi masyarakat.
Lebih 100 Peserta Telah Dilatih
Sejak berdiri hingga kini, sudah lebih 100 peserta, khususnya putra-putri asli Papua dilatih.
“Waktu awal Mei 2022 sampai akhir 2023 itu kita kasih privat sekitar 52 peserta. Setelah kantongi legalitas resmi, mulai angkatan pertama tahun 2024 sampai dengan angkatan ke-IV periode Januari-Juni 2026, YHPC sudah lulusakan dan sertifikasi 58 peserta, kata Maico.
Menurut Maico, sewaktu AFES kemudian berkembang menjadi YHPC, peserta program terbanyak adalah kursus komputer.
“Ini kebanyakan karyawan asli Papua karena tuntutan di dunia usaha atau tempat kerjanya,” tambah Maico.
Saat ini, pihak YPHC kembali membuka pendaftaran peserta angkatan ke-V periode Agustus 2026 sampai Januari 2027.
Sejalan dengan visi ‘Karena masa depanmu sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18), maka YPHC memberikan kuota khusus bagi putra-putri Papua di setiap periodisasi pelatihan.
Dengan misi “Mengembangkan karakter dan semangat belajar putra-putri asli Papua”.
“Seperti peserta angkatan ke-IV periode lalu, kami berikan kuota khusus untuk 10 peserta asli Papua tanpa dipungut biaya. Ini sudah jadi komitmen kami bertiga sejak awal untuk dukung putra-putri asli Papua,” ujarnya.
Maico pun mengaku kalau jumlah peserta dan lulusan YHPC belum banyak.
Namun bagi mereka selaku pendiri, setiap peserta maupun alumni YPHC merupakan investasi masa depan Papua.
“Ibaratnya kita bangun rumah, fondasinya harus kokoh. Begitu juga dengan generasi muda Papua. Mereka harus dipersiapkan sejak awal agar memiliki bekal sebelum melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja,” timpal Elly.
Mengajar Tanpa Berharap Sejahtera
Hampir seluruh tutor datang bukan karena besarnya honor.
Sebagian bahkan tetap mengajar setelah menyelesaikan pekerjaan utama mereka.
Ada yang mengajar pada malam hari, ada pula yang tetap bertahan meski transportasi menuju lokasi belajar harus ditanggung sendiri.
“Kami percaya, kalau generasi Papua maju, kami juga ikut maju, karena itu sesama anak asli Papua harus saling mendukung seperti akronim Padupa,” timpal Gilbert Faith.
Sementara Elly Dolame mengaku para tutor sepakat bahwa tantangan terbesar bukan mengajarkan grammar atau Microsoft Excel.
“Banyak peserta sebenarnya pintar. Saat pertama masuk kelas mereka hampir tidak berani berbicara. Tetapi setelah beberapa bulan, mereka mulai berani presentasi di depan teman-temannya. Itu kebanggaan tersendiri bagi kami,” akunya.
Sedangkan Gilbert Faith mengatakan mengajar di YHPC membuatnya memahami bahwa pendidikan bukan hanya memindahkan ilmu, tetapi juga memulihkan kepercayaan diri generasi muda Papua.
“Kalau mereka mulai percaya bahwa mereka mampu, proses belajarnya menjadi jauh lebih cepat,” terangnya.
Kalimat seperti ini lebih hidup dan telah menjadi komitmen Elly, Maico dan Gilberth, dibanding sekadar menyebut daftar nama.
Banyak orang mengira YHPC hanya mengajarkan bahasa Inggris dan komputer.
Padahal yang dibangun sesungguhnya adalah kepercayaan diri.
Karena itu setiap keberanian mengangkat tangan di kelas, setiap presentasi sederhana di depan teman-temannya, dianggap sebagai keberhasilan kecil yang layak diapresiasi.
Kehadiran YHPC memperlihatkan bahwa pendidikan nonformal memiliki ruang yang semakin penting di Papua.
Ketika sekolah formal belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan keterampilan praktis, lembaga kursus menjadi pelengkap yang menyiapkan generasi muda menghadapi dunia pendidikan tinggi maupun pasar kerja.
Kesaksian Peserta
Perubahan itu dirasakan Hena Gobai.
Siswi SMA Negeri 7 Mimika itu mengaku semula tidak pernah menyentuh komputer.
Mengetik saja masih menggunakan dua jari, apalagi bicara Bahasa Inggris, itu tidak pernah terbayang olehnya.
Ketika diminta memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris, Hena Gobai sempat menunduk. Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Dulu saya takut kalau diminta maju ke depan kelas. Sekarang saya mulai berani berbicara dalam bahasa Inggris walaupun masih sederhana. Saya percaya suatu hari bisa menjadi guru,” kata Hena sambil tersenyum.
Selama enam bulan mengikuti pelatihan, Hena mengaku memperoleh banyak perubahan positif.
Kemampuannya terus berkembang sehingga membuatnya lebih percaya diri (PD).
Kini putri sulung mama Naomi Gobai, mampu menyusun dokumen, hingga fasih berbahasa Inggris.
Orang Tua Melihat Perubahan
Perubahan bukan hanya dirasakan peserta.
Orang tua mulai melihat anak-anak mereka lebih percaya diri.
Sem Bukaleng mengaku itulah alasan ia mempercayakan anaknya belajar di YHPC.
“Yang berubah bukan hanya kemampuan bahasa Inggrisnya. Cara berbicara, kedisiplinan, dan semangat belajarnya juga meningkat,” ujarnya.
Bagi Sem Bukaleng, perubahan anaknya terlihat sejak beberapa minggu pertama mengikuti pelatihan.
Di rumah, Salmon mulai membuka laptop lebih sering, berlatih mengetik, dan mencoba menghafal kosakata bahasa Inggris yang baru dipelajari.
“Kami orang tua mungkin tidak bisa memberikan semuanya. Tapi kalau ada tempat yang mau mendidik anak-anak Papua dengan sungguh-sungguh, kami pasti mendukung,” kata Sem, ayah dari Salmon, peserta pelatihan angkatan III pada Desember 2025.
Tantangan yang Belum Selesai
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat Timika. Satu per satu peserta menutup komputer, merapikan buku, lalu menyalami para tutor sebelum pulang.
Di ruang yang tak begitu besar itu, tak ada pendingin ruangan, tak ada laboratorium modern, apalagi fasilitas mewah seperti sekolah-sekolah besar.
Namun di tempat sederhana itulah, tiga anak muda Papua sedang melakukan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar mengajar bahasa Inggris dan komputer.
Mereka sedang menanam keberanian, menumbuhkan rasa percaya diri, dan membuka jalan agar lebih banyak anak Papua berani bermimpi.
Berawal dari sebuah rumah kos kecil di Timika Indah, Elly Dolame, Maico Gobay, dan Gilberth Faith membuktikan bahwa perubahan tidak selalu dimulai oleh mereka yang bergelar tinggi.
Kadang, perubahan justru lahir dari orang-orang yang memilih kembali kepada komunitasnya, berbagi ilmu, dan memastikan tak ada lagi anak Papua yang kehilangan masa depan hanya karena tidak memperoleh kesempatan belajar.
Terobosan YPHC menjadi cerminan kondisi pendidikan formal maupun nonformal di Mimika yang harus terus didorong sehingga berdampak pada peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Berdasarkan data BPS Kabupaten Mimika, IPM meningkat dari 76,85 pada 2024 menjadi 77,50 pada 2025.
Meski demikian, peningkatan kualitas pendidikan dan penguasaan keterampilan praktis masih menjadi pekerjaan rumah dalam menyiapkan sumber daya manusia Papua menghadapi persaingan dunia kerja.
Untuk terus mendorong IPM Mimika, maka Elly, Maico dan Gilbert berharap adanya dukungan, terlebih kerja sama dengan Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK), juga pemerintah setempat.
Ini dimaksudkan agar putra-putri asli Papua, secara khusus dua suku besar di Mimika, Amungme dan Kamoro, serta lima suku kekerabatan lainnya, dapat dipersiapkan kemampuan komputer dan berbahasa Inggris sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan lebin tinggi, juga masuk bursa kerja.
Kehadiran YHPC menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan berhenti membangun pendidikan.
Di tengah tantangan akses pendidikan, keterbatasan guru, dan minimnya pelatihan keterampilan, inisiatif masyarakat seperti yang dilakoni trio Papua ini menjadi pelengkap penting bagi pendidikan formal di Mimika-Papua. (Maurits Sadipun)














Tinggalkan Balasan